Rabu, 25 Juli 2018

BALI ( PART II ) : KUTA & GARUDA WISNU KENCANA

Hari kedua di Bali, tujuan kami hari ini adalah ke Garuda Wisnu Kencana dan ke Dream Land Beach. Pagi aku sudah bersiap - siap sarapan di restoran hotel. Bayak menu sarapan disajikan dari  menu Indonesia sampai western food. Aku menikmati nasi goreng dan secangkir teh saja ditemani beberapa potong buah. Jadwal ke GWK sekitar jam 11.00 WITA, sementara aku sudah selesai sarapan pukul 08.00 WITA. Sambil menunggu waktu aku menghabiskan untuk jalan - jalan di sekitar Pantai Kuta dan Legian.

Pagi yang cerah di kawasan Pantai Kuta
Hari ini keadaan benar - benar bersahabat. Pagi yang cerah aku menyusur Pantai Kuta ditemani Acek dari P. Siantar. Menikmati pantai dan birunya laut. Ombak bergulung, pantai masih sepi hanya beberapa gelintir orang saja. Deburan ombak menyapu pasir putih Pantai Kuta. Aku menyaksikan perpaduan langit biru, laut biru dan pasir putih. Ombak bergulung menghembas ke pantai. Indah sekali anugrah Yang Maha Kuasa.

Aku tidak menyebur menikmati indahnya perpaduan antara birunya langit dan birunya laut. Aku kurang menyukai berbasah - basah di tepian pantai. Hanya menikmati keindahan laut dan birunya langit di Pantai Kuta. Indah memang, tak salah jika banyak seniman mengekspresikan hasil karya seni lewat petikan gitar dan syair melalui lagu atau lukisan tentang indahnya Pantai Kuta.

suasana di Kuta dan di depan Monumen Bom Bali pagi itu
Menyusuri sekitar Pantai Kuta tak terasa aku dan Acek itu sampai juga ke Monumen Bom Bali. Aku melihat tulisan nama - nama yang menjadi korban keganasan ledakan bom Bali. Sungguh miris, Islam tidak pernah mengajarkan kebencian, Islam mengajarkan kasih sayang dan Islam adalah agama yang menjadi rahmad bagi seluruh alam. 
Pagi itu aku menyaksikan monumen di perempatan jalan Kuta dan Legian yang menjadi saksi bisu atas kejadian tindakan teror di Pulau Dewata.

Monumen ledakan Bom Bali
Melihat nama - nama korban dan negara asal, ada rasa gundah di hati dan sedih, korban yang meregang nyawa, semoga di terima di sisi-NYA.
Perjalanan aku lanjutkan, menikmati kawasan pertokoan di sekitar Legian, masih pagi, aktifitas belum terlalu ramai. Di sekitar toko - toko kawasan Legian pun belum banyak yang buka. Aku menyusuri jalanan, menikmati Bali yang belum terlalu ramai, sesekali mendengar suara - suara pedagang yang menawarkan dagangannya. Cuaca benar - benar bersahabat.
Di pantai sekitar Legian, aku menyaksikan pedagang yang menjajakan dagangan ukiran kayu dengan bentuk Mr. Dick dari ukuran mini sampai yang BIG SIZE. Dipajang diatas kain. Selain itu di kawasan pantai sudah mulai ramai pedagang keliling dan para pemijat yang menawarkan jasa pijatan bagi yang berkenan. Pedagang yang ramah dan juga penjaga pantai yang selalu menyunggingkan senyuman.

Pantai di sekitar Legian ( Legian Beach )
Puas menyusuri kawasan Legian, aku berencana kembali ke Hotel karena tour guide kami menyampaikan jam 11.00 WITA sudah harus kembali ke hotel untuk melanjutkan perjalanan ke GWK. Aku, Acek dan rombongan dari Medan sepakat untuk menyewa van, karena kami rasa terlalu jauh kalau kami kembali dengan berjalan kaki. Akhirnya sepakat dengan van yang kami sewa dengan harga Rp. 200.000,- ( dua ratus ribu rupiah ) dari Legian ke Ramada Bintang Beach Hotel. Mahal memang, karena di Bali tidak ada angkutan kota seperti halnya di Medan. Kami sharing sekitar 8 orang, jadi masing - masing individu bayar Rp. 25.000,-.

