Jumat, 18 September 2026

MUSEUM ETNOGRAFY DAN SEJARAH MELAKA ( III )

Melanjutkan perjalanan tentang Museum Etnografy dan Museum Sejarah di Melaka salah satu dari sekian banyak ikon untuk turis yang wajib dikunjungi, kali ini aku akan meneruskan tulisanku ini. Begitu kita masuk ke ruang utama kita akan disambut dengan sejarah kota Melaka dengan sejarah Kesultanan dan juga peristiwa - peristiwa peperangan dan ketika kolonial datang menguasai Melaka 
 

 
 
Banyak diorama yang disajikan di sini, bukan hanya tentang penjajahan dan juga tentang kisah kisah para Sultan dan Panglima - Panglima yang sangat populer atau terkenal seperti Hang Tuah, Hang Jebat dan lain - lainnya.
Masuklah terus ke museum dan eksplorasi lah terus maka akan kita temui tentang kisah Melaka di masa lampau.
 
 
 












Itu sebagian diorama serta peninggalan - peninggalan sejarah masa lampau Melaka dan akan banyak lagi tentang kisah dan sejarah Melaka. 
Waktu sudah menjelang Maghrib namun aku belum merasa puas untuk menjelajah museum ini, rasanya harus 1 ( satu ) hari penuh bila ingin menjelajahi museum ini.
 
Ada banyak kisah dan cerita yang tersaji di museum ini. Juga tentang kehidupan masyarakat Melaka di masa dahulu 
Sejarah panjang tentang Kesultanan Melaka dan sejarah tentang masuknya kolonial Portugis, Inggris dan Belanda juga tentang penemuan Melaka awal mula oleh Pasukan Raja Parameswara dari Kerajaan Sriwijaya .
 
Memasuki museum ini kita seperti kembali ke masa lampau dan kita berada di kehidupan lampau Melaka.
Kepingan kepingan foto foto berikut semoga bisa sedikit menceritakan tentang Museum Etnografi dan Museum Sejarah di Kawasan Stadhuys - Melaka














 
 Mari ke Melaka...............
 negeri yang selalu ngangeni 
 

Kamis, 02 Juli 2026

MUSEUM ETNOGRAFY DAN MUESEUM SEJARAH MELAKA ( PART II )

 Aku ingin melanjutkan tulisanku tentang Museum sejarah dan Museum Etnografy di Kota atau Bandar Bersejarah Melaka, gedung atau museum yang paling besar di kawasan Stadthuys atau Bangunan Merah di Melaka. Memasuki Museum ini kita akan menaiki tangga dan di lantai 2 selanjutnya kita akan menemui kounter loket. Saat aku mengunjungi di Oktober 2026 harga tiket masuk sebesar RM 10 ( sekitar Rp. 38.500,- dengan kurs saat itu RM 1 = Rp. 3.850,- )


 Anak dan istriku serta keponakanku tidak berkenan ku ajak untuk menjelajah museum ini. Mereka sepertinya punya agenda lain untuk eksplor di sekitar Kota Melaka. Aku memasuki museum ini sudah sore, sekitar  Pukul 5 sore Waktu Indonesia Barat atau pukul 6 waktu Malaysia. Namun beruntungnya museum ini beroperasi sampai malam hari atau sekitar pukul 10 malam kalau tidak silaf aku dapat informasinya. Kalau pada kunjungan kami sebelumnya di tahun 2016, museum ini pukul 6 sore sudah tutup.

Mulailah perjalananku untuk menjelajah museum ini, setelah membayar tiket dan dilayani oleh pegawai museum yang ramah aku pun masuk ke dalam museum ini. Awal masuk museum aku disambut dengan Sejarah Kesultanan Melaka dan peralatan perang pada masa itu.


Kaunter Tiket

 Kondisi museum sangat bersih dan rapi. Lantai museum sepertinya dari kayu dan ada juga dari ubin. Museum ini berada di lantai 2 ( dua ). Begitu kita memasuki museum ini kita di sambut dengan meriam - meriam sisa - sisa peperangan pada masa itu.

Meriam yang menyambut kedatangan pengunjung di Museum Sejarah

 Banyak terdapat benda - benda bersejarah Melaka yang dipajangkan di Museum Sejarah ini. Di ruang pertama kunjungan kita sudah disajikan aneka benda - benda bersejarah peninggalan masa lampau.

