Sabtu, 13 Mei 2017

REUNI SAHABAT

SALAM SAHABAT


Lama kita tak besua dan sekarang kau di depan mata
Tak berubah sikap tutur kata
Tetap akrab, ceria hangatkan jiwa

Sahabat,
Penuh suka betapa bahagia berjumpa, salamku

Apa kabar di hidupmu. 
Sekian waktu adakah kau baik selalu

Sahabat,
Dalam duka, pelita kecil dalam gulita, salamku

Untuk berbagi beban dan saling mengisi
Tak perlu kita sendiri

Sahabat,
Dalam suka, betapa bahagia berjumpa, salamku

Sahabat,
Dalam duka, pelita kecil dalam gulita, salamku ( KLA PROJECT - Salam Sahabat )

Pas kali kurasa lirik lagu ini buat persahabatan kita dari mulai kita remaja sampai kini dan seterusnya. SEMOGA

Foto - foto reuni sahabat Sekolah Menengah Teknologi Pertanian P. Raya tahun 2015














Foto - Foto dengan sahabat 2016













Sudah 29 tahun persahabatan kita, semenjak pertama kali masuk di sekolah yang sama. Salam sahabat

Jumat, 12 Mei 2017

SIDAMANIK - BAH BUTONG - TOBA SARI MENIKMATI HIJAUNYA HAMPARAN PERKEBUNAN TEH

NOSTALGIA MASA KECIL

"Kita merasakan sesuatu  itu berarti, indah dan berharga serta bermakna setelah kita kehilangan atau jauh darinya"
Itulah yang aku alami. Aku merindukan saat - saat hidup dan tinggal di perkebunan teh. Pemandangan yang sejuk, udara yang segar, hamparan pohon - pohon teh dan pucuk - pucuknya yang menghijau. Namun itu hanyalah menjadi kenangan dan cerita saat - saat senggang.

Selama 19 tahun penuh aku tinggal di perkebunan teh, tepatnya di PTP. VIII Kebun Marjandi. Dahulunya PTP VIII merupakan Badan Usaha Milik Negara ( BUMN ) yang fokus kepada tanaman teh. Waktu berlalu, selepas menamatkan Sekolah Menengah Atas akupun melanjutkan studi di Kota Medan dan meninggalkan desa kelahiranku walau sesekali aku pulang namun tidak lama, hanya waktu libur kuliah saja, namun sering aku menghabiskan libur kuliah ke Aceh Utara karena kedua orang tuaku tinggal dan bertani di sini. Aku menghabiskan waktu libur yang panjang sesaat melaksanakan Praktek Pedesaan di kampungku dengan beberapa teman - teman sekampusku.
Toba Sari

Pada tahun 1990-an PTP VIII merger dengan PTP V, VI, VII menjadi PTP Nusantara IV dan sejak mulai saat itu atau sekitar tahun 2000-an tanaman atau perkebunan teh dikonversi menjadi tanaman kelapa sawit. Hijaunya hamparan teh berganti dengan pohon - pohon sawit dan itu melenyapkan sebagaian besar kenangan masa kecilku dengan sahabat - sahabatku dulu di Marjandi. Kami telah terpisah dan banyak yang merantau. Hanya sebagian yang bekerja dan hidup serta membina rumah tangga di kebun itu, namun seiring konversi sawit itu, sahabat  - sahabatku yang dulu tinggal di Marjandi dimutasikan ke perkebunan dan daerah lain yang masih satu management dengan PTPN IV. Perlahan - lahan kenangan itu kembali hilang dan nyaris lenyap.
di depan pabrik pengolahan teh Toba Sari



Aku masih merindukan suasana hijaunya kebun teh, dimana setiap selepas pulang sekolah aku menggembalakan ternak kambingku dan setelah itu mengaji sore dengan teman - temanku. Selepas mengaji aku mencari kambing - kambingku untuk pulang ke kandang dan menyiapkan makanan untuk bebek - bebekku. Menjelang senja kami ke mesjid untuk sholat berjama'ah dan mengaji dilanjutkan dengan sholat isya baru kami pulang ke rumah masing - masing. Tak banyak yang memiliki televisi, dan penerangan yang mengandalkan listrik diesel yang akan mati pada pukul 6 ( enam ) pagi.

