Senin, 22 Juni 2026

MUSEUM ETNOGRAFY - MELAKA ( I )

 Setelah sekian lama tidak berkunjung ke Negeri Jiran, akhirnya pada tanggal 16 Oktober 2025 kami berkunjung kembali ke Negeri Semenanjung ini. Kunjungan kali ini bukan hanya kami bertiga saja, namun 16 orang, seperti tour saja.

Setelah sampai di Kuala Lumpur dan beberapa hari di Port Klang kami melanjutkan perjalanan ke Melaka. Aku selalu merindukan Bandar Bersejarah Melaka ini. Kali ini merupakan kunjunganku pribadi yang ke tiga kalinya. Pertama kali aku menginjakkan kaki ke Melaka di tahun 2007, kemudian pada tahun 2016 dan selanjutnya tahun 2025. Aku berharap ini bukan kunjungan ku yang terakhir. Selalu merindukan Melaka untuk datang dan datang lagi

Mengingat jumlah rombongan kami yang sangat banyak akhirnya kami sepakat untuk merental Bus saja. Seperti halnya saat kami dari bandara KLAI 2 untuk menuju ke Port Klang, tepatnya ke rumah saudara kami ke Telok Gong, kali ini kami juga rental Bus. Saat dari KLAI 2 ke Port Klang kami rental seharga RM 285 dan ketika kami rental Bus dari Klang ke Melaka tarifnya RM 500. Bus menjemput dari depan rumah saudara kami dan mengantarkan sampai ke Bangunan Merah - Melaka. Kami berangkat sekitar jam 10 pagi waktu itu dari Port Kalng menuju Melaka.

Oh ya sekarang Bus tidak boleh melewati kawasan Bangunan Merah lagi. Sebelum di Bangunan Madonna - Melaka sudah di pasang portal dan Bus atau mobil di larang lewat di kawasan Bangunan Merah.

Kalau sebelumnya Bus Panorama 17 melewati kawasan wisata di sekitaran Bangunan Merah, namun kini Bus tersebut tidak terlihat lagi melewati jalanan tersebut.

Dari Port Klang, Bus yang membawa kami melewati wilayah Telok Panglima Garang, Kuala Langat dan kampung kampung di sekitaran menuju Melaka.

Dikarenakan kunjungan kami bertepatan dengan Hari Raya Deevapali dan di Malaysia saat itu juga sedang cuti bersama maka sepanjang jalan penuh sesak kendaraan dari berbagai negeri bagian Malaysia yang rakyatnya pergi melancong ke tempat - tempat wisata juga. Kami berhenti di kawasan rest area di jalan toll, dan kendaraan serta manusia penuh sesak, bahkan untuk ke toilet saja harus antri panjang. Tak ada bedanya dengan suasana libur panjang di Indonesia di mana seluruh tempat - tempat wisata penuh sesak dengan pengunjung.

Di rest area kami melepas lelah sejenak sambil sekedar jajan dan kulineran. Cukup banyak pedagang aneka macam makanan di rest area tersebut. Dan karena cuaca cukup panas aku membeli minuman es tebu, kalau gak salah harga sebungkus RM 4, cukup mahal jika dibandingkan dengan harga es tebu di Medan. he he he. Setelah selesai sebagian melepaskan hajat, kami lanjutkan perjalanan lagi.  Memasuki kota Melaka setelah Melaka Sentral banyak bangunan - bangunan baru yang bertingkat tinggi setelah Melaka Sentral dan memasuki kawasan sebelum Stadthuys banyak bangunan - bangunan baru yang bertingkat dibanding kunjungan kami pada tahun 2016.

Untuk saat ini tulisan sampai di sini dulu dan akan aku lanjutkan nanti ke Bagian II....

Sampai jumpa lagi di Blog ku....( Walaupun sekarang sangat jarang orang membaca blog lagi ya... He he he he ) 


 

 

Selasa, 10 Desember 2024

MENIKMATI INDAHNYA DESA SIPORO PORO SALBE - TIGARAS

     Berawal dari pertemuan tanpa janjian dengan MEDY dan ANDY di warung ayam penyet di Jl. Gatot Subroto - Medan pembicaraan mengalir dengan tema yang agak acak dan pada akhirnya terceletuk pertanyaan kapan bisa jalan - jalan bareng. Akhirnya kesepakatan bertiga untuk jalan - jalan ke Tigaras pada tanggal 10 November 2024.

