Rabu, 18 April 2018

BATU CAVES, KUIL PEMUJAAN UMAT HINDU

DARI KL SENTRAL KE PORT KLANG

Sebenarnya ini bukanlah perjalanan baruku, perjalanan yang telah dilakukan pada April 2014, namun belum sempat ditulis di blog ini. Aku melakukan perjalanan ini bersama anak dan istriku. Di bulan April 2014, penerbangan dari Medan ke Kuala Lumpur dengan maskapai Air Asia masih mendarat di KLAI LCCT Sepang. Dari LCCT kami naik bus menuju KL Sentral dengan ongkos RM 8 per orang. Sudah siang sampai di KL Sentral dan kami sempatkan makan siang di KL Sentral, setelah itu baru kami lanjutkan perjalanan naik kereta api ( KTM = Kereta Tanah Melayu ) untuk menuju Port Klang dimana saudara  kami yang telah menikah dengan orang Malaysia duduk dan bertempat tinggal.


Kami menuju ke loket untuk pembelian tiket dengan tujuan ke Klang, karena aku pikir stasiun Klang dan Port Klang adalah sama ternyata berbeda. Dari Klang ternyata masih melewati beberapa titik stasiun lagi untuk sampai ke stasiun Port Klang. Dari KL Sentral ke Klang ongkosnya kalau gak salah sekitar RM 5
Aku, istri dan anakku akhirnya turun ke stasiun Klang walaupun harus membeli tiket lagi ke Port Klang sebesar RM 1 untuk dewasa dan RM 0.5 untuk anak - anak, tapi kesempatan ini kami manfaatkan untuk menunaikan ibadah sholat ashar dan jama' sholat dzuhur yang belum kami laksanakan karena dalam perjalanan tadi.
di KL Sentral menunggu KTM ke Klang
Setelah menyelesaikan sholat dan istri membeli charger handphone sesuai dengan stop contact atau colokan listrik yang digunakan di Malaysia kami lanjutkan perjalanan menuju ke Port Klang. Kereta api datang. kami bergegas naik dan waktu perjalanan yang tidak terlalu lama hanya 5 stasiun yang kami lalui yaitu Teluk Pulau - Teluk Gadong - Kg. Raja Uda - Jalan Kastam dan berakhir di Port Klang. Port Klang adalah stasiun terakhir perjalanan KTM.

rute perjalanan KTM dari KL Sentral - Port Klang

Dan berikut rute perubahan dari Port Klang ke Tanjung Malim pada kunjungan kami tahun 2016
 
Karena menjelang senja suasana stasiun KTM di Port Klang tidak terlalu ramai dan boleh dikatakan sunyi saat menjelang maghrib. Menjelang jemputan dari saudara kami datang,  kami sempatkan menikmati stasiun Port Klang yang terhubung langsung ke pelabuhan lautnya yaitu Port Klang.
Melihat rute KTM tersebut yang membuat rencana kami untuk melakukan perjalanan atau jalan - jalan ke Batu Caves karena aku pikir tidak terlalu rumit dan mudah untuk mencapainya. Apalagi pada waktu itu 2014 KTM dari Port Klang langsung menuju Batu Caves tanpa melalui perpindahan kereta. Saat kunjungan kami tahun 2016 rute KTM dari Port Klang tidak ada langsung ke Batu Caves, harus pindah kereta di KL Sentral. Rute di ubah dari Port Klang  - Tanjung Malim atau ke Rawang kalau tidak salah.
Berikut suasana stasiun KTM di Port Klang ( sarana transportasi langsung terintegrasi antara kereta api, bus dan kapal laut di Port Klang/Pelabuhan Klang ).
menikmati senja di stasiun Port Klang
Stasiun Port Klang dengan latar belakang salah satu kantor pelabuhan

di stasiun KTM Port Klang



Menjelang maghrib akhirnya kami dijemput dan disambut dengan suka cita oleh saudara kami dan kami habiskan malam itu dengan mengunjungi Tanjung Harapan atau Tanjung Gila ( sudah saya tuliskan tentang Tanjung Harapan di tulisan awal blog ini.

