Rabu, 04 Juli 2018

IN MEMORIAM : "MENGENANG SAHABAT YANG TELAH KEMBALI"

Waktu terus berlalu dan tak akan menoleh pada masa lalu. Dia berputar ke depan dan tak akan mundur ke belakang. Terus berjalan mengelilingi masa yang terus beredar, detik, jam, hari, minggu, bulan dan akhirnya berganti tahun.
Beberapa tahun engkau telah meninggalkan kami, dan engkau tak lagi hadir dalam keriuhan dan tertawa kami. Engkau telah tenang dalam pangkuan Sang Khalik. Kami disini masih berjibaku mengejar waktu dan tak tahu sampai mana batas waktu kami yang masih tersisa lagi.

Engkau tak ada disini sahabat, karena engkau telah berpulang lebih dahulu

Sahabat, engkau tak hadir dalam bingkai foto kami karena aku tahu kita tak lagi di alam yang sama. Engkau pergi meninggalkan kami lebih dahulu untuk memenuhi janji yang telah terpatri sebelum kita muncul di dunia fana ini.
Sahabat, aku bersyukur masih mendengar cerita - ceritamu sebelum kepergianmu, mendengarkan kebahagiaanmu kala mengenang masa - masa kita menempuh pendidikan dulu di kampus yang sama. Betapa bahagianya engkau sabahat di tengah rasa sakitmu kala engkau mengingat kekonyolan - kekonyolan yang kita lakukan di masa itu.
Aku menatapmu dan aku menaruh harap pada saat itu, akan segera diangkatnya rasa sakitmu. Dan  engkau boleh beraktifitas sebagaimana aktifnya engkau pada masa itu sperti yang aku tahu Sahabatku.

Sahabat, masa telah tertulis sebelum kita dihembuskan nyawa. Bahwa kita sudah berjanji dengan Sang Khalik kapan kita lahir, kapan ada pertemuan, perpisahan dan akhirnya sang kematian yang akan menjemput kita.

Sahabat, mungkin aku diberi masa lebih lama dari engkau di dunia fana ini. Tapi aku yakin pada saatnya aku pasti menyusul di ruang abadi yang aku tak tahu bila dia akan datang menjemputku. Tapi itu adalah kepastian yang mutlak Sahabat.

Aku selalu mengingat kebaikan - kebaikanmu wahai Sahabat dan aku hanya dapat mengirimkan sebait AL - FATIHA untukmu Sahabatku yang telah pulang kepada Sang Khalik lebih dahulu.
Sahabat, engkau tidak akan kesunyian karena kami yakin dan pasti semuanya akan menyusulmu, biarlah waktu dan hanya Sang Khalik yang maha tahu kapan kami menyusul di alam yang sama.

Pada saatnya kami akan menjadi kisah masa lalu

Sahabat, semoga engkau tenang disana dan senantiasa khusnul khatimah.

Minggu, 10 Juni 2018

SELAMAT TINGGAL YM!

17 Juli 2018, aplikasi YM atau Yahoo Messenger tutup dan tidak melayani para penggunanya. Aplikasi pelopor chat yang sangat populer pada era awal - awal 2000-an akhirnya harus menyerah dengan makin maraknya aplikasi chat yang lebih lengkap fitur - fiturnya untuk kebutuhan manusia zaman sekarang.


Sedih juga sich,  aku termasuk orang konvensional di media social dan pengguna setia YM sampai saat ini untuk chat dengan teman - temanku. YM telah menemaniku diawal - awal aku mengenal dan menggunakan internet. Masih ingat di awal - awal tahun 2000-an, begitu ketemu dengan pengguna internet biasanya langsung nanya apa nama nick name kita di YM.

Sekarang tinggal menunggu waktu saja hanya hitungan beberapa hari lagi. Akhirnya tak ada pilihan lain, aku harus menggunakan aplikasi yang selama ini tak kugunakan karena keputusan dari Managemen YAHOO!.
Selamat tinggal YM, yang telah pernah membawaku jauh berselancar di dunia maya.


