Senin, 26 Agustus 2019

PERJUMPAAN

Dalam setiap langkah manusia ada selalu perjumpaan, pertemuan walau hanya sebentar. Tak perduli dengan durasi tapi setiap perjumpaan,  ada cerita bahkan sebagian hanya menganggap angin lalu.

Perjumpaan, kadang menimbulkan sejuta bahagia, tak terukur oleh berapa besarnya rupiah. Namun perjumpaan ada menghadirkan luka dan meninggalkan sejuta tanya. Entahlah engkau menikmati yang mana.

Perjumpaan, bagiku menghadirkan sejuta rasa bahagia, bahkan hanya sekedar untuk bertemu teman lama. Berusaha menikmati setiap rasa perjumpaan yang akan menimbulkan energi bahagia dan menghadirkan berbagai cerita dari kisah lalu, kini dan nanti 

Ada kalanya perjumpaan meninggalkan haru biru bahkan membangkitkan rasa pilu, lalu engkau membungkusnya menjadi sebuah drama yang mendayu - dayu. Aku tak ingin melakukan itu, karena itu hanya akan meninggalkan rasa sayu dan akan membuat biru hatiku.

Buatlah perjumpaan yang memberikan semangat baru, energi yang akan membaharukan kisah perjalananmu dan memberi dorongan positif dalam menghadapi hari baru.
PERTEMUAN DAN PERJUMPAAN.



Rabu, 17 Juli 2019

KEBUN MARJANDI TANAH KELAHIRAN YANG KINI SUNYI

Lebaran Idul Fitri 2019 momen yang tepat kumpul keluarga, jiran tetangga dan kerabat kerabat yang tinggal jauh. Lebaran kali ini kami sekeluarga besar mengunjungi tanah kelahiran.
Ya .... MARJANDI tanah kelahiran kami 7 ( tujuh ) bersaudara, Disini kami tumbuh dari lahir sampai besar dan setelah dewasa kami meninggalkan tanah kelahiran mencari peruntungan di daerah lain.
Marjandi tanah kelahiran, tetapi orang tua kami tidak memiliki sebidang tanah di sini karena disini merupakan tanah perkebunan milik negara. Sempat orang tuaku memiliki sebidang tanah di kawasan sekitar Marjandi namun dijual untuk dibelikan ke tempat yang lain dan untuk merubah nasib dan mencari peruntungan.

Balai Karyawan yang kini sepi dan usang
Leluhur kami banyak disemayamkan disini. Dan rentang fase kehidupan kami adik beradik banyak kami habiskan disini. 
Perjalanan waktu akhirnya memaksa kami untuk meninggalkan tanah kelahiran. Merantau demi merubah nasib, salah satu sebab kami meninggalkan tanah kelahiran kami. Kehidupan baru dan tanah harapan baru yang pada akhirnya menjadi tempat tinggal permanen sehingga harus mengubur kenangan - kenangan masa - masa kecil dulu.

Seiring pensiunnya orang tuaku akhirnya pelan - pelan tanah kelahiran kami tinggalkan karena telah ada tapak baru tempat kami untuk mengais rezeki. Rindu tanah kelahiran selalu ada dan terus membuncah.

Tapi kerinduan - kerinduan akan nostalgia kini telah berganti  seiring dengan bergantinya zaman dan waktu yang terus bergulir.

Marjandi kini bukan lagi hamparan perkebunan teh namun sekarang telah dikonversi menjadi hamparan tanaman kelapa sawit. Tak ada lagi kenangan masa kecil yang tersisa, bahkan puing - puing rumah masa kecil  kami dulu kini pun tak berbekas lagi. Tak ada sisa yang tertinggal untuk diceritakan kepada anak cucu kami tentang rumah kami dulu dimana kami tinggal beramai - ramai adik beradik.