Jam 11.30 WITA tour guide mengarahkan kami ke bus rombongan masing - masing untuk menuju ke Garuda Wisnu Kencana. Di dalam bus kami penuh dengan gelak tawa, di pandu dengan pemandu yang ramah. Sekitar jam 12.30 WITA kami sampai di parkiran kawasan Garuda Wisnu Kencana.
Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana terletak di bagian selatan Bali tepatnya di Tanjung Nusa Dua Bali, Kabupaten Badung, kira - kira 40 km dari Denpasar. Disini kita akan melihat patung raksasa Dewa Wishnu dan patung Garuda yang menjadi tunggangan Dewa Wishnu.
Sebelum masuk di Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana kita akan melihat patung - patung di depan pintu masuk atau pintu gerbang seperti Patung Rama

salah satu patung di gerbang pintu masuk
Berjalan masuk di Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana kita akan melihat bukit - bukit kapur yang dibelah dan menjadi lorong menuju kawasan Wisnu Plaza dan Lotus Pond. Patung Wisnu sebagai titik pusat Wisnu Plaza dikelilingi oleh air mancur dan air sumur suci di dekatnya yang konon tidak pernah kering walaupun musim kemarau. Kawasan Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana sangat panas jadi dianjurkan untuk membawa topi saat kunjungan ke tempat wisata ini.

air mancur sebelum menuju puncak Patung Wishnu
Menuju ke kawasan Wisnu Plaza dimana Patung Wisnu berada kita akan menaiki anak tangga dan di sekitar pintu masuk terdapat aula pertunjukan. Pada saat kunjungan aku kesana sedang ada pertunjukan Tari Topeng ( sudah aku tulis sebelumnya di blog ini ).

Bukit - bukit kapur di sekitar Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana
Setelah menyaksikan pertunjukan Tari Topeng aku bergegas menaiki menuju Titik Puncak dimana Patung Dewa Wisnu berada, berkeringat juga menaiki anak - anak tangga ditambah lagi dengan cuaca yang terik. Sampai di  puncak Wisnu Plaza di mana keberadaan Patung Dewa Wisnu dari sini kita dapat menyaksikan hamparan sekitar Pulau Bali dan jika ingin jelas melihat disediakan teropong dan dikenakan tarif sekitar Rp. 10.000,- ( sepuluh ribu rupiah ) untuk masa 30 menit kalau tidak salah waktu untuk menggunakan teropong tersebut.
melihat kawasan Pulau Bali dari puncak Wishnu Plaza
Di sekitar Wisnu Plaza terdapat Balai Bengong, disini kita diperkenankan untuk duduk sekedar ngaso atau beristirahat, di sekitar Balai ini banyak pohon - pohon meneduh sehingga kita lebih nyaman untuk sekedar beristirahat.
kawasan di sekitar Balai Bengong
Mencapai puncak kita dapat melihat betapa indahnya ukiran Patung Dewa Wisnu, patung stinggi 120 meter yang sedang menunggangi  tunggangannya yaitu Garuda. Area ini berada di atas ketinggian 146 di atas permukaan tanah atau 263 di atas permukaan laut.

menuju Plaza Wishnu dimana Patung Dewa Wishnu berada

Di belakang Wisnu Plaza kita akan menjumpai Patung Garuda setinggi 18 meter yang berada di kawasan Garuda Plaza. Garuda Plaza menjadi titik pusat dari lorong lorong bukit kapur yang telah saya sebutkan sebelumnya yang luasnya sekitar 4.000 meter persegi yang menghampar terbuka atau disebut dengan Lotus Pond yang dikelilingi oleh bukit bukit kapur.

Patung Garuda di kawasan Garuda Plaza

berfoto di latar belakang Lotus Pond

Sudah waktunya makan siang, kami diarahkan untuk menuju ke Street Theater, dimana lokasi tersebut terdapat restoran dan toko - toko souvenir. Kami makan di restoran yang telah disediakan oleh tour travel kami selama perjalanan di Bali. Selepas makan siang kami masih diperkenankan untuk mengeksplor kawasan Garuda Kencana.
Setelah itu kami pun menuju ke Dream Land Beach. Di Kawasan Dream Land Beach tak ada bedanya dengan kawasan pantai lainnya di Bali. Disini pengunjung atau wisatawan luar negeri atau bule yang lebih dominan. Menjelang maghrib kami meninggalkan Dream Land Beach untuk selanjutnya kami mengisi perut di Chinese Restoran Halal, namun dibanding dengan Restoran Nelayan Medan, rasanya masih lebih maknyus Restoran Nelayan Medan.

