Minggu, 16 Januari 2022

PANTAI UJONG BLANG - ACEH UTARA

 Nah.....tak terasa tahun 2021 telah berakhir dan tahun 2022 telah datang kini. Waktu setahun tak terasa telah terlewat. Semoga ada makna dan ada nilai dalam hidup dan kehidupan. Setidaknya ada perbuatan baik yang telah pernah kita lakukan. Semoga........................

Mengawali tahun 2022 aku ingin menulis tentang perjalanan yang telah aku lakukan. Sebenarnya perjalanan ini telah lama dilakukan tepatnya di bulan Maret 2021 namun belum sempat menulis di blog ini. Dan aku ingin menulisnya saat ini di blogku di edisi perdana Januari 2022. 

Perjalanan di bulan Maret 2021 itu sebenarnya adalah acara tunangan kemanakanku di Kota Lhokseumawe, Aceh Utara namun aku sempatkan sebelum acaranya untuk mengunjungi Pantai Ujong Blang tepatnya di desa Ujong Blang.

Pantai Ujong Blang ini membentang atau terhampar dari muara sungai Cunda yang meliputi empat wilayah desa yaitu : Desa Ujong Blang, Desa Ulee Jalan, Desa Hagu Barat dan Desa Hagu Tengah.

Pantai Ujong Blang ini dinamakan demikian karena berdasarkan letak pantai ini berada. Ujong Blang dalam bahasa Aceh terdiri dari kata "Ujong" yang bermakna  ujung dan "blang" bermakna sawah atau hamparan kebun. Karena pada awalnya wilayah Lhokseumawe terdiri dari areal sawah, rawa - rawa dan tanah kosong serta kawasan pemukiman dan tempat tinggal masyarakat.


Baiklah, itu sekelumit tentang atas nama "Ujong Blang". Selanjutnya aku ingin menceritakan perjalanan kami sampai ke pantai ini. Berangkat pada sekitar sore hari Rabu di tanggal 10 Maret 2021 kami sekeluarga tujuan utama adalah acara pinangan kemanakan kami dengan dara dari Aceh, tepatnya di Lhokseumawe pada tanggal 11 Maret 2021. Kami pun berangkat secara konvoi dari Medan dan kami tiba di Lhokseumawe di sekitar pukul 01.30 dini hari Kamis. Akupun segera tidur karena lelah di perjalanan sekitar 7 jam lebih.

Kamis, 11 Maret 2021 udara kota Lhokseumawe pagi hari sangat bersahabat. Pagi - pagi aku sudah mengitari jalan Teuku Chik Ditiro sampai ke Jalan Merdeka Lhokseumawe. Suasana masih sepi di pagi hari apalagi ini hari libur nasional. Kota Lhokseumawe masih bergerak lambat. Sampai di halte di depan gedung Telkom di Jalan Merdeka aku memutar balik untuk menikmati kota Lhokseumawe yang terakhir aku kunjungi di tahun 1999. 

Hari masih pagi lagi, akupun mengajak istriku untuk menikmati pagi di Kota Lhokseumawe dan mendadak aku pun ingin ke Pantai Ujong Blang yang letaknya tak jauh dari tempat kami duduk tinggal sementara waktu. Aku lihat becak mesin lalu lalang di sekitar Jalan Teuku Chik Ditiro . Aku bilang kepada istriku kalau ongkos becaknya Rp. 30.000,- ( tiga puluh ribu rupiah ) kita berangkat namun kalau lebih dari itu niatpun akan dibatalkan. Kami pun menyetop betor yang lewat dan tanya berapa ongkos ke Pantai Ujong Blang. Ternyata abang becak menawarkan harga Rp. 15.000,- ( lima belas ribu rupiah. Tanpa tawar lagi kami pun segera naik becak tersebut. Abang becak yang ramah orang Aceh. Sepanjang perjalanan kami pun berbincang bincang tentang macam - macam topik yang sederhana . Dia berkenan mengantarkan kami dan merekomendasikan tempat yang bagus untuk menikmati hamparan pantai Ujong Blang ini.

Setelah aku rasa menemukan tempat yang menurut aku sudah oke maka kami minta diturunkan walaupun abang becak tersebut masih berkenan mengantarkan kami untuk memilih tempat lainnya. Kami pun meminta nomor telepon abang becak tersebut sebagai persiapan jika pulang nanti tidak menemukan transporatsi untuk kembali ke Jalan Teuku Chik Ditiro.