Kini, saat kaki menjejakkan disini, mencoba menggali kenangan masa lalu yang ada rasa sunyi dan sepi. Tak bertemu lagi dengan sahabat - sahabat masa kecil dulu, karena mereka juga sudah pergi meninggalkan tanah kelahiran seperti diriku. Dan para sesepuh yang kami kenal dahulu sudah pada meninggalkan tanah kelahiran Marjandi menghadap Sang Khalik.
Dan  momen seperti saat ziarah kubur di Pekuburan Marjandi biasanya bisa bertemu sahabat - sahabat masa kecil dahulu.
Kenangan itu terbawa seiring air hujan yang mengalir meninggalkan lorong - lorong perkebunan kelapa sawit.


Kawasan perumahan kami dulu yang kini sudah beralih fungsi
 Tak kutemukan lagi tempat bermain kami dulu masa kami menghabiskan waktu. Halaman tempat kami bermain aneka mainan yang mengandalkan fisik kini telah tiada. Berganti dengan rindangnya tanaman kelapa sawit. Rumah - rumah kami jiran bertetangga dulu kini telah rubuh berganti dengan perkebunan. Banyak kenangan disini dengan teman - teman sepermainan yang kini keberadaan sudah terpencar entah dimana. Satu dua tetap terjalin komunikasi yang intens dan saling mengunjungi dan bersilaturahmi. Namun yang lainnya berpuluh - puluh tahun bahkan tidak bertatap muka dan berkomunikasi.

Pajak, kami menyebutnya begitu. Sebenarnya ini merupakan lokasi untuk jual beli atau katakanlah pasar di lokasi perumahan penduduk pekerja Kebun Marjandi juga telah roboh dan tak tersisa puing - puingnya. Lokasi dimana kami sering berkumpul dan melihat keramaian pasar saat pekerja perkebunan gajian.

Di lokasi ini juga sering terdapat keramaian dan pertunjukan kesenian tradisional seperti ludruk, wayang, band telah tiada. Bahkan bak mandi umum tempat kami dahulu ngantri untuk mengambil air bersih untuk kebutuhan konsumsi masing - masing rumah tangga telah tiada semua. Tak ada lagi aktifitas mencuci bersama, menampung air bersama di sini. Semuanya telah berubah.

Dan pabrik Pengolahan Teh juga telah berhenti aktifitasnya sejak lebih 10 tahun yang lalu seiring berubahnya fungsi lahan dari perkebunan teh ke tanaman kelapa sawit. Tak tercium lagi aroma wanginya teh sepanjang hari, mungkin bunyi sirene yang kerap kami dengar satu jam sekali bertanda pergantian waktu sudah tidak ada lagi. Masa itu kami menyebutnya BENGUNG.....sudah tidak berbunyi lagi, senyap di telan masa dan berganti sepi yang membuncah.
Tak ada lagi kenangan yang tersisa di sini........................................
😭😭😭😭

telah berubah

disini tempat kami biasa melaksanakan perayaan

dahulu berfungsi juga sebagai gedung bioskop

sepi dan sunyi, saksi masa lalu

rumah Mandor Besar Pabrik, tak semegah dulu

Selamat tinggal kenangan.................
MARJANDI YANG SELALU KURINDUKAN.

Medio, Juni 2019 saat mengunjungi KEBUN MARJANDI.

Kamis, 04 Juli 2019

SUDUT ASRI MENIKMATI DANAU TOBA DARI PANTAI LUMBAN BUL - BUL BALIGE

Danau Toba memang tak pernah habis untuk terus di explore dari sudut - sudut daerah lain. Danau yang menegelilingi beberapa Kabupaten di Propinsi Sumatera Utara ini  tetap menyajikan panorama yang eksotis yang selalu memberikan keindahan yang tiada tara anugrah dari Sang Khalik, pencipta alam semesta.

Selamat datang di Pantai Lumban Bul-Bul
Pantai Lumban Bul-Bul terletak di Balige Kabupaten Toba Samosir Propinsi Sumatera merupakan kawasan kaldera Danau Toba. Menuju ke lokasi ini jika kita berangkat dari Pematang Siantar setelah melewati Parapat sepanjanng perjalanan kita akan disuguhi panorama yang menghijau. Ladang - ladang kopi dan tanaman lainnya serta kawasan persawahan yang ditanami padi yang masih menghijau dan ada sebagaian padi yang menguning siap panen membuat mata enggan dipejamkan karena keindahan alam pedesaan yang masih asri.