Kamis, 07 Juni 2018

RAMADHAN KALI INI 1439 H - 2018

Hari ini tanggal 08 Juni 2018 Ramadhan telah memasuki hari yang  23, tak terasa sudah menjelang detik - detik terakhir. Ramadhan yang panas, tapi untungnya kami mampu menjalani hingga detik ini dengan penuh tanpa pernah tertinggal. Ramadhan kali ini tanpa kehadiran Bapakku karena telah berpulang ke pangkuan ILLAHI ROBBI di 08 - 08 - 2017, semoga khusnul khotimah dan ditempatkan di tempat yang terbaik disisi ALLAH ya Pak, Amien.

Ramadhan yang penuh berkah dan berlimpah pahala, semoga kita dapat menjalankan dengan penuh hikmah dan jauh dari rasa riya. Ramadhan kali ini kami sambut dengan suka cita walaupun dengan penuh sederhana. Tiada hal - hal yang berlebih dan aku menjalani beberapa tahun terakhir dengan lebih bermakna. Tiada lagi kegiatan acara dan undangan berbuka puasa bersama dari rekan - rekan atau kolega yang aku hadiri dan itu sudah aku laksanakan beberapa tahun terakhir. Aku ingin menikmati indahnya menunggu adzan maghrib dengan keluarga kecilku saja. Bukan untuk memutuskan silahturahim tetapi mencoba untuk memaknai Ramadhan tanpa hura - hura saja. Tiada hal lain. Semoga Ramadhan kali ini membawa berkah bagi diriku, keluarga kecilku terutama, keluarga besarku dan untuk seluruh rekan dan kaum muslimin dan muslimat.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1439 Hijriyah, semoga amal ibadah kita diterima disisi ALLAH SWT. Amien


 Salam Ramadhan.



 

Minggu, 13 Mei 2018

SEJENAK DI STESEN BUKIT BADAK

Perjalanan yang tidak disengaja sebenarnya di stasiun kereta, di bulan April 2016. Sore itu perjalanan dari KL Sentral dengan KTM menuju ke Port Klang. Menaiki komuter yang menemani perjalanan kami saat itu. Aku sangat yakin bahwa KTM yang kami tumpangi saat itu akan membawa kami ke pemberhentian terakhir yaitu Pelabuhan Klang, tapi ternyata hanya sampai di Stesen Klang saja. KTM beralih arah untuk menuju ke KL Sentral kembali dan dengan beberapa warga setempat yang tujuan akhir ke Port Klang ikut kembali ke perjalanan ke KL Sentral. Aku tidak risau karena KTM sekitar 15- 30 menit selalu datang kembali.



Stesen Bukit Badak

Stesen Bukit Badak merupakan stasiun kecil saja, tidak banyak aktifitas penumpang yang naik turun di stasiun ini. Aku pikir Bukit Badak tidak merupakan kawasan perkotaan dan kawasan perdagangan sehingga tidak terlalu banyak yang naik turun disini, berbeda dengan stasiun Klang.
Menunggu kereta tujuan Port Klang aku sempatkan mengabadikan dan menyaksikan beberapa kegiatan sore di stasiun Bukit Badak.  Aku lihat banyak pekerja konstruksi yang sudah menjelang pulang setelah beraktifitas seharian. Beberapa mobil parkir di depan stasiun, mungkin milik masyarakat sini yang bekerja di Kuala Lumpur yang pulang pergi naik kereta api selanjutnya dari stasiun ini ke rumahnya baru menggunakan mobilnya ( orang Malaysia menyebut mobil dengan kata "kereta", orang Medan menyebut kendaraan roda dua juga dengan "kereta" ).