Suasana pantai masih sepi, belum ada pengunjung, baru aku dan istriku saja. Pantai benar - benar bersih dan deburan ombak pagi yang kencang berkejaran menuju pantai. Laut di sekitar Ujong Blang ini memang ombaknya lumayan besar dan beberapa kali perumahan di sekitar Ujong Blang dihantam oleh ombak.

Kami benar - benar menikmati pantai yang sepi, serasa milik kami sendiri. Menikmati pantai dengan berjalan berdua. Beberapa pengunjung mulai berdatangan namun tidak ramai masih tergolong sunyi untuk daerah tujuan wisata. Udara dan cuaca sangat bersahabat. Hari yang cerah walau matahari sudah mulai menyembulkan panasnya, masih dipagi hari sekitar pukul 08.00 pagi.


Pantai masih sepi lagi, namun beberapa anak - anak aku lihat sudah mulai bermandi - mandi di bibir pantai. Padagang di sekitar pantai sudah mulai berdatangan untuk membuka lapaknya dan membersihkan tempat atau gerai - gerai dagangannya. Kami menyusuri sepanjang bibir pantai dimana kami diturunkan abang becak tadi. Menikamti semilir angin laut, ombak dan suara deru air laut. terasa semilir dan sejuk. Terus kami berjalan menikmati pantai. dan disini aku lihat banyak terdapat tumpukan - tumpukan batu di pesisir pantai sampai ke laut yang berfungsi sebagai pemecah ombak.



Duduk di atas bebatuan sambil menikmati angin laut yang sepoi - sepoi sambil memandang air laut yang membiru yang menatap Samudra Hindia. Ombak berkejaran walau kadang terlihat laut yang membiru dengan air yang tenang. Sesekali terdengar jeritan keriangan anak - anak yang gembira bermandi di pinggir laut, bermain pasir dan saat perutnya terasa lapar berlarian menuju orang tuanya untuk meminta bekal atau makanan sebagai pengisi perut.

Aku dan istriku berjalan lagi menyusuri pantai. Manakala terasa lelah berhenti dan duduk di bebatuan - bebatuan. Dan di sekitar pemukiman masih di kawasan pantai aku dan istriku melihat ada yang menjual ikan asin. Bergegas kami pun melihat ikan - ikan asin yang masih segar dan baru - baru. Kami pun membeli beberapa macam untuk kami santap sebagai lauk jika kembali nanti. Harga yang pantas untuk ikan asin yang kami beli tadi.

Puas menikmati Pantai Ujong Blang dan karena waktu untuk acara pinangan sudah mendekat aku dan istriku begegas untuk pulang. Bersyukur becak sudah mulai ramai di sekitar pantai. Akupun menyetop becak dan menanyakan tarif untuk tujuan ke Jalan Teuku Chik Ditiro. Dan abang becak menawarkan harga Rp. 10.000,- ( sepuluh ribu rupiah. Harga yang lebih murah dari yang saat kami tadi berangkat. 

Dan kami benar - benar puas menikmati keindahan Pantai Ujong Blang. Insya Allah kelak aku akan berkunjung lagi















Dan semoga alami Pantai Ujong Blang ini senantiasa terjaga kini dan kelak nanti.


Rabu, 22 Desember 2021

PAGI DI STASIUN KERETA API PULAU BRAYAN

Ada sesuatu yang istimewa menurut aku stasiun kereta api ini. Yang sering aku lalui walau aku belum pernah berhenti di stasiun ini. Karena untuk angkutan penumpang kereta api Sri Lelawangsa tidak melayani lagi penumpang untuk rute Stasiun Kereta Api Besar Medan ke Belawan yang jalurnya senantiasa melewati jalur kereta api Pulau Brayan. Namun dengan melihat bangunan - bangunan lama aku selalu tertarik dan keinginan untuk menikmati nostalgia masa lampau senantiasa memanggil - manggil diriku.

Perjalanan kereta api dari Medan ke Belawan sekarang hanya dilalui dengan kereta api barang dan tangki - tangki yang mengangkut CPO ( Crude Palm Oil ) dari perusahan - perusahaan baik perusahaan swasta maupun perusahaan negara.