Setelah sampai Parapat langsung teruskan laju kendaraan untuk menuju ke Balige melewati kota kecil Porsea perjalanan terus dilanjutkan. Setelah sampai kawasan Balige, namun sebelum masuk kotanya belokkan ke kanan arah kendaraan anda ikuti papan petunjuk arah maka anda akan sampai ke kawasan Pantai Pasir Putih Lumban Bul-bul.

nelayan di perairan Danau Toba di Lumban Bul-bul
Menuju ke lokasi Pantai Pasir Putih Lumban Bul-Bul juga terdapat tempat - tempat wisata seperti Pantai Pasir Putih Janji Mariah. Namun jika tujuan anda ke Pantai Lumban Bul - Bul maka lanjutkan laju kendaraan anda. Tidak berapa jauh maka kita akan melihat tugu selamat datang di kawasan ini yang sekarang mulai ramai dikunjungi para wisatawan.

sebelum sampai ke Pantai Lumban Bul-Bul kita akan melewati tugu selamat datang
Tidak berapa jauh dari tugu tersebut maka kita akan sampai di Pantai Pasir Putih Lumban Bul- Bul. Masuk lokasi disini tidak dikenakan retribusi hanya cuma membayar parkir kendaraan sebesar Rp. 5.000,- ( lima ribu rupiah ) per unit kendaraan. Dan para juru parkir akan memberi arahan untuk parkir di lokasi - lokasi yang tersedia.
Memasuki kawasan ini tersedia pondok - pondok untuk mengasoh dan menempatkan perbekalan. Pada saat itu karena suasana Lebaran sewa pondok sebesar Rp. 50.000,- ( lima puluh ribu rupiah ) dan tidak dibatasi waktu.
Di sekitar pantai ini ada tersedia permainan APV dengan sewa Rp.50.000,- per 30  ( tiga puluh ) menit. Juga terdapat banano boat dan perahu.
Kami tidak sewa bananao boat namun kami naik perahu mengelilingi Danau Toba di kawasan Lumban Bul - Bul dengan tarif Rp. 10.000,- per orang atau per kepala namun tarif tidak dikenakan untuk anak kecil di bawah 5 tahun. Ditemani semilir angin kami menikmati dan mengelilingi Danau Toba di kawasan Lumban Bul - Bul.
menikmati Danau Toba ditemani semilir angin dari perahu kayu
Ditemani semilir angin dan riak air Danau Toba kita akan dibawa keliling danau dan jangan lupa gunakan jacket pelampung kalau tidak dipakai maka pengelola akan kena teguran Satpol air di kawasan tersebut dan yang penting demi keselamatan diri.
Baby Sophie di atas perahu di Lumban Bul - Bul
 Di kawasan ini juga tersedia rumah makan halal dan terdapat mushollah, jadi bagi umat Muslim tidak perlu risau untuk bertamasya disini. 
Selamat menikmati Pantai Pasir Putih Lumban Bul - Bul.

masih di Lumban Bul - Bul







Kamis, 13 Juni 2019

PASIR PUTIH PARPAREAN PORSEA SUDUT CANTIK DANAU TOBA

Parparean, sebuah kampung atau desa di Kecamatan Porsea Kabupaten Toba Samosir memiliki keindahan dari bentangan Danau Toba. Tempat menikmati keindahan Danau Toba dengan semilir angin yang sejuk apalagi bila ditambah dengan cuaca yang cerah. Begitu indah untuk melepas penat setelah memandang keindahan biru air danau ditingkapi langit yang membiru.


Suasana yang masih sunyi semakin menambah keindahan Danau Toba. 
Parparean tidaklah jauh dari Parapat yang selalu mejadi tujuan destinasi dari para pelancong. Tempat ini tidak sepopuler Parapat dan tidak seluas Parapat. Namun berada di sini serasa berada di danau privat dan pribadi karena pengunjung yang masih minim dan tempat ini belum banyak diketahui para pelancong.