Tulisanku hari kedua di Bali mungkin sampai disini dan akan aku tulis selanjutnya perjalanan selama di Pulau Dewata nantinya namun sebagian telah aku tulis pada blogku sebelumnya.

Dan akan aku sampaikan lewat foto - foto yang telah aku dokumentasikan.

disempatkan mampir ke Hard Rock Hotel Bali
Patung Garuda setinggi 18 meter
Patung Dewa Wisnu
Dream Land Beach

Jumat, 13 Juli 2018

BALI ( PART I ) MENIKMATI KEINDAHAN TANAH LOT

Perjalanan yang terbilang cukup lama sebenarnya, sudah lebih 5 tahun namun belum sempat aku tulis dan hanya aku simpan di Tumblr saja, namu sayang Tumblr sudah diblokir di Indonesia. Akhirnya aku coba menulis dan menyimpannya perjalanan tersebut. Semoga memori 5 tahun lalu masih tersimpan rapi di imaginasi otakku, berusaha mengingat agar tak tergerus oleh masa dan tua yang makin merambat.

senja di Tanah Lot, sayang baru turun hujan

indah dan birunya pantai Kuta dipadu dengan langit yang cerah
Ini merupakan perjalanan di Maret 2013. Perjalanan dengan pesawat pagi - pagi banget dari Bandara Polonia Medan, sebelum subuh sudah harus berangkat dari rumah menuju Bandara Polonia diantar keponakan naik motor di pagi yang dingin. Alhamdulillah tidak sampai ketinggalan pesawat.
Bandara Polonia masih melayani penerbangan domestik dan Internasional pada saat itu. Check in di Maskapai Garuda dan langsung menuju ke gate penerbangan, masih pagi banget namun kondisi Bandara Polonia sudah ramai dengan orang - orang yang akan terbang.
Sampai di Cengkareng sekitar pukul 07.00 WIB dan harus transit karena jadwal penerbangan berikutnya ke Bali pada pukul 10.00 WIB.
Perjalanan yang menyenangkan ditemani langit biru yang minim awan, benar - benar cuaca bersahabat. Pukul 10.00 WIB akahirnya tiba juga dan lanjut dengan Maskapai Garuda untuk ke Denpasar. Di pesawat sempat ngobrol dengan penumpang dari Jakarta mereka rombongan keluarga untuk liburan ke Bali dan mereka menyebutkan masih memiliki garis keturunan dari Sumatera Utara, jumpa saudara dech.

Pukul 14.00 WIB atau pukul 15.00 WIB sampai di Bandara Ngurah Rai Denpasar Bali dan langsung disambut oleh travel agent yang membawa rombongan kami. Langsung di bawa makan siang di restoran nusantara, menikmati makan siang karena perut juga sudah mulai keroncongan. Makan siang masih di Denpasar.

menikmati makan siang disini ditemani iringan gamelan Bali yang merdu mendayu

Selepas makan siang, aku segera mencara mesjid di Denpasar untuk melaksanakan sholat Dzuhur ( jamak ) dan Ashar karena sudah masuk waktu sholat Ashar di Denpasar. Beruntung mesjid raya di Denpasar tak jauh tempatnya dari Patung Kuda ( yang sudah aku tulis di awal blog ku ). Akupun sholat disin berjamah, ramai jama'ah di mesjid ini. Mungkin ini satu - satunya mesjid di Denpasar karena sepanjang perjalanan selama 4 hari di Bali aku jarang sekali menenmu mesjid di Bali sekitarnya.

Selesai sholat sambil menunggu rombongan lain kami sejenak istrirahat di sekitar lokasi Patung Kuda di Denpasar untuk melanjutkan perjalanan ke Tanah Lot.
Hujan mulai menyambut kedatangan kami dan di Tanah Lot mulai rintik rintik menyapa kedatangan kami. Tanah Lot tidak secantik biasanya, karena sekitarnya ditutupi awan kelabu.