Fix kesepakatan bulat di tanggal yang telah ditentukan bersama. Dan selanjutnya di terusakan woro - woro ke WA Group.

Responnya lumayan, ada yang menganggap hanya sekedar guyonan dan main - main dan pada akhirnya diyakinkan bahwa rencana perjalanan tersebut adalah serius akan dilaksanakan.


Percakapan pun berseliweran di WA Group untuk kepastian dan akomadasinya bagaimana. Ada yang menanyakan via japri tentang keberangakatan dan  berapa biayanya.

Untuk lebih serius tentang rencana tersebut maka disampaikan di WA Group bahwa akan dilaksanakan Pre Reuni FP UISU Stambuk 1991 di Tigaras pada tanggal 10 November 2024.

Dan selanjutnya mulai di data peserta yang akan ikut serta dalam kegiatan tersebut. Tepat pada hari yang disepakati kami berangkat sebanyak 16 orang dengan 4 armada. Kami pun berangkat ke tujuan di awal pagi pada Minggu, 10 November 2024.

Cuaca di Medan ditemani mendung tipis namun tidak hujan. Perjalanan yang diawali kumpul di base camp rumahnya Mamay dan kami berangkat dari Medan sekitar pukul 08.00 WIB.

 


 

MAMAY membekali kami nasi untuk  di perjalanan nantinya dan untuk lauk pauknya kami sudah sepakat untuk membawa masing - masing. Dan ODY  menyediakan armada  bagi perjalanan kami serta dibantu oleh YUDI & NINA juga ANDY.

Perjalanan masih ditemani mendung - mendung tipis dan kami menuju ke Pematang Siantar via toll. Sekitar pukul 09.00 WIB kami singgah di rest area. Sekedar istirahat dan melepas lelah dan sebagian pergi ke tandas untuk sekedar melepaskan hajat.

 


  Setelah selesai urusan melepas hajat perjalanan kami lanjutkan dan sekitar pukul 10.00 WIB lewat kami sampai ke kota Pematang Siantar. Perjalanan lebih cepat karena toll telah terhubung dari Medan sampai ke Pematang Siantar tepatnya di Gerbang Toll Sinaksak. Tarif yang diberlakukan saat itu hanya dari Medan - Tebing Tinggi karena toll dari Tebing Tinggi - Sinaksak masih fase ujicoba dan masih diberlakukan tarif gratis

Perjalanan kami lanjutkan menuju Tigaras via Sidamanik. Sepanjang perjalanan kami lewati perladangan, hamparan persawahan dan hijaunya perkebunan teh yang menghampar laksana permadani hijau. Armada kami berhenti sebentar di Bah Aren karena aku ada bertemu dengan kakak kelas di masa sekolah dulu.

Setelahnya kami melanjutkan perjalanan dan ketika kami sudah memasuki Kecamatan Dolok Pardamean berhenti sebentar untuk membeli air minum, perjalanan pun kami lanjutkan lagi.

Memasuki kawasan Tigaras kami pun menuju ke arah Desa Siporo - Poro Salbe. Kami tidak menuju ke Dermaga Tigaras. Desa Siporo - Poro, Salbe ini jika kita telah sampai di persimpangan, sebelah kiri kita akan menuju ke Dermaga Pelabuhan Tigaras dan sebelah kanan kita akan menuju ke Desa Siporo - Poro Salbe tersebut dan nantinya jalanan ini akan terhubung ke daerah Haranggaol Horison.

Jalanan tidak terlalu lebar, dan berliku namun kita akan menikmati indahnya Danau Toba yang menghampar membiru apalagi jika cuaca cerah. Masya Allah indahnya.



Sekitar 15 menit akhirnya kami merapat di kawasan Pantai Elexia. Oh ya di sini ada beberapa titik yang dikelola oleh masyarakat dengan nama yang ditentukan oleh sang pengelola. Kebetulan kami berlabuh di Pantai Elexia karena letaknya yang persis di pinggir jalan raya dan masih sepi dari pengunjung.

Tidak dikenakan tarif masuk, hanya dikenakan tarif parkir Rp. 5.000,- per armada dan Pondok beserta tikar sebesar Rp. 50.000,- per pondok.

Berhubung kami ramai kami pesan di tempat yang lebar dengan jumlah tikar sebanyak 3 helai.