Sumber photo : Dokumen pribadi


Kini bangunan - bangunan yang dahulu gudang - gudang untuk penyimpanan barang - barang yang akan dikirim ke daerah lain atau divisi jasa expedisi di perusahaan kereta api untuk jalur Pulau Brayan sudah rapuh dimakan usia. Tak ada lagi menyisakan riuh karyawan yang melakukan bongkar muat di statsiun ini dan sepanjang jalur Pulau Brayan. Yang tersisa hanya gedung - gedung yang mulai usang dan tua seiring dengan dimakannya usia. Aktifitas di stasiun ini hanya sebagai lalauan saja untuk menuju ke stasiun Belawan yang merupakan jalur akhir. Walau jalur - jalur ini masih selalu dirawat dan diperbaiki oleh PT. Kereta Api Indonesia. 

Apalagi jasa angkutan untuk penumpang. Sebenarnya tahun 2010 pernah dihidupkan kembali jalur penumpang dari Medan - Belawan - Medan, namun entah mengapa kini jalur tersebut telah berhenti dan belum beroperasi kembali. Aku dan keluargaku pada tahun 2010 pernah menggunakan jasa kereta api Sri Lelawangsa yang mengantarkan kami dari Stasiun Belawan ke Stasiun Besar di Lapangan Merdeka Medan.

Sumber photo : dokumen pribadi

 

Sumber photo : dokumen pribadi

 

Sumber photo : dokumen pribadi

Menurut sejarah yang aku baca dari berbagai literatur pembangunan jalur kereta api di Sumatera Utara atau di Tanah Deli merupakan usulan dari seorang manager perkebunan NV. Deli Matschappij  yang bernama J.T Cremer yang menganjurkan agar jaringan  kereta api segera dibangun karena kebutuhan distribusi perkebunan yang semakin besar. 

Deli adalah merupakan wilayah  Kesultanan Melayu yang didirikan pada tahun 1632 oleh Tuanku Panglima Gocah Pahlawan yang sekarang dikenal dengan Kota Medan dan Deli Serdang. Berdasarkan hasil keputusan Gubernur Jendral Belanda di Batavia pada tanggal 23 Januari 1883 permohonan konsesi dari Pemerintah Belanda untuk pembangunan jaringan kereta api yang menghubungkan Belawan - Medan - Deli Tua - Timbang Langkat ( Binjai ) direalisasikan ( sumber : indephedia.com )

Namun pada Juni 1883 izin konsesi ini dipindahkan pengerjaannya dari NV Deli Matschappij kepada NV. Deli Spoorweg  Matschappij. Pada tahun itu juga pembangunan  rel kereta api pertama kali di Sumatera Utara yang menghubungkan Medan - Labuhan diresmikan oleh Komisaris NV. Deli Spoorweg Matschappij Peter Wilhem Janssen dan penggunaan jalur kereta api ini dimulai pada tanggal 25 Juli 1886 digunakan yang kita kenal saat ini sebagai Stasiun Medan.

Pesatnya perkembangan pertanian dan perkebunan  saat itu yakni pada tahun 1888 kawasan Belawan sudah dilewati kereta api dan menjadi moda transportasi utama yang menghubungkan Medan dengan Belawan. Dan di beberapa titik dibangunlah stasiun - stasiun kecil. Yang tersisa saat ini yakni Stasiun Pulau Brayan, Stasiun Titi Papan, Stasiun Labuhan dan Stasiun Belawan.
 
 Sumber photo : Google
Sumber photo : Google
 
Sebenarnya aku ingin menikmati kembali romansa naik kereta api dari Belawan ke Medan atau sebaliknya. Melewati stasiun - stasiun sisa - sisa pembangunan di zaman kolonial dan berharap jalur Medan - Belawan dapat hidup kembali seperti jalur Medan - Binjai - Medan.

Semoga.


Medan, 23 Desember 2021

Jumat, 12 November 2021

GEDUNG RISPA - PPKS MEDAN

 Bertahun - tahun selalu aku lewati gedung ini. Gedung yang terletak di Jl. Brigjen Katamso, Kampoeng Baroe Medan. Gedung peninggalan zaman kolonial Belanda yang berdiri megah selalu aku lewati kala saat itu aku melakukan praktikum ke Gedung Johor semasa kuliah di Fakultas Pertanian, Universitas Islam Sumatera Utara. Kami selalu melewati Jalan Avros tepat di sisi bangunan Pusat Penelitian Kelapa Sawit ( PPKS ) yang namanya kini berada.