suasana Tanah Lot di sore itu, mendung kelabu
 Moment yang kurang tepat berkunjung ke Tanah Lot, karena cuaca hujan dan mendung yang menutupi langit di kawasan Bali. Tapi hal tersebut tidak menyurutkan niatku untuk menuju ke Tanah Lot. Sesampai di Tanah Lot kami diberitahu tentang keberadaan kisah dan sejarah Tanah Lot oleh para pendeta Hindu yang menjaga kawasan Tanah Lot tersebut.
Di Tanah Lot terdapat dua pura yang terletak di atas batu besar, namun tidak sembarangan orang diperkenankan masuk ke pura tersebut. Di tengah - tengah laut yang mengelilingi Tanah Lot terdapat mata air tawar yang mengalir dari bebatuan Tanah Lot ini. Pengunjung diperkenankan menggunakan dan minum air tersebut oleh para pendeta dan setelah itu diberikan beras untuk disematkan pada kening kita.

Menurut legenda pura ini dibangun oleh seorang Brahmana yang berasal dari Jawa yang bernama Danghyang Nirartha yang berhasil menguatkan kepercayaan penduduk Bali akan ajaran Hindu dan membangun Sad Kahyangan pada abad ke 16.

Sore itu dari bibir pantai ke Pura Tanah Lot air laut mulai pasang dan ombak mulai mengayun ayun tapi cukup aman untuk aku lalui. Aku menuju ke Pura tersebut dan aku sempatkan berwudhu dengan mata air yang terdapat di Tanah Lot, Namun perlu diketahui air dari mata air di Tanah Lot tidak diperkenankan untuk membasuh kaki, jadi untuk menghormati mmasing - masing kepercayaan untuk membasuh kai kita dapat menggunkan air laut saja karena air laut tersebut dalam kategori air yang suci dan lagi mensucikan menurut ajaran fiqih yang aku dapat dan aku anut.

Senja mulai merapat dan berangsur tiba, cuaca masih belum bersahabat, air laut mulai pasang. Aku sempatkan untuk eksplorasi di sekitar Pura Tanah Lot, ada tempat - tempat tertentu yang dipasang tanda "DILARANG MASUK". Aku hormati itu dan aku sejenak menikmati senja dan merah di Tanah Lot. Langit kelabu tapi tidak untuk hatiku, karena aku begitu gembira untuk menikmati Pulau Dewata.

kelabu menggelayuti Tanah Lot

sore di Tanah Lot

langit mulai gelap

senja menjelang

sejenak di atas bebatuan

menjelang mentari ke peraduan

dan langit mulai memerah

air lautpun mulai pasang

malam menjelang di Tanah Lot

Hujan masih belum bersahabat dengan rombongan kami, dan semakin deras rinai - rinai turun membasahi bumi Pulau Dewata. Akupun segera kembali ke bibir pantai, namun sial bagiku air pasang yang sudah mencapai sebatas pinggang akhirnya membasahi handphone ku dan pada akhirnya tidak dapat aku gunakan lagi. Selama di Pulau Dewata tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga karena handphone tersiram air laut di Tanah Lot.

Tanah Pulau Dewata masih basah dan kami kembali menuju Kuta sebelum akhirnya untuk makan siang di tempat yang sama di restoran Tempo Doeloe. Mentari tidur di peraduan dan kami pun segera check in di hotel Ramada Bintang Beach Hotel di Kuta. Kelelahan menghinggapiku untuk segera berangsur menuju peraduan malam, tidur.

Rabu, 04 Juli 2018

IN MEMORIAM : "MENGENANG SAHABAT YANG TELAH KEMBALI"

Waktu terus berlalu dan tak akan menoleh pada masa lalu. Dia berputar ke depan dan tak akan mundur ke belakang. Terus berjalan mengelilingi masa yang terus beredar, detik, jam, hari, minggu, bulan dan akhirnya berganti tahun.
Beberapa tahun engkau telah meninggalkan kami, dan engkau tak lagi hadir dalam keriuhan dan tertawa kami. Engkau telah tenang dalam pangkuan Sang Khalik. Kami disini masih berjibaku mengejar waktu dan tak tahu sampai mana batas waktu kami yang masih tersisa lagi.