Ke Parparean tidak sulit untuk menjangkaunya. Parparean terletak di Kecamatan Porsea. Menuju tempat ini sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan alam pedesaan. Sawah - sawah, pegunungan dan suasana pedesaan yang masih asri.

perjalanan menuju Parparean
Tuhan menciptakan alam Sumatera Utara dengan beragam keindahan dan bagaimana kita harus bisa menjaga keindahan tersebut.

Bagaimana menuju Parparean?
Jika kita datang dari Medan maka arahkan saja moda kendaraan kita menuju ke Balige atau tepatnya ke Porsea. Porsea dari Parapat jaraknya sekitar 40 kilometer. Jadi kalau sudah sampai Parapat terus saja menuju arah Porsea dan Balige. Dari Parapat ke Porsea sekitar 30 menit saja dengan tingkat kelajuan sedang. Jalan yang dilalui mulus aspalnya. 
Bila pagi hari hari apalagi udaranya cerah sungguh cantik nian perjalanan menuju Parparean ini. Setelah sampai Pekan Porsea atau Kota Porsea lanjutkan perjalanan sedikit lagi. Di simpang RSUD Porsea nanti kita belok kanan dan dari rumah sakit ini jaraknya paling sekitar 400 meter saja, tidak jauh dari rumah sakit daerah ini maka kita akan menemukan keindahan Pasir Putih Parparean. Di gerbang RSUD Porsea akan terdapat petunujuk arah menuju lokasi Pasir Putih Parparean, jadi jangan kuatir akan tersesat dan setelah melewati Rumah Sakit tersebut terdapat lagi penunjuk arah menuju ke lokasi pasir putih tersebut.

Memasuki kawasan Pasir Putih Parparean kita tidak dikenakan retribusi masuk alias gratis. Kondisi pasir putih di pinggir Danau Toba dan air yang masih bersih semakin menambah keindahan dan membuat kita berlama - lama apalagi bagi yang suka kesunyian.
Di sekitar danau di Parparean, PDAM memasang pipa untuk air minum. Ini mengindikasikan bahwa air danau di Parparean betul betul memenuhi standar air yang layak dikonsumsi.

Angin semilir, langit membiru dan danau yang membiru semakin menambah keasrian alam Parparean. Memang disini belum terdapat wahana permainan seperti halnya di Parapat dan Pantai Pasir Putih Lumban Bulbul di Balige. Namun lokasi ini sangat bagus untuk spot - spot foto bagi yang menyukai fotografi.

Damai terasa menikmati Danau Toba dari Parparean ini. Di lokasi ini ada terdapat pondok lesehan dan warung, namun hanya satu warung saja. Jadi disarankan jika menuju ke sini bawa bekal makanan. Pondok - pondok disini dikenakan tarif Rp. 30.000,- namun jika kita ada belanja di warung yang mengelola pondok - pondok lesehan tersebut maka kita tidak kena charge alias gratis.
So, mari kita nikmati indahnya Danau Toba dari tempat atau sisi lain yang belum terlalu ramai. Jadi lebih eksotik rasanya menikmati Danau Toba dan jauh dari kebisingan dan keramaian.
Selamat berlibur.
Dan inilah foto - foto keindahan Pasir Putih Parparean, Porsea
 
Pipa PDAM yang mengambil air untuk disalurkan ke rumah - rumah penduduk untuk konsumsi air bersih

pagi yang indah di Parparean

langit biru dan danau biru

dermaga di Parparean

pesona keindahan Danau Toba ciptaan Yang Maha Kuasa

Pesona Sumatera Utara

Parparean, dalam keheningan pagi

main ayunan di tengah danau, airnya jernih banget

bersama cucu menikmati keindahan Parparean

ada yang mau turun berenang sepertinya salah seorang cucunya

dan masih membiru

menikmati alam yang sepi

di tangga darurat jika kapal singgah di Parparean

sendiri kutenang

Banyu Biru di tengah danau biru dan langit biru

serasa milik pribadi saja

Senin, 27 Mei 2019

MENJELANG LEBARAN 1 SYAWAL 1440 HIJRIYAH

Lama sudah tidak menulis di blog ini. Ada rasa kangen juga namun karena rasa malas yang melanda dan ide juga lagi kosong akhirnya beberapa bulan blog ini hampa tanpa hasil tulisan sama sekali.
Tak terasa tanggal 28 Mei 2019 telah memasuki 23 Ramadhan 1440 H. Suka cita Ramadhan masih terasa. Tarawih sudah mulai berkurang jama'ahnya dan mall - mall semakin ramai pengunjungnya. Tradisi yang terus berulang setiap tahunnya. Entahlah, fenomena ini selalu terulang setiap tahunnya.

