Aku ingin melanjutkan tulisanku tentang Museum sejarah dan Museum Etnografy di Kota atau Bandar Bersejarah Melaka, gedung atau museum yang paling besar di kawasan Stadthuys atau Bangunan Merah di Melaka. Memasuki Museum ini kita akan menaiki tangga dan di lantai 2 selanjutnya kita akan menemui kounter loket. Saat aku mengunjungi di Oktober 2026 harga tiket masuk sebesar RM 10 ( sekitar Rp. 38.500,- dengan kurs saat itu RM 1 = Rp. 3.850,- )
Anak dan istriku serta keponakanku tidak berkenan ku ajak untuk menjelajah museum ini. Mereka sepertinya punya agenda lain untuk eksplor di sekitar Kota Melaka. Aku memasuki museum ini sudah sore, sekitar Pukul 5 sore Waktu Indonesia Barat atau pukul 6 waktu Malaysia. Namun beruntungnya museum ini beroperasi sampai malam hari atau sekitar pukul 10 malam kalau tidak silaf aku dapat informasinya. Kalau pada kunjungan kami sebelumnya di tahun 2016, museum ini pukul 6 sore sudah tutup.
Mulailah perjalananku untuk menjelajah museum ini, setelah membayar tiket dan dilayani oleh pegawai museum yang ramah aku pun masuk ke dalam museum ini. Awal masuk museum aku disambut dengan Sejarah Kesultanan Melaka dan peralatan perang pada masa itu.
![]() |
| Kaunter Tiket |
Kondisi museum sangat bersih dan rapi. Lantai museum sepertinya dari kayu dan ada juga dari ubin. Museum ini berada di lantai 2 ( dua ). Begitu kita memasuki museum ini kita di sambut dengan meriam - meriam sisa - sisa peperangan pada masa itu.
![]() |
| Meriam yang menyambut kedatangan pengunjung di Museum Sejarah |
Banyak terdapat benda - benda bersejarah Melaka yang dipajangkan di Museum Sejarah ini. Di ruang pertama kunjungan kita sudah disajikan aneka benda - benda bersejarah peninggalan masa lampau.
Di sisi kanan pintu masuk, gedung ini di lengkapi dengan jendela - jendela yang tingginya menjulang yang berfungsi sebagai ventilasi agar gedung ini tidak terasa panas dan sirkulasi udara berganti secara terus menerus. Kita pasti tahu, masyarakat Eropah yang berhawa dingin tentunya kurang nyaman dengan kondisi Melaka yang beriklim tropis sehingga semua bangunan yang di bangun pada masa itu memiliki jendela - jendela yang sangat banyak dan bangunan yang tinggi menjulang dari atapnya agar panas matahari bisa dimodifikasi sehingga ruangan tidak terlalu panas. Saat itu belum dikenal adanya AC dan kipas angin ( fan )
![]() |
| Sisi saping kiri Gedung Museum Sejarah & Etnograpy |
![]() |
| Memotret suasana dari tangga yang akan menuju Museum sejarah |
![]() |
| Melaka di sore hari masih juga terasa terik matahari |
![]() |
| Dari sini kita dapat mengabadikan foto dengan latar belakang Christ Church Melaka |
![]() |
| Tangga yang berundak - undak di sisi samping kiri Gedung Museum Sejarah & Etnografy |
Aku akan melanjutnkan tulisan tentang Museum Sejarah dan Etnografy di Part III nantinya, karena aku akan melanjutkan pekerjaanku.
Salam hormat kami










Tidak ada komentar:
Posting Komentar