Gedung megah yang berwarna putih ini dulunya terkenal dengan AVROS, kemudian menjadi RISPA, kemudian PUSLITBUN dan kini menjadi PPKS ( Pusat Penelitian Kelapa Sawit ) Medan.

Berdasarkan literatur yang aku baca, sejarah Pusat Penelitian Kelapa Sawit ( PPKS ) Medan, sebelumnya namanya PPKS kini bermula dari dibentuknya A.V.R.O.S  atau kepanjangan dari Algemeene Vereeniging van Rubberplanters ter Oostkust van Sumatra di tanggal 27 Juni 1910

Pada perkembangan selanjutnya AVROS ini dijadikan nama jalan di sisi bangunan ini yang menghubungkan Jalan Brigjen Katamso ke kawasan Lapangan Udara Polonia.

Menurut sejarahnya AVROS ini merupakan Asosiasi pemilik, pekebun dan pedagang karet di Pantai Timur Sumatera pada saat itu mempunyai ide dan inisiatif untuk membangun suatu pusat kajian dan penelitian tersendiri dengan membeli tanah di Kampoeng Baroe, Medan. Dan pada akhirnya tepat pada tanggal 08 Desember 1916 Pusat Penelitian ini resmi diberi nama Algeemeen Proefstation der AVROS ( APA ), dan Dr. A.A.L Rutgers didapuk sebagai Direktur pertamanya. ( Sumber : PPKS Medan ).

Pada awalnya  Pusat Penelitian AVROS ini berfokus kepada penelitian karet, hal ini berdasarkan dari literatur yang aku baca.

Publikasi Mededeelingen van het APA Rubber Serie No.1 yang menyampaikan tentang pengaruh penyadapan dan musim terhadap kebutuhan nutrisi tanaman karet menjadi salah satu indikator bahwa APA memberikan pelatihan/kursus karet untuk berbagai pemilik kebun karet. ( Sumber  : PPKS Medan ).

Selain sebagai kantor, gedung ini juga sebagai tempat tinggal direktur. Sebelum menjadi PPKS, lembaga penelitian perkebunan pertama di Sumatra tersebut bernama APA (Algemeene Proefstation der AVROS/Algemeene Vereeniging van Rubberplanters ter Oostkust van Sumatra) yang didirikan pada 26 September 1916. Saat awal, fokus utama penelitiannya adalah komoditas karet, setelah semakin berkembang APA juga menangani penelitian teh dan kelapa sawit.



Seiring dengan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Lembaga Penelitian A.P.A berganti nama menjadi Balai Penyelidikan GAPPERSU atau Research Institute of The Sumatera Planters Associations           ( RISPA ) pada tahun 1957. Status naman RISPA terus menerus berganti hingga pada tahun 1987 menjadi Pusat Penelitian Perkebunan ( Puslitbun ) Medan. Pada saat itu Pusat Penelitian Perkebunan tidak hanya di Medan saja, tapi ada beberapa Pusat Penelitian Perkebunan lainnya di Sumatera Utara yaitu :
1. Pusat Penelitian Perkebunan Marihat
2. Pusat Penelitian Perkebunan Bandar Kuala
Dan pada akhirnya di tanggal 24 Desember 1992 ketiga Pusat Penelitian Perkebunan tersebut melebur menjadi satu menjadi Pusat Penelitian Kelapa Sawit ( PPKS ). Nah itulah sejarah nama PPKS itu dari awal terbentuknya hingga saat ini.

Di samping ketiga Pusat Penelitian Perkebunan tersebut, terdapat juga Pusat Penelitian Karet yang terdapat di Sei Karang, Galang.

Kembali ke Gedung PPKS Medan ini, bangunan gedung ini mempertontonkan betapa kokohnya bangunan ini. Pilar - pilar gedung di setiap sudutnya menunjukkan betapa bangunan ini menggunakan desain yang  cukup kuat di setiap sudut bangunan. Bangunan induk mempunyai 3 pintu utama yang berada di depan  yang menghadap timur, dan dua pintu samping yang menghadap utara dan selatan. 

Bangunan yang terdiri dari dua lantai ini didesain sesuai dengan iklim kota Medan yang tropis sebab itu semua bangunan menggunakan banyak jendela - jendela dan ventilasi agar cuaca Medan yang panas masih bisa ditolerir dengan bentuk bangunan yang tinggi dan memiliki sirkulasi udara yang baik di dalam gedung sehingga tidak memberikan efek panas. Walaupun saat ini ruangan - ruangan di gedung ini telah di lengkapi Air Conditioner.