Kesibukan menyambut lebaran semakin terasa, jalanan kota sudah mulai sepi karena anak - anak sekolah yang sebagian besar sudah liburan sekolah. Ramdhan kali ini negeriku sedikit ternoda dengan memakan korban manusia. Ketidak puasan atas hasil Pemilu yang diumumkan oleh KPU memakan korban jiwa. Aku pun hanya bisa menyaksikan saja tanpa bisa berbuat apa - apa. Perjuangan utamaku bagaimana keluargaku bisa aku penuhi hak - haknya terlebih dahulu dan bagaimana nafkah terpenuhi. Itulah tugas utamaku sebagai seorang ayah dan kepala keluarga.



Memang kejadian di Medan relatif aman dan tidak ada korban jiwa seperti di Jakarta. semoga korban - korban akibat aksi 22 Mei 2019 tenang dan damai di sisi ALLAH SWT dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Marilah kita bergandeng tangan untuk bersatu membangun negeri sesuai dengan fungsi dan kemampuan kita tanpa menebar kebencian, fitnah atau sesuatu yang memancing keonaran. Intinya kita cinta kedamaian.

Ramadhan kali ini merupakan tahun kedua kepergian Bapakku menghadap Sang Khalik. Tak terasa waktu berputar dengan cepatnya dan anakku sudah hampir memasuki tahun terakhir di Sekolah Dasar.
Aku senantiasa berdoa semoga anakku menjadi insan yang berguna bagi sesama terutama orang tua dan keluarga dan harapan yang lebih besar tentunya berguna bagi Negeri ini.

Selamat menjalankan  ibadah puasa Ramadhan 1440 H dan selamat menyambut Idul Fitri 1 Syawal 1440 H.
Damailah negeri dan damailah bangsaku.

Balitbangtan Hasilkan Varietas Unggul Baru Sorgum Bioguma, Ini Kelebihannya

Balitbangtan Hasilkan Varietas Unggul Baru Sorgum Bioguma, Ini Kelebihannya: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitangtan) melepas varietas unggul baru (VUB) sorgum yang diberi nama Sorgum Bioguma. Dibandingkan sorgum pada

Minggu, 24 Februari 2019

RUMAH SAKIT TEMBAKAU DELI

Selintas melihat kondisimu saat ini ada setangkup haru biru. Manakala mengulas rekam jejak pada tahun 1990-an betapa megahnya dirimu dan ramainya lalu lalang pasien, perawat, pengunjung dan para dokter di sepanjang koridor lorong lorong ruangan dan bangsal - bangsal yang berdiri kokoh.
Kini semuanya sepi, hanya ilalang yang mengelilingi sisa sisa kemegahanmu.

riwayatmu kini
Kini tak ada lagi  jerit roda dari tempat tidur pesakitan yang segera untuk dilakukan tindakan di ruang emergency. Semuanya sepi. Hanya ilalang dan beringin tua yang masih setia menemanimu dalam kesendirian ditengah hiruk pikuk bangunan menjulang yang mulai berdiri kokoh di sisi sudut - sudut ruangan.

