KISAHKU ( SI UDUD )
DAN BANYU BIRU
Perkenalkan
namaku SI UDUD, itu yang selalu disematkan oleh majikanku kepadaku. Aku mulai
masuk dalam keluarga majikanku sejak Desember 2005. Kondisiku sangat mulus saat
itu, cantik dan keluaran produk terbaru di masaku.
Sejak Desember
2005 aku selalu mengiringi dan mengantar kemana pun majikanku pergi. Waktu terus
berlalu dan berajak. Perjalananku semakin jauh dan jauh. Karena aku selalu
mengiringi majikanku saat bekerja dan saat beraktifitas kemanapun majikanku
pergi.
Sudah beratus –
ratus ribu kilometer telah aku tempuh…kadang fisikku lelah. Satu yang paling
aku tidak suka dari majikanku adalah majikanku paling malas untuk
membersihkanku dan memandikanku. Di awal – awal aku masih sering dibawa ke
doorsmeer atau majikanku meminta tolong kepada keponakannya untuk membersihakan
dan memandikan diriku. Namun kini tak ada lagi yang memandikanku kecuali saat
hujan turun. Di situlah aku baru mandi hujan – hujanan.
Seiring
berjalannya waktu, majikanku menikah. Dan aku masih tetap mengiringinya.
Mengantarkan istri majikanku saat ke dokter untuk periksa kandungan dan juga
saat – saat menjelang istri majikanku melahirkan buah hatinya. Aku selalu setia
menghadiri dan ikut andil dalam segala moment mereka.
Dan pada
Desember 2008 lahirlah anak majikanku. Mereka memberi nama BANYU BIRU. Aku juga
tetap hadir dalam rentang waktu dan tumbuh kembangnya Banyu Biru tersebut.
Setiap pagi,
sebelum majikanku berangkat kerja, Aku si Udud ini selalu berkeliling gang
dengan majikanku untuk menyenangkan hati Banyu Biru sebelum majikanku dan
istrinya berangkat kerja. Setelah itu baru majikanku dan istrinya berangkat
kerja.
Tak terasa waktu
terus berjalan. Saat usia Banyu Biru lebih kurang 3,5 tahun dia pun mulai
bersekolah di Taman Kanak – Kanak. Dan aku yang selalu mengantarkan Banyu Biru
berangkat sekolah sampai ke gerbang sekolah aku mengantarkannya. Pada saat TK
aku tidak menjemputnya karena Banyu Biru pukul 10.00 WIB sudah pulang sekolah.
Dua tahun di TK
saatnya Banyu Biru kelulusan dan mengadakan pentas seni di sekolahnya. Saat itu
akupun turut hadir mendampingi Banyu Biru untuk graduasi dan melaksanakan
pentas seni. Aku menyaksikan betapa gembiranya Banyu Biru manortor dan juga
saat pelepasan sebagai salah seorang murid di TK AL Hikmah. Betapa bangganya
aku karena Banyu Biru mendapatkan piala untuk salah satu kategori terbaik saat
kelulusannya.
Tahun 2012 Banyu
Biru pun masuk ke Sekolah dasar SDIT Al Munadi dan aku yang selalu mengantarnya
setiap kali berangkat sekolah sampai ke gerbang sekolah kadang sampai di pintu
kelasnya. Saat hujan dengan tubuh gendut dan menggemaskan aku selalu di sisinya
dan Banyu Biru selalu minta duduk di depan bukan di belakang majikanku. Mungkin
Banyu ingin menikmati pemandangan sambil ditemani angin sepoi – sepoi yang
menghembus ke wajahnya.
Di awal – awal SD
sampai ke kelas tiga aku tidak menjemput Banyu Biru saat pulang sekolah karena
Banyu akan dijemput oleh Pakdenya. Dan mulai kelas tiga Banyu Biru pun mulai
belajar naik kendaraan umum sendiri saat pulang sekolah dari tanah lapang Tanah
Enam Ratus dengan naik angkot. Banyu
sudah mulai berani untuk belajar naik
angkot namun tetap dinasihati dengan kedua orang tuanya untuk selalu berhati –
hait terhadap orang – orang asing yang mungkin punya niat jahat. Kedua orang
tua Banyu Biru berpesan agar Banyu selalu menunggu bus angkot di tempat yang
ramai agar terhindar dari orang – orang yang berniat tidak baik.