Kebun Teh Bah Butong

Hamparan kebun teh Sidamanik

Rindu suasana perkebunan teh mengajak kami untuk jalan - jalan ke perkebunan teh yang tersisa. Menikmati keindahan dan hijaunya hamparan teh walaupun di tempat berbeda. Sekarang ini perkebunan teh yang tersisa hanya di Kebun Sidamanik, Toba Sari dan Bah Butong saja. Sedangkan Kasinder, Bah Birong Ulu, Bahlimbingan dan Marjandi yang dahulunya tergabung dalam PTP VIII telah dikonversi menjadi tanaman kelapa sawit.

MENIKMATI INDAHNYA HAMPARAN TEH

Sebenarnya perjalanan kami terlebih dahulu ke Tigaras melalui desa Simpang Raya ( nanti akan aku ceritakan tentang TIGARAS ). Perjalanan pulang kami melalui jalan Sidamanik untuk menuju ke Kota P. Siantar. Hanya sangat disayangkan mendung gelap dan cuaca hujan sehingga pemandangan yang kami dapatkan kelabu dan muram. Kawasan Simalungun umumnya memang curah hujan sangat tinggi. Aku masih merasakan saat - saat itu dimana hampir selalu menikmati rinai hujan.

jalan raya Sidamnik - Tigaras Garoga

selepas hujan di Bah Butong

nostalgia masa kecil yang coba diceritakan

Semenjak dari Tigaras kami sudah disambut dengan hujan. Dan rinai hujan terus menemani perjalanan kami saat kami istirahat dan sholat di Kebun Toba Sari. Kebun ini kembali meningatkan kenanganku akan tempatku dilahirkan. Rumah - rumah yang sama persis dan harumnya aroma teh tercium oleh indra penciumanku. Aku masih ingat akan aroma itu dan aku merindukan rasa itu.
Hujan masih menemani kami, suasana perkebunan yang hening dan dinginnya air aku rasakan. Rasa beberapa puluhan tahun yang lalu masih menempel dan melekat kuat dalam ingatanku.
Kami berteduh di mesjid di Kebun Toba Sari untuk beberapa lama dan melanjutkan mengitari perkebunan teh Bah Butong, Sidamanik. Rintik hujan masih setia menemani perjalanan kami sampai kami menuju ke kota P. Siantar. Dan kenangan akan perkebunan teh masih membayang dan menemani hingga saat ini, entah untuk esok dan nantinya.

langit kelabu di hari minggu


BAGAIMANA MENUJU KE SIDAMANIK ?

Sidamanik adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Simalungun. Cara menuju ke daerah ini  dengan angkutan umum jika kita dari Medan adalah kita menuju ke Terminal Amplas dan naik bus jurusan P. Siantar. Setelah sampai di kota P. Siantar kita menuju Pusat Pasar Horas untuk melanjutkan perjalanan ke Sidamanik atau dari Terminal Parluasan mungkin masih ada angkutan ke Sidaminik ( kurang yakin ).
Nah dari Pusat Pasar Horas biasanya ada bus atau masyarakat setempat menyebutnya mopen ( biasanya Mopen GOK, salah satu nama armada bus ) yang akan mengantarkan kita ke Sidamanik. Dan lebih kurang 45 menit sampailah kita ke perkebunan teh Sidamanik.
Tarifnya dari Medan - P. Siantar  ( banyak armada bus dari Medan ke Siantar, tinggal memilih saja ) berkisar antara Rp. 25.000,- - Rp. 30.000,- ( dua puluh lima ribu - tiga puluh ribu rupiah ). 
Selanjutnya dari Parluasan - Pusat Pasar Horas Rp. 3.000,- s/d Rp. 4.000,- dan dari Pusat Pasar Horas - Sidamanik Rp. 5.000,-
Di Kebun Bah Butong ada destinasi wisata air terjun Bah Biak dan ini dari jalan besar Sidamanik - Tigaras sekitar 1 km - 2 km berada di antara perumahan Karyawan Kebun Bah Butong.
halaman mesjid Toba sari dengan latar belakang perumahan karyawan

Untuk yang membawa kendaraan sendiri anda dari Medan menuju ke P. Siantar, setelah tiba di kota P. Siantar lanjut ke jalan menuju ke Parapat. Nanti ada persimpangan dan penunjuk jalan belok ke sebelah kanan ada penunjuk jalan dan pamflet Sidamanik. Silahkan menuju ke Simpang Sidamnik dan lanjutkan perjalanan. Dari Sidamanik perjalanan dapat dilanjutkan menuju ke Tigaras dan Simarjarunjung juga ke Parapat. 
Berminat mengunjungi Sidamanik, Toba sari dan Bah Butong? Silahkan mencoba.  