Memasuki gedung ini maka sebelum masuk ke masing - masing ruang kerja  pintu utama kanan dan kiri serta depan terdapat koridor, setelah itu akan disambut dengan anak tangga yang terbuat dari kayu menuju lantai dua.

Lantai gedung terbuat dari marmer. Begitu kita masuk ke bangunan ini kita akan disambut dengan ramah oleh Satuan Pengamanan ( Satpam ) yang menanyakan keperluan dan tujuan kita berkunjung ke gedung ini. Aku mengunjungi gedung ini karena adanya sesuatu hal dengan salah satu Pimpinan di PPKS ini yang kebetulan satu alumni sekolah denganku dan tujuan kami saat itu adalah meminta petunjuk dan nasihat untuk suatu agenda kegiatan alumni sekolah yang akan dilaksanakan.

Dari koridor pintu utara juga dilengkapi dan dijaga dengan Satpam, dan sebelumnya aku dipersilahkan untuk menunggu di ruang tunggu. Ruang tunggu yang asri, lengkap dengan koran dan majalah dengan furniture yang elegan. Pada dinding - dinding ruang tunggu tamu terpajang foto - foto para pimpinan utama ( Direktur Utama ) PPKS ini dari masa  ke masa.

Pada koridor pintu utara dan selatan akan kita dapati bangunan yang terpisah dengan bangunan utama. Mungkin ini bangunan departemen - departemen lain yang merupakan satu kesatuan dari lini kerja di PPKS Medan.
 
Pada tangga bangunan yang menuju lantai dua juga terdapat ventilasi dan dinding yang tembus cahaya sehingga bangunan ini senantiasa tidak gelap dan pengap karena sirkulasi udara dan cahaya yang cukup maksimal.
 
Bangunan ini didominasi dengan cat warna putih, kecuali pada furnitur perabot yang dominan dengan bahan kayu, demikian juga tangga yang menghubungkan ke lantai dua yang terbuat dari kayu yang kuat dan sangat kokoh.















 Di bangunan lantai dua terdapat balkon yang menghadap utara dan bangunan ini tetap dengan ciri kas bangunan Eropah. Bangunan induk terhubung dengan bangunan lainnya dengan koridor yang memanjang di sisi kiri dan kanan bangunan utama. 

Selain itu kawasan bangunan ini dilengkapi dengan halaman dan lapangan rumput yang menghijau serta pohon - pohon di tiap sudut bangunan yang memberikan kesan asri dan teduh untuk kawasan PPKS, lapangan parkir yang luas dan juga taman - taman bunga yang tertata cantik dan asri.

Sebelum memasuki bangunan induk, di sisi kanan-kiri pintunya tertulis Hoogte Boven Zee (Medan - Peil) 32,45M (Hoogte Kop Rail D.S.M.Station Kp. Baru). Terdapat juga plang dan prasasti bertuliskan 'Gedung Cagar Budaya Kota Medan Badan Warisan Sumatera dan Lambang Pemerintah Kota'. Simbol-simbol warisan sejarah itu disempurnakan dengan adanya logo kerajaan Belanda bertuliskan 'LIPS'. ( sumber :  Syafitri Tambunan, Analisa Daily ).

Nama arsitek bangunan ini adalah G.H Mulder yang sangat faham dengan iklim di daerah trofis sehingga bangunan dibuat dengan desain yang tinggi namun sangat artistik dan dilengkapi dengan ventilasi yang banyak dan daun - daun jendela di setiap sisi agar cahaya dapat masuk dengan leluasa sehingga jauh dari kesan gelap, suram apalagi pengap.

Beruntung sekali aku dapat menginjakkan kaki di bangunan yang menjadi salah satu Cagar Budaya yang penuh dengan sejarah tentang perkembangan perkebunan di Sumatera Utara. Dan sekali lagi ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada abangnda kami Suhardiman selaku senior kami yang memberi kami kesempatan berkunjung ke kantornya sekaligus menikmati salah satu gedung cagar budaya ini.

Sepertinya aku masih merindukan untuk mengunjungi kembali di suatu masa nanti dan eksplorasi bangunan - bangunan bersejarah lainnya di Medan khususnya.


Sumber - sumber :

1. PPKS Medan

2. Analisa Daily