BATU CAVES PERJALANAN KAMI

Rabu pagi, setelah sholat subuh kami pun segera berkemas dan kami pesankan ke saudara kami bahwa kami tak usah ditemani atau diantar untuk perjalanan kami dan kami minta saudara kami beraktifitas seperti biasa dan kami pun eksplorasi sendiri sekalian menikmati petualangan kami.
Pagi kami menuju halte dari Telok Gong Kg Nelayan untuk menuju ke stasiun kereta api Port Klang. Ongkos taksi RM 15 dari Teluk Gong. Setelah sampai stasiun bergegas menuju loket untuk membeli tiket ke Batu Caves. Dari Port Klang - Batu Caves kalau tidak salah ongkos kereta api sebesar RM 11 dan anak - anak separuh harga RM 6. Perjalanan lebih kurang 1 jam dan keadaan kereta yang tidak terlalu ramai, karena kami pergi setelah melewati jam berangkat kerja dan sekolah sehingga kereta tidak terlalu ramai.

selfi di KTM menuju Batu Caves

Perjalanan ke Batu Caves dari Port Klang kurang lebih 1 jam dan kami langsung tiba di Batu Caves. Dari Stasiun KTM begitu keluar stasiun kita sudah disambut dengan lokasi tempat pemujaan umat Hindu tersebut.
di depan pintu keluar Stasiun kita sudah dapat melihat lokasi kuil
Batu Caves merupakan bukit kapur yang memiliki serangkaian gua dan di dalam gua ini banyak terdapat kuil dan tempat semedi umat Hindu. Bila kita naik anak tangga yang berjumlah sangat banyak ( ratusan anak tangga ) maka kita banyak menjumpai umat Hindu terutama keturunan India yang melakukan pertapaan di dalam gua ini. Dibutuhkan kondisi fisik yang kuat untuk masuk ke gua di Batu Caves karena tempatnya yang cukup tinggi namun dilengkapi dengan anak tangga yang sudah terbangun dengan rapi. Dan hati - hati jika menuju ke gua di Batu Caves karena banyak monyet - meonyat yang usil yang akan merebut makanan yang kita tenteng atau jinjing, jangan menggunakan topi atau mengalungkan kamera atau menggunakan kalung yang kelihatan karena monyet - monyet disini akan usil menarik - narik benda tersebut.
Kuil di Batu Caves ini adalah salah satu kuil di luar India yang sangat terkenal atau populer. Pada bulan Januari biasanya dilaksanakan festival Thaipusam disini yang dihadiri ribuan umat Hindu dan suasananya pasti cukup ramai. Pada saat kunjungan kami di bulan April suasana termasuk sunyi apalagi kami datang masih pagi sehingga masih bisa menikmati kuil ini dengan tenang.Batu Caves dipromosikan sebagai tempat peribadatan oleh Thamboosamy Pillai.
Berdasarkan informasi yang diperoleh pada tahun 1890 oleh Tuan Pillai yang merupakan pedagang India dibangunlah Kuil Sri Mahamariaman, membangun murti ( patung yang dikuduskan ) dari Sri Subramania Swamy.  Batu Caves ini terdiri dari beberapa gua - gua, terdapat 3 gua utama dan beberapa gua kecil. Gua terbesar disebut Gua Katedral atau Gua Kuil ( Temple Caves ) yang dicapai dengan melewati ratusan anak tangga. Di dasar bukit terdapat Gua Galeri Seni dan Museum Gua. Banyak kuil - kuil di gua ini terkait kemenangan Dewa Murugan atas Iblis Soorapadam. Sepanjang perjalanan menyusuri gua tersebut kita akan menemui sangat banyak kelelawar dan di sepanjang gua tersebut banyak pedagang yang menjajakan souvenir dan ternyata jika kita kehabisan mata uang ringgit mereka juga menerima mata uang rupiah, jadi jangan kuatir bila kehabisan mata uang ringgit.
Di bawah, sebelum kita menuju gua terdapat Patung Hanoman dan Patung  Dewa Muragan. Patung Dewa Muragan merupakan patung dewa tertinggi di dunia dan berdiri setinggi 42,7 meter ( 140 ft )