Perut kami sudah saatnya wajib diisi, dan kami pun segera membuka perbekalan yang kami bawa dari Medan tadi.

Aneka lauk ada di sini. Dari ayam gulai sampai ayam goreng. Dari gulai jengkol sampai sambal jengkol. Dari sambal teri sampai sambal cumi dan telur, belum lagi lalapan dan sambal belacan. Serta masih banyak lagi hidangan lainnya, plus buah semangka yang dibawa oleh MAYANTI. Alangkah nikmatnya hidangan kami hari ini. Menikmati makan siang dengan aneka lauk pauk yang lezat di pinggir Danau Toba yang indah dengan semilir angin sepoi - sepoi.


Selepas makan siang kami lanjutkan dengan sholat Dzuhur. Dan sepertinya dari kami tidak ada yang berkeinginan untuk sekedar mandi manda karena semua pada sadar ternyata bukan lagi muda.

Selepas sholat keriuhan kami lanjutkan dengan dengan suara emas dari NILA sang ATIEK CB kami dulu di kampus.

Keriuhan masih berlanjut dan tak terasa sudah menjelang sore. Kami pun berkemas untuk pulang dan sebelum pulang kami melakukan eksplore di sekitar Desa Salbe sebelum jejak kami meninggalkan desa tersebut.


















Perjalanan pulang pun mulai bergerak namun kami mampir ke rumah kakak kelas ku untuk sekedar menikmati hangatnya teh Sidamanik yang aromanya benar - benar memikat

Selepas Maghrib kami meninggalkan Sidamanik dan perjalanan pulang kami tetap melalui toll karena lebih memangkas waktu perjalanan.

Sampai di rest area kami lanjutkan lagi dengan membuka sisa - sisa bekal kami tadi untuk makan malam. Selepas makan dan istirahat serta sholat Maghrib dan Isya kami lanjutkan perjalanan kami ke  Medan.

Sekitar pukul 22.00 WIB kami sampai ke Medan dan selanjutnya pulang ke rumah masing - masing.

Indahnya perjalanan kami hari ini. Bersama  sahabat - sahabat semasa kuliah, bercerita dan selanjutnya menentukan kegiatan yang lebih besar yang telah direncanakan dan semoga terlaksana dengan baik nantinya.

Silahturahmi kami tetap terjaga di usia 33 tahun masa persahabatan kami. Semoga Allah selalu menjaga kami untuk terus tetap bersilahrahmi di antara kami.

 

SEMOGA.




Kamis, 05 Desember 2024

INDAHNYA SEPI

Berada dalam peraduan

Ditemani rinai hujan di Bulan Desember

Semilir angin dingin mencekam

Dalam rintik gerimis yang datang menjelang

 

Air belum lagi surut

Hujan terus menggelayut

Masih saling berkejar dan saling bersaut

Desember masih terus berkabut

 

Menikmati sepi  di pagi hari

Sampai menjelang sore lewat suara angin yang tak bertepi

Malam menjelang tanpa ditemani bintang gemintang

Langit kelam tiada tembus pandang

 

Sepi di peraduan

Secangkir kopi hangat setia berteman

Berkawan dengan pisang rebus yang mengepul hangat

Hujan Desember masih membawa nikmat

 

 



 

Rabu, 23 Agustus 2023

PUISI PUISIKU

 

CATATAN UNTUK BUAH HATIKU.

 

Ada keriangan mengisi relung – relung ini

Setiap kutatap bola matamu

Dalam celotehmu

Dalam tangisanmu

Dalam amarahmu

 

Ada kecemasan di hatiku

Kala kudengar rintihanmu

Kala engkau tak ceria

Kala engkau merajuk

Kala engkau sakit

 Permataku,

Engkaulah pilar hidupku,

Penguatku,

Penyemangatku,

Geloraku,

Cahaya hidupku.


Medan,  20 November 2009

 

 

SAYAP – SAYAP PATAH

Sayapku tak sanggup aku kepakkan lagi

Aku lelah untuk terbang

Aku layu dan tak berdaya

Tinggal sedikit asa yang harus kujaga

 

Sayapku tak sanggup aku kepakkan lagi

Hanya sebatas lingkupku kini

Hanya sebatas ruang yang sepi

Tinggal segelintir sayapku yang harus kurawat

 

Dalam kelelahan dan keputus asaan

Semoga ada cahaya yang terus bersinar

Di sini dan terus di sini

Di hati ini.