Engkau tak ada disini sahabat, karena engkau telah berpulang lebih dahulu

Sahabat, engkau tak hadir dalam bingkai foto kami karena aku tahu kita tak lagi di alam yang sama. Engkau pergi meninggalkan kami lebih dahulu untuk memenuhi janji yang telah terpatri sebelum kita muncul di dunia fana ini.
Sahabat, aku bersyukur masih mendengar cerita - ceritamu sebelum kepergianmu, mendengarkan kebahagiaanmu kala mengenang masa - masa kita menempuh pendidikan dulu di kampus yang sama. Betapa bahagianya engkau sabahat di tengah rasa sakitmu kala engkau mengingat kekonyolan - kekonyolan yang kita lakukan di masa itu.
Aku menatapmu dan aku menaruh harap pada saat itu, akan segera diangkatnya rasa sakitmu. Dan  engkau boleh beraktifitas sebagaimana aktifnya engkau pada masa itu sperti yang aku tahu Sahabatku.

Sahabat, masa telah tertulis sebelum kita dihembuskan nyawa. Bahwa kita sudah berjanji dengan Sang Khalik kapan kita lahir, kapan ada pertemuan, perpisahan dan akhirnya sang kematian yang akan menjemput kita.

Sahabat, mungkin aku diberi masa lebih lama dari engkau di dunia fana ini. Tapi aku yakin pada saatnya aku pasti menyusul di ruang abadi yang aku tak tahu bila dia akan datang menjemputku. Tapi itu adalah kepastian yang mutlak Sahabat.

Aku selalu mengingat kebaikan - kebaikanmu wahai Sahabat dan aku hanya dapat mengirimkan sebait AL - FATIHA untukmu Sahabatku yang telah pulang kepada Sang Khalik lebih dahulu.
Sahabat, engkau tidak akan kesunyian karena kami yakin dan pasti semuanya akan menyusulmu, biarlah waktu dan hanya Sang Khalik yang maha tahu kapan kami menyusul di alam yang sama.

Pada saatnya kami akan menjadi kisah masa lalu

Sahabat, semoga engkau tenang disana dan senantiasa khusnul khatimah.

Minggu, 10 Juni 2018

SELAMAT TINGGAL YM!

17 Juli 2018, aplikasi YM atau Yahoo Messenger tutup dan tidak melayani para penggunanya. Aplikasi pelopor chat yang sangat populer pada era awal - awal 2000-an akhirnya harus menyerah dengan makin maraknya aplikasi chat yang lebih lengkap fitur - fiturnya untuk kebutuhan manusia zaman sekarang.


Sedih juga sich,  aku termasuk orang konvensional di media social dan pengguna setia YM sampai saat ini untuk chat dengan teman - temanku. YM telah menemaniku diawal - awal aku mengenal dan menggunakan internet. Masih ingat di awal - awal tahun 2000-an, begitu ketemu dengan pengguna internet biasanya langsung nanya apa nama nick name kita di YM.

Sekarang tinggal menunggu waktu saja hanya hitungan beberapa hari lagi. Akhirnya tak ada pilihan lain, aku harus menggunakan aplikasi yang selama ini tak kugunakan karena keputusan dari Managemen YAHOO!.
Selamat tinggal YM, yang telah pernah membawaku jauh berselancar di dunia maya.


Kamis, 07 Juni 2018

RAMADHAN KALI INI 1439 H - 2018

Hari ini tanggal 08 Juni 2018 Ramadhan telah memasuki hari yang  23, tak terasa sudah menjelang detik - detik terakhir. Ramadhan yang panas, tapi untungnya kami mampu menjalani hingga detik ini dengan penuh tanpa pernah tertinggal. Ramadhan kali ini tanpa kehadiran Bapakku karena telah berpulang ke pangkuan ILLAHI ROBBI di 08 - 08 - 2017, semoga khusnul khotimah dan ditempatkan di tempat yang terbaik disisi ALLAH ya Pak, Amien.

Ramadhan yang penuh berkah dan berlimpah pahala, semoga kita dapat menjalankan dengan penuh hikmah dan jauh dari rasa riya. Ramadhan kali ini kami sambut dengan suka cita walaupun dengan penuh sederhana. Tiada hal - hal yang berlebih dan aku menjalani beberapa tahun terakhir dengan lebih bermakna. Tiada lagi kegiatan acara dan undangan berbuka puasa bersama dari rekan - rekan atau kolega yang aku hadiri dan itu sudah aku laksanakan beberapa tahun terakhir. Aku ingin menikmati indahnya menunggu adzan maghrib dengan keluarga kecilku saja. Bukan untuk memutuskan silahturahim tetapi mencoba untuk memaknai Ramadhan tanpa hura - hura saja. Tiada hal lain. Semoga Ramadhan kali ini membawa berkah bagi diriku, keluarga kecilku terutama, keluarga besarku dan untuk seluruh rekan dan kaum muslimin dan muslimat.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1439 Hijriyah, semoga amal ibadah kita diterima disisi ALLAH SWT. Amien


 Salam Ramadhan.