Patung Hanoman Raksasa ternyata di depannya terdapat Gua Ramayana setinggi 15 meter ( 50 ft ) sebuah kuil yang didedikasikan untuk Hanoman yang menyelamatkan Dewi Sinta yang diculik oleh Rahwana. Hanoman merupakan ajudan dari Dewa Rama ( mohon maaf jika ada kesalahan dalam keterangan, tidak bermaksud untuk menistakan atau menghina, sekedar informasi yang diketahui dari beberapa sumber ).

Patung Hanoman di depan Gua Ramayana

Gua Ramayana

Pada saat kunjungan kami kesini kami menyaksikan pernikahan orang India di sekitar halaman Baru Caves dan di sekitar kuil ini terdapat taman yang dilengkapi dengan air mancur. Dan tak perlu kuatir di sekitar area Batu Caves banyak terdapat penjual makanan dan minuman dan bila ingin membeli souvenir jangan lupa untuk menawar terlebih dahulu, cocok harga baru angkat barang.
Di atas gua ini jika kita masih sanggup naik lagi menuju gua di atas Gua Katedral maka kita akan menjumpai gua yang tembus cahaya dan kita dapat menyaksikan cahaya matahari, gua di kanan kiri ditumbuhi dengan pepohonan. Sayang waktu aku sampai di gua tersebut batere kamera habis jadi tidak sempat mengabadikan moment disana dan handphone dibawa istri yang tidak ikut serta naik ke gua.
Untuk pulang kembali kita tidak perlu risau karena KTM sampai malam menuju ke Batu Caves. Selamat berlibur.
Dan berikut foto - foto kami selama di Batu Caves.

masih pagi, belum ramai pengunjung

ramai burung merpati di sekitar Batu Caves

istri gak ikut ke gua, gak sanggup, di bawah saja

taman dan air mancur di sekitar kuil Batu Caves

menyaksikan pernikahan orang India Tamil di Batu Caves
hati - hati, sebab banyak monyet usil

lokasi pemberkatan pernikahan

futu - futu ecek - eceknya

masih futu - futu ceritanya

salah satu bangunan di kuil Batu Caves penuh ornamen Hanoman
siang hari, pengunjung mulai ramai

khidmat mendengarkan pendeta dalam prosesi perkawinan

makanan di sekitar lokasi pemberkatan pernikahan

lonceng

ornamen dan asesoris pelaminan

asesoris pelaminan

taman dan air mancur di sekitar Batu Caves

air mancur dengan latar belakang gua kapur

lokasi penjualan souvenir

disini sedang dilakukan prosesi pernikahan, pengunjung bukan undangan masih diperbolehkan memasuki lokasi

Sempatkan untuk mengunjungi Kuil ini jika anda berkunjung ke Malaysia, dan gratis tanpa dipungut bayaran apapun, tiket kereta api juga murah,  mungkin kalau dari KL Sentral gak sampai RM 5. Selamat berlibur.

Minggu, 08 April 2018

MENIKMATI SISA - SISA KEJAYAAN KESULTANAN LANGKAT

Minggu., 08 April 2018 akhirnya keinginan lama yang sudah diangan- angankan dari dulu dapat dieksekusikan. Keinginan untuk jalan - jalan di Kabupaten Langkat, tepatnya di Kota Tanjung Pura. Kota yang merupakan bekas Pusat Pemerintahan Kesultanan Langkat. Sayang kejayaan Kesultanan Langkat banyak yang tidak berbekas atau punah sehingga seperti tidak ada kejayaan masa lalu. Istana Kesultanan yang telah punah seperti halnya punahnya Istana Kesultanan Serdang. Tak ada lagi bekas - bekas peninggalan kemegahan istana disini. Hanya tinggal beberapa saja yang masih tersisa dan yang masih terjaga dengan baik adalah Mesjid Azizi.