Aku masih mengingat koridor - koridor menuju ruangan dan bangsal bangsal para pasien. Lorong lorong yang tersapu cat putih dan aneka bunga yang tertata indah di setiap depan lorong dan bangsal - bangsal itu. Kini tak ada lagi yang tersisa, hanya ilalang hijau dan plank - plank yang mulai usang yang tidak terurus.

ruang VIP Rumah Sakit Tembakau Deli
Ruang VIP itu kini sendiri dalam bisu, bahkan kusen - kusennya pun nyaris hilang semuanya. Sepi dalam bisu yang tak terjawab. 
Sejak tahun 2011 keberadaanmu telah dialih fungsikan sebagai cagar budaya dan tidak beroperasi lagi sebagai rumah sakit yang melayani pasien, Namun kondisimu kini tidak terawat seperti saat ini yang boleh kita lihat.
Terlnitas kembali kenangan pada masa - masa tahun 1990an, keberadaanmu yang merupakan rujukan bagi pasien - pasien dari berbagai Kebun di bawah naungan PT. Perkebunan IX yang merupakan tempat untuk berobat bagi karyawan dan keluarganya juga bagi masyarakat Medan sekitarnya dan Sumatera Utara sebagai rujukan untuk mendapatkan perawatan bagi kesembuhan penyakitnya.

Mengilas sejarah keberadaanmu yang aku peroleh dari berbagai sumber, Rumah Sakit Tembakau Deli dibangun pada tahun 1885 pada masa kolonial Belanda yang menguasai wilayah Sumatera yang diprakarsai oleh Mr. Ingermann selaku Manager dari Deli Maatschapaij selaku perusahaan yang membuka aneka usaha perkebunan di wilayah Sumatera Utara dan sekitarnya. yang membawahi 75 daerah perkebunan di Sumatera Timur ( dahulunya pada masa sebelum merdeka Sumatera Utara dikenal dengan Sumatera Timur ), sumber Wikipedia.

Awal keberadaannya Rumah Sakit Tembakau Deli dibangun karena kebutuhan dari perusahaan Deli Maatschapaij yang didasarkan dengan kejayaan bisnis dan industri dari tembakau deli yang berada pada puncak kejayaan dalam perdagangan di bursa pasar Eropah. Harga tembakau deli yang melambung serta permintaan kebutuhan tembakau deli untuk rokok cerutu di dunia saat itu.
Rumah Sakit Tembakau Deli atau Hospital Deli Maatschapaij merupakan rumah sakit pertama di Kota Medan. Awal keberadaannya hanya untuk menangani penyakit - penyakit ringan saja. Tahun 1901 dibangun sebuah gedung besar untuk pasien penyakit parah dan pada tahun 1915 Hospital Deli Maatschapaij ditetapkan sebagai Rumah Sakit Laboratorium Penyakit tropis.
Seiring kemerdekaan Indonesia rumah sakit ini berganti nama menjadi Rumah Sakit Tembakau Deli. Pada masanya rumah sakit ini berada di bawah management PT. Perkebunan IX. Kemudain Badan Usaha Milik Negera sektor perkebunan merger menjadi beberapa perusahaan saja dan PTP. IX dan PTP II merger menjadi satu yaitu PTP. Nusantara II.

Melihat perkembangan tembakau deli sudah tidak menjadi komoditas primadona lagi dan kondisi rumah sakit yang sudah tidak menguntungkan lagi akhirnya tahun 2011 rumah sakit ini tidak melayani pasien lagi dan tutup. Sejak tahun 2011 rumah sakit ini telah ditetapkan menjadi cagar budaya. Namun sangat disayangkan kondisinya tidak terawat dan memprihatinkan.

terhimpit dengan modernisasi zaman


Tak ada lagi wajah wajah cemas menunggu sang dokter, tak ada lagi kepanikan dan tak ada ada lagi perawat dengan caping dan seragam puith yang mondar mandir di sekitar bangsal - bangsal. Bangsal itu kini sepi dan diam dalam bisu. Ada kerinduan yang menyesak manakala bangsal itu bahkan kusen - kusennya pun sudah tak pada tempatnya lagi.
Trotoar yang dulu ramai para pedagang kini sepi dan meninggalkan sejarah panjang yang nyaris tak tersisa lagi/
Hospital Deli Maatchapaij kini tinggal bangunana tak terurus yang bertemankan ilalang - ilalang. Rumah Sakit Tembakau Deli, riwayatmu kini.
trotoar yang kini sepi