 

Minggu, 13 Mei 2018

SEJENAK DI STESEN BUKIT BADAK

Perjalanan yang tidak disengaja sebenarnya di stasiun kereta, di bulan April 2016. Sore itu perjalanan dari KL Sentral dengan KTM menuju ke Port Klang. Menaiki komuter yang menemani perjalanan kami saat itu. Aku sangat yakin bahwa KTM yang kami tumpangi saat itu akan membawa kami ke pemberhentian terakhir yaitu Pelabuhan Klang, tapi ternyata hanya sampai di Stesen Klang saja. KTM beralih arah untuk menuju ke KL Sentral kembali dan dengan beberapa warga setempat yang tujuan akhir ke Port Klang ikut kembali ke perjalanan ke KL Sentral. Aku tidak risau karena KTM sekitar 15- 30 menit selalu datang kembali.



Stesen Bukit Badak

Stesen Bukit Badak merupakan stasiun kecil saja, tidak banyak aktifitas penumpang yang naik turun di stasiun ini. Aku pikir Bukit Badak tidak merupakan kawasan perkotaan dan kawasan perdagangan sehingga tidak terlalu banyak yang naik turun disini, berbeda dengan stasiun Klang.
Menunggu kereta tujuan Port Klang aku sempatkan mengabadikan dan menyaksikan beberapa kegiatan sore di stasiun Bukit Badak.  Aku lihat banyak pekerja konstruksi yang sudah menjelang pulang setelah beraktifitas seharian. Beberapa mobil parkir di depan stasiun, mungkin milik masyarakat sini yang bekerja di Kuala Lumpur yang pulang pergi naik kereta api selanjutnya dari stasiun ini ke rumahnya baru menggunakan mobilnya ( orang Malaysia menyebut mobil dengan kata "kereta", orang Medan menyebut kendaraan roda dua juga dengan "kereta" ).

Stasiun ini sunyi dan jika keluar dari stasiun ini tidak aku jumpai orang berjualan di sekitar stasiun atau sekedar kedai kopi saja pun tak ada. Hanya sekedar counter kecil saja untuk penjualan tiket kereta api.

suasana stasiun kereta Bukit Badak di sore hari tidak ramai bahkan boleh dikatakan sunyi
 Kami harus menyebarang jembatan untuk menunggu kereta api tujuan Port Klang, karena kalau tidak menyebrang maka kereta dari Port Klang tujuan KL Sentral nanti yang akan lalu. Menyebragi jembatan seperti yang terlihat difoto. Dan selama kami menunggu kereta api dari KL Sentral hanya ada 1 penumpang saja dari Bukit Badak yang naik untuk tujuan Klang ataupun Klang. Padahal jika aku perhatikan saat sore aktifitas naik turun penumpang dari KL Sentral cukup padat. Mungkin karena Bukit Badak, Klang dan Port Klang termasuk stasiun pemberhentian yang boleh dikatakan di ujung sehingga penumpang tinggal sedikit, Banyak yang sudah turun sesuai dengan tujuan dan rumah masing masing di stasiun sebelumnya. Kawasan menunggu kereta termasuk lebar di sisa kiri - kanan badan jalan kereta api, yang telah di buat lantai paving block yang permanen. Dan di sisi perbatasan dengan kawasan pemukiman dipagar besi di sepanjang jalan perlintasan kereta api.

Sore itu langit biru di sekitar Stesen Bukit Badak, matahari bersinar cerah dikala sore yang menjelang. Aku menikmati sore yang biru di Bukit Badak, yang mungkin tidak akan dikunjungi oleh pelancong mananpun dari Indonesia. Sore yang cerah di Stesen Bukit Badak.

langit benar - benar bersahabat di sore itu
dengan latar jembatan penyeberangan

suasana sunyi di Stesen Bukit Badak

menyempatkan bercengkerama sebelum kereta api datang
mengantuk   
hanya ada seorang penumpang lain saja

Sore yang yang cerah namun sepi di Stesen Bukit Badak, entah kapan lagi aku akan menyinggahimu.