1. MESJID AZIZI
Hanya segelintir yang tersisa, yaitu Mesjid Azizi yang dibangun oleh Kesultanan Langkat. Tanjung Pura kini bukan merupakan Pusat Pemerintahan Kabupaten Langkat. Pusat Pemerintahan Langkat kini berkedudukan di Stabat dan kota Tanjung Pura kita berstatus sebagai kota kecamatan saja.


Mesjid Azizi mulai dibangun pada tahun 1899 oleh Sultan Langkat Haji Musa dan selesai dan diresmikan oleh Putra beliau yaitu Sultan Abdul Aziz Djalil Rahmat Syah pada tanggal 13 Juni 1902. Mesjid ini berdiri di atas tanah seluas 18.000 M2 dibangun atas anjuran Syekh Abdul Wahab Babussalam pada masa pemerintahan Sultan Musa Al- Muazzamsyahm namun Sultan Musa wafat sebelum pembangunan mesjid ini selesai dan diteruskan pembangunannya oleh putranya yang bergelar Sultan Abdul Aziz Djalil Rahmat Syah yang merupakan Sultan Langkat yang ke tujuh ( Sultan Langkat VII ), sumber Wikipedia.

Desain bangunan mesjid ini bergaya Timur Tengah dan India. Menurut sejarahnya mesjid ini dibangun mendatangkan arsitek berkebangsaan Jerman dan pelaksanaan pembangunan atau pekerja kebanyakan dari etnis Tionghoa dan masyarakat Langkat sendiri. Bahan bangunan mesjid ini berasal dari Penang dan Singapura yang diangkut menggunakan kapal melalui Sungai Batang Serangan. Mesjid ini diresmikan berketepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW yaitu pada tanggal 12 Rabiul Awal 1320 H atau bertepatan dengan tanggal 13 Juni 1902.


Ornamen - ornamen dan design bangunan bergaya Timur Tengah dan juga India dengan kubah - kubah yang banyak, di kubah utama atau kubah yang paling besar dilengkapi dengan jendela - jendela yang berfungsi sebagai tata cahaya untuk mesjid ini.

Ruang utama mesjid bersegi empat, bangunan induk berukuran 25 m x 25 m dengan dilengkapi dengan serambi Timur, Utara dan Selatan. Pintu utama berada di tengah - tengah sisi Timur, Utara dan Selatan dan di sisi kanan kiri  pintu utama terdapat pintu yang lebih kecil.

Pintu yang berada di sisi kanan kiri pintu utama
Di serambi Timur, Utara dan Selatan banyak terdapat pilar - pilar penyokong bangunan dengan nuansa Timur Tengah dan di dinding mesjid banyak terdapat lukisan kaligrafi. Untuk lukisan kaligrafi apakah ini telah ada sewaktu zaman kesultan atau dibuat baru pada zaman sekarang aku kurang tahu. Keindahan Mesjid Azizi ini menjadi rujukan pembangunan Mesjid Zahir di Negara Bagian Kedah, Malaysia sehingga kedua mesjid tersebut memiliki kesamaan satu sama lain.

Kami tiba di Tanjung Pura bertepatan dengan waktu Sholat Dzuhur sehingga kami sempat sholat berjama'ah di Mesjid Azizi ini. Mesjid ini dinamakan dengan Mesjid Azizi sehubungan dengan salah seorang yang berperan penting dalam penyelesaian pembangunan mesjid ini yaitu Sultan Abdul Azizi Djalil Rahmat Syah.
Di sekitar halaman mesjid ini banyak terdapat makam atau pusara keturunan Sultan Langkat dan salah satunya adalah makam Pahlawan Nasional Indonesia yaitu Tengku Amir Hamzah seorang sastrawan pada zaman atau masa Balai Pustaka. Di sekitar mesjid terdapat perpustakaan T. Amir Hamzah, sayang pada saat kedatangan kami perpustakaan tutup.