Stasiun ini sunyi dan jika keluar dari stasiun ini tidak aku jumpai orang berjualan di sekitar stasiun atau sekedar kedai kopi saja pun tak ada. Hanya sekedar counter kecil saja untuk penjualan tiket kereta api.

suasana stasiun kereta Bukit Badak di sore hari tidak ramai bahkan boleh dikatakan sunyi
 Kami harus menyebarang jembatan untuk menunggu kereta api tujuan Port Klang, karena kalau tidak menyebrang maka kereta dari Port Klang tujuan KL Sentral nanti yang akan lalu. Menyebragi jembatan seperti yang terlihat difoto. Dan selama kami menunggu kereta api dari KL Sentral hanya ada 1 penumpang saja dari Bukit Badak yang naik untuk tujuan Klang ataupun Klang. Padahal jika aku perhatikan saat sore aktifitas naik turun penumpang dari KL Sentral cukup padat. Mungkin karena Bukit Badak, Klang dan Port Klang termasuk stasiun pemberhentian yang boleh dikatakan di ujung sehingga penumpang tinggal sedikit, Banyak yang sudah turun sesuai dengan tujuan dan rumah masing masing di stasiun sebelumnya. Kawasan menunggu kereta termasuk lebar di sisa kiri - kanan badan jalan kereta api, yang telah di buat lantai paving block yang permanen. Dan di sisi perbatasan dengan kawasan pemukiman dipagar besi di sepanjang jalan perlintasan kereta api.

Sore itu langit biru di sekitar Stesen Bukit Badak, matahari bersinar cerah dikala sore yang menjelang. Aku menikmati sore yang biru di Bukit Badak, yang mungkin tidak akan dikunjungi oleh pelancong mananpun dari Indonesia. Sore yang cerah di Stesen Bukit Badak.

langit benar - benar bersahabat di sore itu
dengan latar jembatan penyeberangan

suasana sunyi di Stesen Bukit Badak

menyempatkan bercengkerama sebelum kereta api datang
mengantuk   
hanya ada seorang penumpang lain saja

Sore yang yang cerah namun sepi di Stesen Bukit Badak, entah kapan lagi aku akan menyinggahimu.

Jumat, 04 Mei 2018

PAGI YANG SEPI DI MENARA PANDANG TELE

Minggu di bulan Agustus 2015, aku dan keluargaku jalan - jalan ke Parapat, Danau Toba. Rute kali ini yang kami lalui tidak melalui rute P. Siantar namun rute melalui Tanah Karo. Malam hari kami bergerak dari Kota Medan. Menembus kegelapan malam, banyak dihabiskan tidur di dalam bus. Gelap dan sunyi yang kurasakan, namun cuaca sangat bersahabat, karena tidak turun hujan. Hanya saat itu Medan dan Sumatera sedang diselimuti kabut asap yang tebal. Kabut asap yang benar - benar menutupi langit biru Sumatera

Danau toba yang diselimuti kabut asap dari Menara Pandang Tele
Perjalanan kami sempatkan mengunjungi pemandian air panas Sidebuk - Debuk, tapi aku tidak turun dan tidak meniatkan untuk sekedar berendam di air panas belerang, saat itu aku tidak tertarik. Karena akan meninggalkan aroma belerang yang menyengat yang tertinggal di badan sementara perjalanan yang akan dituju masih panjang. Sekitar pukul 01.30 kami meninggalkan pemandian air panas Sidebuk - Debuk Tanah Karo. Yang aku perhatikan makin malam menjelang makin banyak pengunjung yang berdatangan, mungkin untuk menghangatkan badan di tengah kedinginan udara Tanah Karo yang menusuk kulit.

Perjalanan kami lanjutkan tujuan utama sebenarnya ke Danau Toba Parapat melalui Desa Silalahi, tapi aku sarankan melalui Merek dan Tele karena aku penasaran dengan keindahan Tele yang sangat populer bagi penggemar fotograpi. Perjalanan dilanjutkan di tengah kesunyian malam dan dinginnya udara Tanah Karo yang menyengat di malam hari menjelang pagi. Sempat mengisi BBM di POM Bensin di Merek - Sidikalang dan istirahat sejenak dengan suasana mata yang masih terkantuk - kantuk dan untuk menunaikan sholat Subuh.