Jumat, 04 Mei 2018

PAGI YANG SEPI DI MENARA PANDANG TELE

Minggu di bulan Agustus 2015, aku dan keluargaku jalan - jalan ke Parapat, Danau Toba. Rute kali ini yang kami lalui tidak melalui rute P. Siantar namun rute melalui Tanah Karo. Malam hari kami bergerak dari Kota Medan. Menembus kegelapan malam, banyak dihabiskan tidur di dalam bus. Gelap dan sunyi yang kurasakan, namun cuaca sangat bersahabat, karena tidak turun hujan. Hanya saat itu Medan dan Sumatera sedang diselimuti kabut asap yang tebal. Kabut asap yang benar - benar menutupi langit biru Sumatera

Danau toba yang diselimuti kabut asap dari Menara Pandang Tele
Perjalanan kami sempatkan mengunjungi pemandian air panas Sidebuk - Debuk, tapi aku tidak turun dan tidak meniatkan untuk sekedar berendam di air panas belerang, saat itu aku tidak tertarik. Karena akan meninggalkan aroma belerang yang menyengat yang tertinggal di badan sementara perjalanan yang akan dituju masih panjang. Sekitar pukul 01.30 kami meninggalkan pemandian air panas Sidebuk - Debuk Tanah Karo. Yang aku perhatikan makin malam menjelang makin banyak pengunjung yang berdatangan, mungkin untuk menghangatkan badan di tengah kedinginan udara Tanah Karo yang menusuk kulit.

Perjalanan kami lanjutkan tujuan utama sebenarnya ke Danau Toba Parapat melalui Desa Silalahi, tapi aku sarankan melalui Merek dan Tele karena aku penasaran dengan keindahan Tele yang sangat populer bagi penggemar fotograpi. Perjalanan dilanjutkan di tengah kesunyian malam dan dinginnya udara Tanah Karo yang menyengat di malam hari menjelang pagi. Sempat mengisi BBM di POM Bensin di Merek - Sidikalang dan istirahat sejenak dengan suasana mata yang masih terkantuk - kantuk dan untuk menunaikan sholat Subuh.

Lanjut perjalanan menuju Jalan Sidikalang, suasana yang kami lewati perladangan kopi dan kebun sayuran yang terhampar luas dan juga peternakan kuda  yang dibiarkan bebas lepas di lapangan yang menghijau. 
Selanjutnya kami membelokkan bus kami sesuai petunjuk jalan di arah Dolok Sanggul. Perjalanan sepanjang jalan yang sunyi dengan pemandangan hamparan tanah pertanian. Ladang - ladang kentang yang menjelang panen, kubis dan sayuran dataran tinggi lainnya. Pagi yang dingin dan berkabut. Melewati Desa Parbuluan sedang dilakukan perbaikan jalan dan pagi sudah menjelang dengan angin yang berselimut kabut. Aku tidak tahu apakah ini kabut asap atau kabut biasa yang menyelimuti daerah dataran tinggi.

pagi di Desa Parbuluan masih diselimuti kabut dengan perladangan disisi kanan kiri jalan


Pagi di desa Parbuluan, sedang dalam proses perbaikan dan pengaspalan jalan
Sepanjang jalan dari Medan yang mulus sempat terputus di Desa Parbuluan Kabupaten Dairi yang sedap dalam perbaikan jalan dan dalam proses pengaspalan, namun pada saat kami melintasi dalam keadaan pemadatan material. Untung saja cuaca tidak hujan sehingga kami tidak melintasi jalanan yang akan berlumpur. Perjalanan kami saat ini melalui beberapa Kota dan Kabupaten. Sampai di Parbuluan yang telah kami lalui Kota Medan, Kabuaten Deli Serdang, Kabupaten Tanah Karo dan Kabupaten Dairi serta memasuki Kabupaten Toba Samosir. Pagi yang sepi di sepanjang perjalanan belum kami temui bus atau kendaraan yang melintas dan berpapasan dengan kami. Benar - benar suasana sunyi dan syahdu, ditambah lagi dengan langit yang tertutup awan kelabu dan kabut asap pekat yang masih menyelimuti bumi Toba. Perjalanan kami lanjutkan lagi dengan sedikit guncangan disana - sini karena sedang ada perbaikan jalan.