D sisi Barat Mesjid Azizi terdapat banyak makam - makam keturunan Kesultanan Langkat dan salah satu makam tersebut adalah makam Tengku Amir Hamzah.

Menara Mesjid terletak di sebelah Timur Laut bangunan utama mesjid ini. Saat ini mesjid dan menara Mesjid Azizi dicat warna kuning sesuai dengan warna khas Tanah Melayu yang membentang di sepanjang Pulau Sumatera.

Di depan atau dekat menara terdapat makam dari keturunan Sultan Langkat yang meninggal pada masa Revolusi Kemerdekaan, sesuai yang tercantum di nisan pada tahun 1946.
Tak jauh atau tepatnya di depan Mesjid Azizi terdapat bangunan sisa kolonial Belanda yang dahulu merupakan Kantor Kesultanan Langkat yang saat ini digunakan sebagai Museum Langkat.

2. MUSEM LANGKAT
Tahun 2003 bangunan ini digunakan sebagai Museum Langkat. Meseum yang menyimpan barang - barang pribadi peninggalan Tengku Amir Hamzah, namun sayang museum yang menempati bangunan bersejarah bekas kantor Kesultanan Langkat tidak terurus dan terawat, penuh dengan rumput liar dan nyaris sepert semak belukar.

 Sebenarnya bangunan peninggalan masa Kesultanan Langkat dibangun pada zaman kolonial ini memeiliki design bangunan yang unik. Bangunan gedung ini bukan persegi seperti layaknya bangunan - bangunan perkantoran atau perumahan. Bangunan gedung ini bulat dan atap bangunan pun didesign bulat seperti kubah. Di setiap sudut - sudut bangunan atau tiang - tiang penyokong terdapat ruangan kecil yang membentuk segitiga runcing yang juga dilengkapi dengan daun pintu.

Sudut pandang bangunan ini juga sangat strategis yang memandang ke sisi - sisi jalan dan pada bangunan atau teras - teras disanggah dengan pilar - pilar beton yang sangat kokoh. Design yang indah dan unik sayang tidak ada sentuhan perawatan dan kepedulian dari Pemerintah Daerah. Seharusnya kalau dikelola dengan baik akan mengundang pengunjung untuk hadir disini seperti halnya Kota Melaka. 


Teras bangunan museum ini mengelilingi bangunan sesuai dengan desain bangunan yang bulat dan terdapat 4 pintu untuk dapat memasuki gedung ini, namun ada 1 pintu utama. Di depan pintu utama di sisi kiri dan kanan pintu utama juga terdapat pintu. Sayang museum ini tutup saat kami kunjungan ke sana sehingga tidak dapat melihat isi dalam museum dan berdasarkan informasi masyarakat setempat museum ini koleksinya sudah banyak yang hilang. Sangat disayangkan sekali.

Pintu utama Museum Langkat

Sangat disayangkan bangunan yang penuh sejarah dan makna terbiarkan tak dirawat dengan kondisi yang memprihatinkan. Padahal jika dikelola dan dirawat dengan baik akan mendapatkan pemasukan dari para pengunjung dan meningkatkan wisata Langkat.

Satu hari kunjungan ke Bumi Kesultanan Langkat yang kami lalui dengan melintasi perkebunan tebu dan rumah - rumah gedung sisa - sisa peninggalan Kolonial Belanda dan gudang penjemuran tembakau Deli yang saat ini kondisinya banyak memprihatinkan.
Ayo berkunjung ke Langkat

Selasa, 03 April 2018

SELAMAT DATANG APRIL

Sudah lebih 2 bulan tidak menulis di blog ini. Sebenarnya aktifitas gak sibuk - sibuk sekali hanya rasa malas saja yang menyebabkan tidak ada tulisan selama Februari dan Maret 2018. Dan sudah lama juga gak melakukan perjalanan atau traveling jadi rasanya gak ada yang baru untuk ditulis walaupun sebenarnya banyak perjalanan - perjalanan yang lalu masih terpendam dan tersimpan rapi yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Dan satu lagi selama Februari dan Maret lagi senang - senangnya nulis di detik.com/detiktraveling jadi blog sendiri sedikit terabaikan.