Lanjut perjalanan menuju Jalan Sidikalang, suasana yang kami lewati perladangan kopi dan kebun sayuran yang terhampar luas dan juga peternakan kuda  yang dibiarkan bebas lepas di lapangan yang menghijau. 
Selanjutnya kami membelokkan bus kami sesuai petunjuk jalan di arah Dolok Sanggul. Perjalanan sepanjang jalan yang sunyi dengan pemandangan hamparan tanah pertanian. Ladang - ladang kentang yang menjelang panen, kubis dan sayuran dataran tinggi lainnya. Pagi yang dingin dan berkabut. Melewati Desa Parbuluan sedang dilakukan perbaikan jalan dan pagi sudah menjelang dengan angin yang berselimut kabut. Aku tidak tahu apakah ini kabut asap atau kabut biasa yang menyelimuti daerah dataran tinggi.

pagi di Desa Parbuluan masih diselimuti kabut dengan perladangan disisi kanan kiri jalan


Pagi di desa Parbuluan, sedang dalam proses perbaikan dan pengaspalan jalan
Sepanjang jalan dari Medan yang mulus sempat terputus di Desa Parbuluan Kabupaten Dairi yang sedap dalam perbaikan jalan dan dalam proses pengaspalan, namun pada saat kami melintasi dalam keadaan pemadatan material. Untung saja cuaca tidak hujan sehingga kami tidak melintasi jalanan yang akan berlumpur. Perjalanan kami saat ini melalui beberapa Kota dan Kabupaten. Sampai di Parbuluan yang telah kami lalui Kota Medan, Kabuaten Deli Serdang, Kabupaten Tanah Karo dan Kabupaten Dairi serta memasuki Kabupaten Toba Samosir. Pagi yang sepi di sepanjang perjalanan belum kami temui bus atau kendaraan yang melintas dan berpapasan dengan kami. Benar - benar suasana sunyi dan syahdu, ditambah lagi dengan langit yang tertutup awan kelabu dan kabut asap pekat yang masih menyelimuti bumi Toba. Perjalanan kami lanjutkan lagi dengan sedikit guncangan disana - sini karena sedang ada perbaikan jalan.

Pagi menjelang dan perjalanan kami tidak hanya melewati perladangan dan perkebunan saja, tapi suasana perkampungan sudah mulai hidup. Di pagi ini aku menyaksikan anak - anak meramai - ramai menuju ke gereja untuk melakukan kebaktian minggu, menyaksikan keceriaan untuk melaksanakan perintah Tuhan sesuai dengan keyakinan yang dianut. Serta menyaksikan mereka menikmati sarapan pagi sebelum melakukan kebaktian dengan makan mie gomak yang ramai dijual di sekitar halaman gereja. Hampir suasana yang sama aku lihat pemandangan anak - anak yang antusias ke gereja dan bersarapan pagi dengan nikmat dan suka cita.

Perjalanan kami lanjutkan dan sampai di Simpang Tele kami berhenti sebentar untuk membeli makanan ringan. Aku sempatkan membeli ombus - ombus dan lapet yang merupakan kue tradisional khas Toba disini. Menikmati ombus - ombus dan lapet hangat yang masih mengepulkan asap benar - benar nikmat. Lapet disini sangat khas dibungkus dengan daun bambu. Aroma dan kehangatannya menggungah selera. Kubeli beberapa dan kunikmati, kubagikan dengan anggota keluarga yang lainnya namun karena masih mengantuk jadi mereka kurang berselera.