Jumat, 05 Mei 2017

MESJID RAYA AL OSMANI & VIHARA SIU SAN KENG DALAM FOTO

Dalam kunjunganku ke Pekan Labuhan aku mendapatkan oleh - oleh foto yang akan aku bagi dalam blogku ini.

1. MESJID RAYA AL OSMANI

sisi samping kiri Mesjid Raya Al Osmani
tempat berwudhu
Ini adalah tempat jema'ah berwudhu untuk melaksanakan sholat. Aku tidak tahu pasti apakah ini bangunan asli pada saat Mesjid ini didirikan atau merupakan bangunan tambahan. Bangunan ini terletak di dekat rumah penjaga Mesjid. Aku tidak mengambil wudhu disini karena dari rumah aku sudah mempersiapkan diri berwudhu sebelum aku berajak dari rumahku. Disisi sebelahnya tersedia kamar mandi dan juga tempat berwudhu yang dibangun pada masa kekinian.




Ini merupakan pintu utama menuju ruangan Mesjid Raya Al Osmani. Design bercirikan bangunan Timur Tengah dan India dengan ornamen warna kuning yang merupakan warna khas Melayu serta warna hijau. Pintu yang terbuat dari kayu pilihan yang aku pikir masih asli dari masa pembuatan terdahulu.

Pintu samping kiri yang design hampir sama dengan pintu utama sisi utama ( depan ). Pintu ini juga merupakan pintu utama karena pada masing - masing sisi, baik sisi kanan maupun sisi kiri terdapat pintu - pintu. Ada pintu utama dan ada 2 pintu yang ukuran lebih kecil dari pintu utama. Ornamen lingkaran yang menyerupai bangunan - bangunan India tempo dulu.
Sisi kanan Mesjid Raya Al Osmani, juga terdapat pintu utama dan 2 pintu yang lebih kecil ukurannya dibanding pintu utama dengan design dan ornamen pintu yang sama antara pintu depan dan pintu samping kiri. Di sisi kanan Mesjid ini ramai terdapat makam - makam dari keturunan Kesultanan Deli.
Teras tambahan yang dibangun di era sekarang, fungsinya juga untuk ruang sholat. Hal ini dibangun karena ruangan utama sudah tidak mampu lagi menampung jemaah di ruang utama pada saat sholat Jumat, Sholat Tarawih dan Sholat Idul Fitri dan Idul Adha sehingga ditambah teras atau ruang tambahan disisi depan mesjid untuk dapat menampung jema'ah yang berlimpah.
Makam salah seorang Sultan Deli ( yang ditutup dengan kain kuning pada batu nisan )
Makam salah seorang Sultan Deli
Mesjid Raya Al Osmani


Bedug di Mesjid Raya Al Osmani


2. VIHARA SIU SAN KENG

Vihara Siu San Keng selesai dibangun pada tahun 1890
Dalam proses renovasi pada bagian depan ( April 2017 )
Pagoda tempat penyimapan abu jenazah
sisi samping menuju altar sembahyang
Atap bangunan dengan simbol naga
Pintu gerbang Vihara Siu San Keng
Pintu gerbang dengan ornamen 2 naga yang berhadapan
bagian atap Vihara Siu San Keng dengan simbol - simbol naga
Mesjid Raya Al Osmani dan Vihara Siu San Keng letaknya berdekatan dan boleh dikatakan saling berhadapan. Ini menandakan pada pada masa dahulu kehidupan beragama di Tanah Deli sudah saling hormat menghormati dan saling bertoleransi. Tidak saling mempertajam perbedaan namun saling menghargai perbedaan dan masing - masing etnis hidup damai dan rukun dalam masing - masing perbedaan hingga sampai saat ini dan semoga untuk seterusnya.