Gak terasa 2018 sudah memasuki bulan April. Gak ada yang istimewa yang aku rasakan sebenarnya, gak ada moment ulang tahun di bulan ini untuk keluargaku, tapi entahlah mana tahu aku lupa pulak jadi ya harap maklum saja.
Yang aku rasakan April 2018 adalah rasa gerah karena sudah memasuki musim kemarau dan ditempat tinggalku jarang turun hujan. Memang ada sesekali turun dengan intensitas yang cukup deras tapi tidak terlalu sering.
Selamat datang April, semoga selalu memberi kebahagiaan untukku dan keluargaku semua. Juga kepada kerabat, sahabat atau teman - teman semua.
Salam Indonesia.

Jumat, 19 Januari 2018

PERJALANAN KE TEROH - TEROH DALAM FOTO

  


pencapaian di titik puncak perjalanan
Waktu tak terasa telah berlalu, banyak juga ternyata perjalanan yang telah dilalui, aku tidak akan menuliskan untuk saat ini karena sebagian telah aku tulis sebelumnya, bila ada yang terlupa nanti aku coba akan tulis.
Aku akan merefleksikan dalam bingkai foto, dan kali ini saat aku dan rekan - rekanku melakukan trekking di Air Terjun Teroh - Teroh.

persiapan dan awal perjalanan

Siap untuk menjelajah
menikmati sebagian bekal untuk cadangan tenaga dan mendengarkan instruksi ranger
bersiap - siap

mulai perjalanan menuju lokasi
Kolam Abadi sudah kelihatan

menikmati kesegaran dan kebeningan Kolam Abadi

beningnya yang benar - benar menyegarkan

bening bener....................
Sampai di Kolam Abadi gak sabar untuk langsung menyebur di sungai yang benar - benar bening dan belum tercemar. Air sebening kaca hingga pandangan sampai menembus ke dasar sungai. Kami lanjutkan makan siang disini untuk selanjutnya menuju ke Air Terjun Teroh - Teroh melalui alur sungai.

nyampe di air terjun, menikmati derasnya air terjun

kemeriahan di air terjun

pose

di atas bebatuan

menikmati keindahan ciptaan Tuhan

bahagia dengan cara kami
masih di Teroh - Teroh

Dua jempol untuk keindahannya
di atas kayu besar

memandang ke jernihnya air sungai

masih di Air Terjun Teroh - Teroh

kegembiraan kami

seru - seruan
perjalanan pulang menuju ke base camp
ngasoh, perjalanan pulang treknya lebih berat dari pada perginya, kelalahan
sudah hampir nyampe ke base camp.
Sampai ke Base Camp kami segera bersalin dengan pakaian kering, namun aku dan Dedi berpisah dari genk Punjabi. Kami ke Titik kumpul awal di Namu Sira - Sira Sungai Bingei di Base Camp EXPLORE SUMATRA lebih dahul. Sepanjang perjalanan dari Rumah Galuh kami ditemani hujan yang membasahi kami sepanjang perjalanan, namun menjelang ke Base Camp Explre Sumatra hujan sudah reda. Kami segera mandi dan membersihan diri dan setelah itu masih dijamu dengan Bang JHONI KURNIAWAN selaku Bos Explore Sumatra dengan hangatnya teh manis. Terima kasih Bang Jhoni.
Perjalanan yang benar - benar mengesankan dengan layanan yang maksimal dari team EXPLORE SUMATRA.

Senin, 15 Januari 2018

EDISI SI UDUD : " OPNAME "

Sabtu tanggal 13 Januari 2018 merupakan titik terendah dalam kisah perjalanan Si Udud. Setelah sempat dirawat akibat termakan usia, Si Udud masih bisa beraktifitas kembali walaupun sudah tidak fit dan masih terus dipaksakan.