Dari Simpang Tele perjalanan menuju Menara Pandang Tele sebenarnya tidak jauh lagi, namun jalan yang dilalui benar - benar membutuhkan keahlian pengemudi yang handal. Jalan yang berkelok - kelok, diatasnya perbukitan dan di bawah jurang - jurang, kadang - kadang ditemui tanah yang longsor dari atas perbukitan. Untung saja cuaca hari itu tidak hujan sehingga jalan yang dilalui tidak licin. Sepanjang perjalanan aku dapat menyaksikan Danau Toba yang terbentang indah hanya disayangkan kabut asap yang tebal sehingga mengurangi keindahan walaupun sebenarnya d ibulan itu lagi musim kemarau, namun pembakaran hutan yang eksplosif menyebabkan kabut asap menyelimuti langit dan kawasan Sumatera sehingga menggangu keindahan Tele dan danau Toba juga mengganggu kesehatan kita tentunya.

Perkampungan di sekitar Tele dari Menara Pandang Tele kala pagi hari yang tertutup kabut asap tebal

kawasan danau Toba dari Menara Pandang Tele

Kabut asap mengurangi keindahan Danau Toba dari Menara Pandang Tele
Sampailah kami di Menara Pandang Tele, menara yang terdiri dari 4 tingkat yang dibangun oleh Pemerintah Daerah Samosir. Tele terletak di Kabupaten Samosir. Dari Menara Pandang Tele kita dapat melihat dari kejauhan air terjun Sidohoni dan juga desa - desa dan persawahan yang terbentang di sekitar bumi Samosir.

Tele pagi itu yang aku nikmati sangat sunyi, hanya rombongan kami yang melintasi Menara Pandang Tele pada saat itu. Lalu lintas dan armada yang lalu lalang masih minum, benar - benar sunyi dan sepi. Aku naik ke Menara Pandang Tele dengan anakku yang dikenakan tarif hanya Rp. 2000 untuk naik ke Menara Pandang Tele, tarif yang sangat murah untuk dapat menikmati keindahan Danau Toba dari menara tertinggi. Sampai di atas dengan menaiki anak tangga terasa disambut semilir angin pagi bumi Samosir. Sepanjang penglihatan, jalanan dari Tele ke Pangururan sangat sepi, armada belum ada yang melintas. Benar - benar pagi yang sepi di Tele. Beberapa bule aku lihat disini dengan mengendarai sepeda sepertinya tujuan mereka ke Pangururan dan dilanjutkan ke Samosir.

Perjalanan kami masih akan lanjut lagi karena tujuan kami adalah Samosir dan Parapat. Selamat tinggal Tele aku benar - benar menikmati kesunyianmu.

Foto - foto di sekitar Menara Pandang Tele Kabupaten Samosir

di lantai IV Menara Pandang Tele

perbukitan yang diselimuti kabut asap

di atas Menera Pandang Tele

di depan tugu prasasti Menara Pandang Tele

istriku di tugu prasasti Menara Pandang Tele

foto keluarga besar di depan Menara Pandang Tele

suasana jalan lalu lintas yang sunyi di Tele

Tele yang sunyi, masih rombongan kami yang berkunjung saat itu

pagi di desa Parbuluan

Rabu, 25 April 2018

MENYUSURI JALANAN KOTA MEDAN KALA LONG WEEK END

Long week end telah tiba, ramai orang merencanakan perjalanan ke luar kota dan tempat - tempat wisata. Tapi tidak untukku, hanya di rumah dan tidak ada rencana kemana - mana. Bosan di rumah dan junior sibuk ngajak keluar akhirnya kami keluar rumah juga, tidak untuk kemana - mana, hanya menyusuri Kota Medan kala long week end .

Suasana Jalan Adam Malik yang lenggang saat long week end
Keluar rumah bertiga, aku, istri dan anakku dan ditemani SI UDUD yang selalu setia menemani setiap perjalanan kami. Jalanan kota Medan dari rumah kami dan sepanjang jalan sunyi dan lenggang. Medan banyak ditinggal oleh penghuninya yang mencari penghiburan keluar kota.
Aku menikmati saat sepi ini yang sangat jarang aku dapatkan kalau lagi tidak ada long week end. Kota yang padat dan lalu lintas yang semrawut dengan suara klakson yang tidak henti - hentinya.