Di sisi kanan pintu masuk, gedung ini di lengkapi dengan jendela - jendela yang tingginya menjulang yang berfungsi  sebagai ventilasi agar gedung ini tidak terasa panas dan sirkulasi udara berganti secara terus menerus. Kita pasti tahu, masyarakat Eropah yang berhawa dingin tentunya kurang nyaman dengan kondisi Melaka yang beriklim tropis sehingga semua bangunan yang di bangun pada masa itu memiliki jendela - jendela yang sangat banyak dan bangunan yang tinggi menjulang dari atapnya agar panas matahari bisa dimodifikasi sehingga ruangan tidak terlalu panas. Saat itu belum dikenal adanya AC dan kipas angin ( fan )

Sisi saping kiri Gedung Museum Sejarah & Etnograpy

Memotret suasana dari tangga yang akan menuju Museum sejarah

Melaka di sore hari masih juga terasa terik matahari


Dari sini kita dapat mengabadikan foto dengan latar belakang Christ Church Melaka

Tangga yang berundak - undak di sisi samping kiri Gedung Museum Sejarah & Etnografy

 

Aku akan melanjutnkan tulisan tentang  Museum Sejarah dan Etnografy di Part III nantinya, karena aku akan melanjutkan pekerjaanku.

 

Salam hormat kami 

 

Senin, 22 Juni 2026

MUSEUM ETNOGRAFY - MELAKA ( I )

 Setelah sekian lama tidak berkunjung ke Negeri Jiran, akhirnya pada tanggal 16 Oktober 2025 kami berkunjung kembali ke Negeri Semenanjung ini. Kunjungan kali ini bukan hanya kami bertiga saja, namun 16 orang, seperti tour saja.

Setelah sampai di Kuala Lumpur dan beberapa hari di Port Klang kami melanjutkan perjalanan ke Melaka. Aku selalu merindukan Bandar Bersejarah Melaka ini. Kali ini merupakan kunjunganku pribadi yang ke tiga kalinya. Pertama kali aku menginjakkan kaki ke Melaka di tahun 2007, kemudian pada tahun 2016 dan selanjutnya tahun 2025. Aku berharap ini bukan kunjungan ku yang terakhir. Selalu merindukan Melaka untuk datang dan datang lagi

Mengingat jumlah rombongan kami yang sangat banyak akhirnya kami sepakat untuk merental Bus saja. Seperti halnya saat kami dari bandara KLAI 2 untuk menuju ke Port Klang, tepatnya ke rumah saudara kami ke Telok Gong, kali ini kami juga rental Bus. Saat dari KLAI 2 ke Port Klang kami rental seharga RM 285 dan ketika kami rental Bus dari Klang ke Melaka tarifnya RM 500. Bus menjemput dari depan rumah saudara kami dan mengantarkan sampai ke Bangunan Merah - Melaka. Kami berangkat sekitar jam 10 pagi waktu itu dari Port Kalng menuju Melaka.

Oh ya sekarang Bus tidak boleh melewati kawasan Bangunan Merah lagi. Sebelum di Bangunan Madonna - Melaka sudah di pasang portal dan Bus atau mobil di larang lewat di kawasan Bangunan Merah.

Kalau sebelumnya Bus Panorama 17 melewati kawasan wisata di sekitaran Bangunan Merah, namun kini Bus tersebut tidak terlihat lagi melewati jalanan tersebut.

Dari Port Klang, Bus yang membawa kami melewati wilayah Telok Panglima Garang, Kuala Langat dan kampung kampung di sekitaran menuju Melaka.

Dikarenakan kunjungan kami bertepatan dengan Hari Raya Deevapali dan di Malaysia saat itu juga sedang cuti bersama maka sepanjang jalan penuh sesak kendaraan dari berbagai negeri bagian Malaysia yang rakyatnya pergi melancong ke tempat - tempat wisata juga. Kami berhenti di kawasan rest area di jalan toll, dan kendaraan serta manusia penuh sesak, bahkan untuk ke toilet saja harus antri panjang. Tak ada bedanya dengan suasana libur panjang di Indonesia di mana seluruh tempat - tempat wisata penuh sesak dengan pengunjung.

Di rest area kami melepas lelah sejenak sambil sekedar jajan dan kulineran. Cukup banyak pedagang aneka macam makanan di rest area tersebut. Dan karena cuaca cukup panas aku membeli minuman es tebu, kalau gak salah harga sebungkus RM 4, cukup mahal jika dibandingkan dengan harga es tebu di Medan. he he he. Setelah selesai sebagian melepaskan hajat, kami lanjutkan perjalanan lagi.  Memasuki kota Melaka setelah Melaka Sentral banyak bangunan - bangunan baru yang bertingkat tinggi setelah Melaka Sentral dan memasuki kawasan sebelum Stadthuys banyak bangunan - bangunan baru yang bertingkat dibanding kunjungan kami pada tahun 2016.

Untuk saat ini tulisan sampai di sini dulu dan akan aku lanjutkan nanti ke Bagian II....

Sampai jumpa lagi di Blog ku....( Walaupun sekarang sangat jarang orang membaca blog lagi ya... He he he he )