Senin, 01 Mei 2017

TANAH KARO - SIDIKALANG - TOBA SAMOSIR - SAMOSIR - SIMALUNGUN ( PERJALANAN KELILING SAMOSIR DANAU TOBA )

AGUSTUS 2015

Sabtu di bulan Agustus 2015,  kami ( aku, istri dan anakku ) diajak oleh keluarga istriku untuk jalan - jalan ke Parapat - Danau Toba. Destinasi yang rutin atau kerap kali kami kunjungi, karena Danau Toba merupakan destinasi favorit bagi masyarakat Sumatera Utara untuk melakukan plesiran atau melancong. Sebenarnya kondisi dalam keadaan bulan tua namun karena akomodasi sudah ditanggung semuanya ya kami ikut saja. 

Berbekal mobil rental, kami sesuai rencana berangkat malam hari. Perjalanan tidak melalui jalan raya Lintas Sumatera Utara, seperti yang biasa dilalui melalui Serdang Bedagai - Tebing Tinggi - P. Siantar - Parapat. Namun kali ini kami melalui Kaban Jahe.

Perjalanan kami mulai sekitar pukul 23.00 WIB dan tujuan utama adalah mandi di air panas Lau Debuk - Debuk di Tanah Karo. Sepanjang perjalanan banyak kami jumpai anak muda - mudi yang bersepeda motor menuju kawasan Berastagi terutama nongkrong di Penatapan. Aku baru tahu kalau suasana disini makin malam semakin ramai dan suasana tempat makan jagung rebus dan jagung bakar di Penatapan seperti suasana discotique aja. Kami hanya melintas saja karena Penatapan bukan tujuan kami dan segera meluncur ke kawasan air panas ( air belereng ) di Lau Debuk _ Debuk. Air belereng ini merupakan limpahan dari Gunung Sibayak. Disini banyak terdapat kolam pemandian, tinggal kita memilih yang menurut kita rasa nyaman saja. Aku beberapa kali berkunjung kesini namun pada siang hari. Dan malam hari juga sangat ramai di kawasan ini. Aku tidak turut serta berendam ke kolam air panas, hanya tidur - tiduran saja di dalam mobil.

Setelah mereka selesai mandi dan berendam perjalanan kami lanjutkan dengan tujuan utama Danau Toba. Rencana semula melalui Desa Silalahi berubah, dan perjalanan dilanjutkan melalui Merek Tanah Karo dan selanjutnya menuju Sidikalang. Pagi sekitar subuh kami sampai di SPBU lewat Merek dan dinginnya pagi dan embun menyambut kedatangan kami. Melewati Kabupaten Dairi di sekitar jalan menuju Sidikalang kami berbelok menuju papan petunjuk arah Dolok Sanggul. Melintasi Desa Parbuluan di pagi yang sunyi dan berembun meleati perladangan kopi, perladangan sayuran ( kentang, kubis, wortel dll ), kami istirahat sejenak di Desa Parbuluan. Sepanjang jalan yang kami lalui jalan sudah mulus hanya di sekitar desa Parbuluan dalam kondisi perbaikan. Dan aku pikir saat ini jalan sudah mulus semua.

pagi di desa Parbuluan - Sidikalang
Pagi dengan mendung dan awan kelabu yang kami lihat, sepanjang perjalanan aku melihat kuda - kuda milik masyarakat disini yang digembala bebas di padang rumput. Melewati Taman Iman namun kami tidak singgah dan perjalanan kami lanjutkan menuju Tele. Oh ya selama perjalanan ini kita akan melalui beberapa Kabupaten. Setelah Kabupaten Karo maka kita akan masuk ke Kabupaten Dairi selanjutnya kita akan masuk ke Kabupaten Toba Samosir. Kawasan perkampungan yang sunyi dan udara yang masih segar. Sayang pada saat itu kabut asap hampir menyelimuti seluruh kawasan Sumatera sehingga pemandangan abu - abu yang menemani hampir seluruh perjalanan kami.

Pagi yang sunyi
Minggu pagi, dalam perjalanan banyak aku jumpai anak - anak yang menuju ke gereja beramai - ramai dan sebelum menjalankan kebaktian Minggu mereka sempatkan untuk membeli sarapan dan makan mie gomak yang dijual di depan gereja. Hampir sama keadaan yang aku jumpai, setiap gereja dengan moment  anak - anak yang beramai - ramai menikmati lezatnya mie gomak ( mengenai mie gomak sudah pernah aku tuliskan di edisi  April 2017 ).