Dud, ternyata usia tidak bisa dibohongi ya. Engkau yang telah 12 tahun lebih menemani kami akhirnya menyerah dan terpaksa diopname untuk dibongkar mesin. 
Sabtu 13 Januari 2018 akhirnya engkau terpaksa diopname juga. Setelah menahan sakit karena ketiadaan biaya engkau masih terus bertahan dan terus menemani kami dalam setiap perjalanan kami. Walaupun engkau sudah menunjukkan gejala - gejala yang memang mesti masuk ruang rawat inap tapi tetap dipaksa untuk terus menemani mobilitas kami.

Dud, bukan kami tak sayang kepadamu untuk segera memasukkanmu ke ruang rawat inap, namun biaya belum ada sehingga dengan sangat terpaksa kami tetap memaksamu untuk terus berjalan - dan berjalan mengantar kami menyusuri sepanjang kota Medan.

Dud, kelelahanmu akhirnya sampai pada puncaknya dan kau menyerah di Sabtu pagi yang cerah. Nasib baik tempat rawatan tak jauh dari perjalanan kita sehingga tak sampai menghabiskan energi dan air berliter - liter.
Dan akhirnya engkau opname untuk masa 2 hari. Turun mesin karena betapa telah lama dan telah bermil - mil engkau tempuh mengarungi jalanan yang memang tak ramah

Dud, semoga setelah keluar dari ruang perawatan engkau tetap setia menemani kami dan jangan ngulah - ngulah ya Dud.

Kami masih mencintaimu Dud.


Medan, 16 Januari 2018

Rabu, 03 Januari 2018

TAHUN BARU 2018 : MASIH SETIA DENGAN SI UDUD

Tahun 2017 telah berakhir, dan sebagian besar menyambut suka cita dan harapan - harapan baru. Ada yang menyebutkan resolusi baru, harapan baru atau entah apalah untuk mengekspresikan suka cita tahun baru.
Tahun 2018 telah datang, aku masih setia dengan Si Udud. Si Udud yang telah lebih 12 tahun mengiringi perjalanan hidupku. Si Udud yang telah menghantarkan aku dan keluarga entah kemana saja kami menjelajah.

Si Udud yang tak kenal lelah telah mengantarkan kemana tujuan dan hajatku. Udud, 12 tahun lebih engkau telah bersamaku. Baik dalam keadaan suka, maupun keadaan duka. Senang susah telah bersamamu. Banyak kisah telah kita lalui bersama ya Dud.

Semangatmu itu Dud, yang selalu kurindukan. Walau kini kau telah tua, atau orang lain mengatakan sudah renta, tapi bagiku kau masih terus berjasa Dud. Mengawali hari, kau selalu setia menungguku. Mengantarkan buah hatiku, intan payong kami untuk mulai merintis masa depannya. Tak kenal hujan, panas, kau selalu setia kemana tujuan kami. Juga tak kenal waktu, pagi, siang, malam bahkan dini hari.

Dud, tahun terus berganti, tak terasa kita telah bersama lebih dari 12 tahun. Aku berharap kita akan terus bersama Dud, tak kenal oleh waktu yang terus berganti. Aku selalu berharap engkau selalu sehat Dud, gak ngulah - ngulah. Sebab kalau kau ngulah Dud kantongku bisa bodol nanti Dud.
Sehat - sehatr selalu ya Dud!.


Dud, sudah banyak jasamu padaku dan juga pada orang lain. Banyak orang telah kau antarkan ke tujuan dan banyak orang telah engkau tumpangi. Menempuh jalanan berdebu, becek berlumpur. Tapi kau tak pernah mengeluh Dud. Berapa ribu kilometer telah kau lalui dan berapa tempat telah engkau jalani. Banyak benar jasamu Dud.

Selamat Tahun Baru Dud. Aku dan keluargaku masih setia bersama Dud. Pintaku dan keluargaku padamu : "Sehat - sehat ya Dud. Jangan ngulah - ngulah."
Terima ya  Udud!