 

 

Medan, November 2009

  

AMARAHKU

 Kegeraman membara disini

Api ini terus membara

Pada  pola laku manusia

Pada pemimpin

Pada ulama

Pada cerdik pandai

 

Kegeraman membara disini

Akan keserakahan

Akan kezaliman

Akan kekerasan

Akan kenistaan

 

Kegeraman membara disini

Dalam hati ini

Dalam mata ini

Dalam mulut ini

Aku tak tau harus kutumpahkan kemana

 

 Medan, 22 Juli 2010

 

DIALOG KADAL DAN BUAYA

Seekor kadal menyapa buaya hari ini

Ada kilau air mata dipelupukmu

Namun kadal tak mampu untuk menghapusnya

Apalagi untuk menghentikannya

 

Seekor kadal menyapa buaya hari ini

Masih gundahkah hatimu

Masih galaukah hatimu

Masih cemaskah dirimu

 

Seekor kadal menyapa buaya hari ini

Sudah amankah dirimu

Sudah bersihkah dirimu

Dengan air mata sandiwaramu

 

Seekor kadal menyapa buaya hari ini

Aku dan kamu sama – sama pelakon

Aku dan kamu memainkan peran

Aku dan kamu sama – sama dibungkus nista

 

 Medan, 21 Juli 2010

 

 

LARAKU

 

Laraku kian menggunung

Laraku kian mendera

Mencabik – cabik hatiku

 

 

Laraku tiada bertepi

Berteman hening dan sepi

Dalam lembah sedih

 

Laraku makin membuncah

Dalam api amarah yang membara

 

Laraku makin teriris

Dengan pisau rinduku

Dengan risau hatiku

Di relung hatiku pada dirimu

 

 

 

 

Medan, 22 Juli 2010

 

BALADA SEPASANG KASUT

 Kasutku mulai kusut hari ini

Menjelajah trotoar sepanjang hari ini

Kasutku mulai lelah hari ini

Menopang beban  tubuhku sepanjang hari

 

Kasutku tak pernah mengeluh padaku

Walau aku terus mengayuh langkahku

Kasutku tak pernah berkeluh kesah

Walau sepatah kata tak pernah aku desah

 

Kasutku selalu menyambutku

Dalam pagi yang sepi

Dalam malam yang gelap

Dalam hujan yang dingin

Dalam kemarau yang kering

Dia selalu ada menemani setiap langkahku

 

 

 

Medan, 22 Juli 2010

 

 

TATKALA LANGIT TAK LAGI BIRU

 

Langitku tak lagi biru hari ini

Sekelompok awan berkejaran menggumuli

Langitku mulai basah hari ini

Rinai hujan berlomba untuk mencapai bumi

 

Langitku tak lagi biru hari ini

Gedung - gedung berjejal mengungguli

Langitku kusam karena polusi

Asap pabrik dan kendaraan saling berbagi

 

Birumu terhalau awan

Birumu mulai dalam khayalan

Birumu kini mulai kelam

Dan birumu kini makin tenggelam

 

 

 

Medan, 22 Juli 2010

 

SENDIRI

 

Diam dalam basah

Teronggok seorang diri

Sepi dalam resah

Sendiri menanti kasih

 

 

 

Medan, 22 Juli 2010

 

HUJAN PAGI INI

Hari ini engkau datang lagi

Membasahi ragaku yang kering

Hari ini engkau turun lagi

Membasuhi bumi ini

 

Rinaimu menutupi pandangku

Rinaimu menggenangi jalanku

Rinaimu menetesi ragaku

Aku basah hari ini

 

Hari ini engkau datang lagi

Dan setelah engkau pergi

Terbitlah pelangi yang indah

 

 

 

Medan, 13 Agustus 2010

  

TATKALA  KUBERMUNAJAT

 

Tatkala gelisah hadir

Tatkala sepi menghujam

Tatkala resah menanti

Aku mohon kepada-Mu

 

Karena hanya kepada-Mu

Segala pinta dalam bait  - bait doa

Karena hanya kepada-Mu

Karunia dan segalanya

 

Tatkala keresahan melanda

Hanya kepada-Mu aku bercerita

Tatkala gundah merajah

Aku mohon dengan sebaris doa

 

Pada-Mu segala karunia

Dan hanya kepada-Mu kami meminta

 

 

 

 

 

Medan, 20 Desember 2010