Perjalanan yang benar - benar aku nikmati di setiap jalan - jalan kota Medan yang kami lalui, tanpa mendengar suara klakson dan  rasa kuatir untuk disalip dengan angkutan kota yang biasanya disetir oleh supirnya yang ugal - ugalan.
Medan benar - benar bersahabat saat itu. Jalanan yang bersih tanpa banyak sampah yang memunculkan diri. Mobil - mobil dan sepeda motor sedikit yang melintas walaupun saat itu berada di pusat kota. 
Lenggang yang kurasakan. Sepeda motor terus kupacu dengan kecepatan yang lambat. Aku ingin menikmati saat - saat seperti ini, moment yang sangat jarang bisa kunikmati. Kepadatan transportasi di Medan sekarang memang sudah luar biasa, apalagi pada jam - jam sibuk. Ditambah lagi dengan sikap dan cara mengemudi kendaraan yang kurang tertib. Sepertinya ini menjadi budaya disini. Kemacetan terjadi karena budaya tertib lalu lintas yang buruk dan ingin menang sendiri. EGOIS memang, ini yang sering menjadi sumber utama kemacetan.

Aku lanjutkan perjalanan menyusuri Kota Medan, nyaris semuanya sunyi jalanan yang kami lalui. Entah kapan lagi aku mendapatkan moment - moment seperti ini lagi. Perjalanan menyusuri jalan - jalan Kota Medan kami sempatkan singgah dan menikmati mie pecal jualan ibu - ibu dengan sepeda di Taman Ahmad Yani. Setelah itu kami lanjutkan menikmati kelenggangan dan kesunyian Kota Medan yang langka. Suatu Momen yang indah.

Jalan Adam Malik yang sunyi

Bundaran air mancur Bank Mandiri,persimpangan  Jl. Imam Bonjol, Jl. Letjend Suprapto, Jl. Sudirman, Jl. Agus Salim juga sunyi
Persimpangan Sekolah Immanuel juga lenggang

suasana lenggang Kota Medan

hanya beberapa kendaraan yang lalu lalang

sunyi

sunyi

Jl. Sudirman simpang Jl. Walikota juga sunyi

Jl. Sudirman simpang Jl. Diponegoro yang juga lenggang

Kota Medan yang sunyi dari hiruk pikuk lalu lintas kendaraan

traffic light di depan rumah dinas Walikota Medan

Kawasan Jl. Zainul Arifin

Jl. Zainul Arifin yang lebih lenggang dari biasanya

Merdeka Walk dari Jl. Raden Saleh, yang mulai ramai dengan kendaraan

Lapangan Merdeka dari Jl. Zainul Arifin
suasana lenggang di depan Kantor Pos Besar Kota Medan

Senin, 23 April 2018

SARIBU DOLOK - SIMALUNGUN

Perjalanan di bulan Juli 2017 yang akhirnya menjejakkan kakiku di Saribu Dolok, bukan perjalanan yang direncanakan hanya perjalanan persinggahan belaka. Perjalanan yang semula direncanakan ke Air Terjun Sipiso - piso namun gagal karena ongkos becak yang gak masuk akal, terasa tertipu jadi daripada hati kesal mending dibatalkan saja.

Saribu Dolok merupakan salah satu kota kecamatan di Kabupaten Simalungun. Tak banyak yang aku ketahui tentang kota kecil ini, yang aku tahu setiap hari Rabu selalu ada pekanan di kota ini. Pada saat perjalananku di hari kamis aku tidak menyaksikan adanya aktifitas pekanan di kota ini. Suasana kota yang sunyi dan lalu lintas yang juga sepi.