Sekitar pukul 06.30 kami tiba di persimpangan Tele, aku membeli ombus - ombus ( makanan yang terbuat dari tepung beras dengan diberi gula merah kemudian dibungkus dengan daun pisang, selanjutnya dikukus ). Masih hangat dan diambil langsung dari dandang  dan ada juga lapet dibungkus daun bambu ( kue - kue tradisional kekayaan kuliner nusantara ).
Kawasan Tele masih sunyi, dari sini kita dapat menikmati Danau Toba yang indah, jalan yang berliku - liku dengan kontur perbukitan dan jurang - jurang. Kami sampai di Menara Pandang Tele dan singgah untuk menikmati keindahan alam ciptaan Yang Maha Kuasa.

Danau Toba dari Menara Pandang di Tele dengan cuaca berkabut

Di atas Menara Pandang Tele
Dari Menara Pandang Tele, aku dapat menikmati bentangan luas persawahan, bukit - bukit dan hutan cemara yang mengelilingi Danau Toba, air terjun Sidohoni yang kelihatan dari jauh, rumah - rumah adat suku Batak yang masih terjaga dan tertata rapi, hanya saja saat kunjunganku cuaca kurang bersahabat sehingga pemandangan yang aku dapatkan dengan nuansa abu - abu.

Perjalanan kami lanjutkan ke Pulau Samosir. Jika kita menuju Pulau Samosir dari Tele maka kita tidak perlu menumpang feri dan kapal penyeberangan, karena Pulau Samosir tidak terpisah dari Pulau Sumatera. Disini kita akan disambut langsung Ibukota Kabupaten Samosir yaitu Pangururan. Kota Pangururan merupakan kota yang kecil saja. Dahulunya Toba Samosir, Samosir, Humbang Hasundutan berada dalam Kabupaten Tapanuli Utara, namun semenjak adanya kebijaksanaan Otonomi Daerah daerah - daerah ini dimekarkan menjadi kabupaten dan terpisah dari Kabupaten Tapanuli Utara, tujuannya agar dengan adanya otonomi daerah percepatan pembangunan segera tercapai dan kesejahteraan rakyat segera tercipta. Tujuan yang mulia, namun jauh dari praktek dan kenyataannya.  Oke kita lupalkan saja masalah politik, lanjut perjalanan keliling Bumi Samosir.

Sebenarnya pemandangan lebih indah melalui Tele jika ingin menikmati indahnya Danau Toba, namun jarak yang lebih jauh dan membutuhkan stamina sehingga jarang atau enggan lewat jalur ini. Namun banyak objek wisata yang dapat dilihat disini sperti air terjun Sidohoni, Pusuk Buhit, Bukit Teletubies, Pantai Pasir Putih Parbaba dan rumah - rumah adat Batak yang masih tertata apik.

Kami selanjutnya menikmati Danau Toba di Pantai Pasir Putih Parbaba. Setelah parkir dan sewa tikar ( masuk disini hanya dikenakan biaya parkir dan sewa tikar saja, tidak dikenai retribusi lainnya yaitu parkir Rp. 10.000,- dan sewa tikar Rp. 15.000,- ) kami segera menceburkan diri ke Danau Toba dan bekal segera dikeluarkan untuk disantap.


Selanjutnya kami menuju Tomok, kawasan destinasi favorit bila mengunjungi Pulau Samosir, tak lama kami disini karena sudah terlalu sering dikunjungi. Kesini hanya untuk menyebrang ke Parapat. Karena fery penyebrangan yang padat kami memilih naik fery penumpang menuju Parapat dan Tulang Wawan dan Tulang Ozi yang stanby menunggu fery penyebrangan. Selanjutnya kami menuju ke Tiga Raja Prapat dan sekitar Ajibata samapi maghrib menunggu mobil yang membawa kami tadi menyeberang ke Parapat.
Di Tiga Raja disambut hujan deras

Hujan di Tiga Raja, berteduh di pasar dan terminalnya
Fery penyeberangan tiba lewat pukul 7 malam, kami segera bergegas untuk segera pulang menuju Medan. Sekitar pukul 12 malam akhirnya kami sampai di Medan. Benar - benar perjalanan mengelilingi Samosir.