Dalam
perjalananku ke sekolah ada saja cerita antara Banyu Biru dan majikanku. Mereka
selalu bercakap – cakap di sepanjang perjalanan dan aku hanya sebagai pendengar
yang baik saja. Dan ada saatnya Banyu bosan dan malas naik bus angkot. Sejak
saat itu Banyu akan selalu menungguku bersamaan dengan majikanku pulang kerja.
Cukup lama juga sebenarnya Banyu Biru menungguku. Mungkin sekitar dua jam
setelah bel kepulangan dari sekolah sampai aku tiba di sekolahnya di saat menjemputnya.
Namun dia selalu sabar menungguku sampai di kedatanganku. Dia selalu bermain
sambil menunggu kedatanganku dan biasanya ada seorang yang sering menemaninya
bermain di antara waktu – waktu kedatanganku. Anak tersebut bernama HISYAM
NASRULLAH.
Waktu pun
berjalan, BANYU pun mulai belajar mengendarai sepeda motor sendiri dan aku juga
tempat dia belajar mengendarai sepada motor pertama kalinya. Akhirnya Banyu pun
bisa mengendari sepeda motor sendiri dan aku selalu ditunggunya di hari Sabtu,
untuk menemaninya hanya sekedar keliling di sekitaran atau sekedar menunjukkan
ke teman – temannya bahwa Banyu sudah bisa naik motor.
Tak terasa
sebentar lagi BANYU akan menamatkan Sekolah Dasar nya dan sudah mulai pilih
pilih sekolah untuk melanjutkan ke jenjang SMP. Sabtu sore, aku ingat moment
itu. Saat majikanku pulang kerja dan selanjutnya mengajak BANYU dan NATA (
salah seorang sahabat karib BANYU ) untuk hunting lokasi sekolah. Sore itu
BANYU dan aku pun berkunjung untuk pertama kali di Pondok Pesantren dan Tahfiz
Quran Nurul Azmi yang berada di Jl. Rawe VII Kelurahan Tangkahan Kecamatan
Medan Labuhan. Pertama kali aku mengantarkan BANYU ke lokasi yang selanjutnya
menjadi tempat BANYU untuk melanjutkan jenjang pendidikan selanjutnya. Pertama
kali ketemu Ustadz ARYA dan bertanya – tanya tentang informasi dari PTNA Nurul
Azmi tersebut.
Dan waktu ujian
di PTNA Nurul Azmi pun tiba, aku pun tetap setia untuk mengantarkan BANYU
mengikuti proses ujian dan menjemputnya.
Selanjutnya BANYU pun mondok di situ dan aku selalu setia menjenguknya
setiap hari Ahad. Menyaksikan tumbuh kembang BANYU yang mulai remaja. Namun
sejak saat itu aku mulai tidak dihiraukan oleh BANYU.
BANYU sudah
mulai malu untuk bersamaku karena aku sudah mulai tua dan rentah. Mungkin dia
malu dengan olok – olokan dari teman temannya. Dan aku perlahan dan pasti sudah
tak disentuhnya lagi. Setiap pulang ke rumah dari pondok pesantren, BANYU tak
lagi mau menggunakan diriku lagi. Aku dianggap sebagai barang tua dan BANYU pun
merengek kepada majikanku dan istri majikan untuk dibelikan motor baru.
Sepertinya aku SI UDUD sudah tidak dianggap lagi oleh BANYU. Di situ aku merasa
sedih.
Desember 2022, datanglah
kendaraan yang baru. Aku semakin tak dianggap oleh BANYU dan untungnya aku
masih melekat dan tak tergantikan di
hati majikanku.
BANYU kini telah
meninggalkanku dan aku sudah diambang masa tua. Aku sudah sering sakit –
sakitan dan sering masuk ke rumah sakit ( bengkel ). Dan itu wajar karena sudah
lebih 17 tahun aku bersama majikanku dan sudah beratus – ratus kilometer telah
aku tempuh. Namun bagaimanapun kisah perjalananku dan BANYU akan selalu
terpatri di diriku dan semoga di hati BANYU.
Mungkin nanti
akan menjadi cerita yang manis kelak di kemudian hari antara aku ( SI UDUD )
dan BANYU.
Doa terbaik
untukmu BANYU semoga kelak engkau akan menjadi orang saleh yang sukses dan menjadi kebanggaan dan perisai
kedua orang tuamu dan keluargamu serta menjadi kebanggaan agamamu dalam perjuangan
dan lakumu dan juga negaramu. Aamiin ya
rabbal alamin
Medan, 15
Februari 2023