suasana kota Saribu Dolok yang masih ramai toko bertingkat dengan bangunan kayu
Rasa sunyi yang aku rasakan dan aktifitas yang lenggang di kota ini, mayoritas penduduknya dari suku Simalungun dan beragama Kristen. Aku menyaksikan kedai - kedai lama bertingkat dengan bahan bangunan dari kayu. Masih aku nikmati bangunan lama yang belum diubah, sementara di Medan semua bangunan toko sudah beton dan tidak ada lagi bangunan kayu. Kota ini cukup sejuk dan dingin apalagi sudah berada di atas ketinggian 700 meter dari permukaan laut. Sepanjang perjalanan dari Kaban Jahe menuju Saribu Dolok aku temui perladangan sayuran dan jeruk, kopi dan pisang. Ladang - ladang pertanian yang menemani sepanjang perjalananku dan rumah penduduk yang berjarak jauh satu dengan yang lain. Dalam perjalananku singgah di Saribu Dolok sempat terjadi musibah kecil di perjalanan tadi.Dimana bus yang aku tumpangi ditabrak oleh mobil lainnya, sempat terjadi percekcokan kecil antara supir bus dan mobil tersebut, namun tidak terlalu lama dan berujung damai, Alhamdulillah. Aku menaiki bus umum Sepadan dari Desa Merek Situnggaling - Karo untuk menuju ke P. Siantar. Karena penumpang yang sedikit jadi bus harus ngetem untuk mencari sewa di Pekan Saribu Dolok namun beberapa menit ditunggu tak ada jua sewa bertambah. Dan karena hari ini hari biasa dan tak ada perayaan hari besar maka suasana yang didapati adalah suasana yang lenggang.

Mampir ke Saribu Dolok aku sempatkan untuk menikmati kota kecil ini walau hanya sekedar turun dari bus beberapa menit saja. Menikmati dengan mendokumentasikan kota kecil ini. Rasa kota yang sepi pada siang hari dan mungkin lebih sunyi lagi jika pada malam hari.

deretan kedai - kedai kayu dengan latar belakang gunung, Saribu Dolok 2017
 Suasana yang sunyi, ditambah lagi dengan langit yang berawan semakin menambah kelengangan kota ini. Mungkin bila Rabu telah tiba akan merubah menjadi hiruk pikuk pasar yang ramai dimana penduduk dari desa - desa di sekitar Kecamatan Seribu Dolok akan turun ke Saribu Dolok untuk menjual hasil bumi dan membeli keperluan sehari - hari untuk menjadi bekal selama sepekan sebelum pekanan Rabu berikutnya akan datang. Tidak banyak aku lihat aktifitas perdagangan disini. Kedai - kedai kayu banyak yang tutup dan kesunyian yang aku rasakan. Mungkin untuk melepaskan kepenatan dari hiruk pikuk keramaian kota sangat bagus di kota ini, namun tidak aku jumpai penginapan atau losmen di tempat ini. Lagi pula siapa yang mau liburan di tempat ini bagi anak muda zaman sekrang. Mungkin hanya aku saja yang menyukai suasana sunyi dan  nuansa masa lalu, tidak untuk kids zaman now. Entahlah.

Aku asyik mengambil beberapa gambar sekitar Kota Saribu Dolok dan oleh penduduk setempat disarankan untuk mengambil ke arah gunung. Gambar yang aku dapatkan memang kelam, karena cuaca yang mendung dan langit yang berawan tebal. Agaknya malam akan turun hujan. Entahlah, tadi perjalanan kami dari Kaban Jahe sempat turun rinai hujan sebentar mengikuti perjalanan kami.
Saribu Dolok, tak banyak yang dapat aku ceritakan karena aku juga tidak memiliki kenangan tentangmu.

Beberapa dokumen yang dapat disimpan sebagai memori tentangmu Saribu Dolok di tahun 2017.

Deretan kedai - kedai kayu bertingkat yang masih mendominasi

Beberapa becak di belakang sebagai transportasi antar desa


bergaya sejenak di halte pemberhentian

bus yang kami tumpangi dari Kaban Jahe