Pagi menjelang dan perjalanan kami tidak hanya melewati perladangan dan perkebunan saja, tapi suasana perkampungan sudah mulai hidup. Di pagi ini aku menyaksikan anak - anak meramai - ramai menuju ke gereja untuk melakukan kebaktian minggu, menyaksikan keceriaan untuk melaksanakan perintah Tuhan sesuai dengan keyakinan yang dianut. Serta menyaksikan mereka menikmati sarapan pagi sebelum melakukan kebaktian dengan makan mie gomak yang ramai dijual di sekitar halaman gereja. Hampir suasana yang sama aku lihat pemandangan anak - anak yang antusias ke gereja dan bersarapan pagi dengan nikmat dan suka cita.

Perjalanan kami lanjutkan dan sampai di Simpang Tele kami berhenti sebentar untuk membeli makanan ringan. Aku sempatkan membeli ombus - ombus dan lapet yang merupakan kue tradisional khas Toba disini. Menikmati ombus - ombus dan lapet hangat yang masih mengepulkan asap benar - benar nikmat. Lapet disini sangat khas dibungkus dengan daun bambu. Aroma dan kehangatannya menggungah selera. Kubeli beberapa dan kunikmati, kubagikan dengan anggota keluarga yang lainnya namun karena masih mengantuk jadi mereka kurang berselera.

Dari Simpang Tele perjalanan menuju Menara Pandang Tele sebenarnya tidak jauh lagi, namun jalan yang dilalui benar - benar membutuhkan keahlian pengemudi yang handal. Jalan yang berkelok - kelok, diatasnya perbukitan dan di bawah jurang - jurang, kadang - kadang ditemui tanah yang longsor dari atas perbukitan. Untung saja cuaca hari itu tidak hujan sehingga jalan yang dilalui tidak licin. Sepanjang perjalanan aku dapat menyaksikan Danau Toba yang terbentang indah hanya disayangkan kabut asap yang tebal sehingga mengurangi keindahan walaupun sebenarnya d ibulan itu lagi musim kemarau, namun pembakaran hutan yang eksplosif menyebabkan kabut asap menyelimuti langit dan kawasan Sumatera sehingga menggangu keindahan Tele dan danau Toba juga mengganggu kesehatan kita tentunya.

Perkampungan di sekitar Tele dari Menara Pandang Tele kala pagi hari yang tertutup kabut asap tebal

kawasan danau Toba dari Menara Pandang Tele

Kabut asap mengurangi keindahan Danau Toba dari Menara Pandang Tele
Sampailah kami di Menara Pandang Tele, menara yang terdiri dari 4 tingkat yang dibangun oleh Pemerintah Daerah Samosir. Tele terletak di Kabupaten Samosir. Dari Menara Pandang Tele kita dapat melihat dari kejauhan air terjun Sidohoni dan juga desa - desa dan persawahan yang terbentang di sekitar bumi Samosir.

Tele pagi itu yang aku nikmati sangat sunyi, hanya rombongan kami yang melintasi Menara Pandang Tele pada saat itu. Lalu lintas dan armada yang lalu lalang masih minum, benar - benar sunyi dan sepi. Aku naik ke Menara Pandang Tele dengan anakku yang dikenakan tarif hanya Rp. 2000 untuk naik ke Menara Pandang Tele, tarif yang sangat murah untuk dapat menikmati keindahan Danau Toba dari menara tertinggi. Sampai di atas dengan menaiki anak tangga terasa disambut semilir angin pagi bumi Samosir. Sepanjang penglihatan, jalanan dari Tele ke Pangururan sangat sepi, armada belum ada yang melintas. Benar - benar pagi yang sepi di Tele. Beberapa bule aku lihat disini dengan mengendarai sepeda sepertinya tujuan mereka ke Pangururan dan dilanjutkan ke Samosir.

Perjalanan kami masih akan lanjut lagi karena tujuan kami adalah Samosir dan Parapat. Selamat tinggal Tele aku benar - benar menikmati kesunyianmu.

Foto - foto di sekitar Menara Pandang Tele Kabupaten Samosir

di lantai IV Menara Pandang Tele

perbukitan yang diselimuti kabut asap

di atas Menera Pandang Tele

di depan tugu prasasti Menara Pandang Tele

istriku di tugu prasasti Menara Pandang Tele

foto keluarga besar di depan Menara Pandang Tele

suasana jalan lalu lintas yang sunyi di Tele

Tele yang sunyi, masih rombongan kami yang berkunjung saat itu

pagi di desa Parbuluan