Jumat, 12 November 2021

GEDUNG RISPA - PPKS MEDAN

 Bertahun - tahun selalu aku lewati gedung ini. Gedung yang terletak di Jl. Brigjen Katamso, Kampoeng Baroe Medan. Gedung peninggalan zaman kolonial Belanda yang berdiri megah selalu aku lewati kala saat itu aku melakukan praktikum ke Gedung Johor semasa kuliah di Fakultas Pertanian, Universitas Islam Sumatera Utara. Kami selalu melewati Jalan Avros tepat di sisi bangunan Pusat Penelitian Kelapa Sawit ( PPKS ) yang namanya kini berada.

Gedung megah yang berwarna putih ini dulunya terkenal dengan AVROS, kemudian menjadi RISPA, kemudian PUSLITBUN dan kini menjadi PPKS ( Pusat Penelitian Kelapa Sawit ) Medan.

Berdasarkan literatur yang aku baca, sejarah Pusat Penelitian Kelapa Sawit ( PPKS ) Medan, sebelumnya namanya PPKS kini bermula dari dibentuknya A.V.R.O.S  atau kepanjangan dari Algemeene Vereeniging van Rubberplanters ter Oostkust van Sumatra di tanggal 27 Juni 1910

Pada perkembangan selanjutnya AVROS ini dijadikan nama jalan di sisi bangunan ini yang menghubungkan Jalan Brigjen Katamso ke kawasan Lapangan Udara Polonia.

Menurut sejarahnya AVROS ini merupakan Asosiasi pemilik, pekebun dan pedagang karet di Pantai Timur Sumatera pada saat itu mempunyai ide dan inisiatif untuk membangun suatu pusat kajian dan penelitian tersendiri dengan membeli tanah di Kampoeng Baroe, Medan. Dan pada akhirnya tepat pada tanggal 08 Desember 1916 Pusat Penelitian ini resmi diberi nama Algeemeen Proefstation der AVROS ( APA ), dan Dr. A.A.L Rutgers didapuk sebagai Direktur pertamanya. ( Sumber : PPKS Medan ).

Pada awalnya  Pusat Penelitian AVROS ini berfokus kepada penelitian karet, hal ini berdasarkan dari literatur yang aku baca.

Publikasi Mededeelingen van het APA Rubber Serie No.1 yang menyampaikan tentang pengaruh penyadapan dan musim terhadap kebutuhan nutrisi tanaman karet menjadi salah satu indikator bahwa APA memberikan pelatihan/kursus karet untuk berbagai pemilik kebun karet. ( Sumber  : PPKS Medan ).

Selain sebagai kantor, gedung ini juga sebagai tempat tinggal direktur. Sebelum menjadi PPKS, lembaga penelitian perkebunan pertama di Sumatra tersebut bernama APA (Algemeene Proefstation der AVROS/Algemeene Vereeniging van Rubberplanters ter Oostkust van Sumatra) yang didirikan pada 26 September 1916. Saat awal, fokus utama penelitiannya adalah komoditas karet, setelah semakin berkembang APA juga menangani penelitian teh dan kelapa sawit.



Seiring dengan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Lembaga Penelitian A.P.A berganti nama menjadi Balai Penyelidikan GAPPERSU atau Research Institute of The Sumatera Planters Associations           ( RISPA ) pada tahun 1957. Status naman RISPA terus menerus berganti hingga pada tahun 1987 menjadi Pusat Penelitian Perkebunan ( Puslitbun ) Medan. Pada saat itu Pusat Penelitian Perkebunan tidak hanya di Medan saja, tapi ada beberapa Pusat Penelitian Perkebunan lainnya di Sumatera Utara yaitu :
1. Pusat Penelitian Perkebunan Marihat
2. Pusat Penelitian Perkebunan Bandar Kuala
Dan pada akhirnya di tanggal 24 Desember 1992 ketiga Pusat Penelitian Perkebunan tersebut melebur menjadi satu menjadi Pusat Penelitian Kelapa Sawit ( PPKS ). Nah itulah sejarah nama PPKS itu dari awal terbentuknya hingga saat ini.

Di samping ketiga Pusat Penelitian Perkebunan tersebut, terdapat juga Pusat Penelitian Karet yang terdapat di Sei Karang, Galang.

Kembali ke Gedung PPKS Medan ini, bangunan gedung ini mempertontonkan betapa kokohnya bangunan ini. Pilar - pilar gedung di setiap sudutnya menunjukkan betapa bangunan ini menggunakan desain yang  cukup kuat di setiap sudut bangunan. Bangunan induk mempunyai 3 pintu utama yang berada di depan  yang menghadap timur, dan dua pintu samping yang menghadap utara dan selatan. 

Bangunan yang terdiri dari dua lantai ini didesain sesuai dengan iklim kota Medan yang tropis sebab itu semua bangunan menggunakan banyak jendela - jendela dan ventilasi agar cuaca Medan yang panas masih bisa ditolerir dengan bentuk bangunan yang tinggi dan memiliki sirkulasi udara yang baik di dalam gedung sehingga tidak memberikan efek panas. Walaupun saat ini ruangan - ruangan di gedung ini telah di lengkapi Air Conditioner.

Memasuki gedung ini maka sebelum masuk ke masing - masing ruang kerja  pintu utama kanan dan kiri serta depan terdapat koridor, setelah itu akan disambut dengan anak tangga yang terbuat dari kayu menuju lantai dua.

Lantai gedung terbuat dari marmer. Begitu kita masuk ke bangunan ini kita akan disambut dengan ramah oleh Satuan Pengamanan ( Satpam ) yang menanyakan keperluan dan tujuan kita berkunjung ke gedung ini. Aku mengunjungi gedung ini karena adanya sesuatu hal dengan salah satu Pimpinan di PPKS ini yang kebetulan satu alumni sekolah denganku dan tujuan kami saat itu adalah meminta petunjuk dan nasihat untuk suatu agenda kegiatan alumni sekolah yang akan dilaksanakan.

Dari koridor pintu utara juga dilengkapi dan dijaga dengan Satpam, dan sebelumnya aku dipersilahkan untuk menunggu di ruang tunggu. Ruang tunggu yang asri, lengkap dengan koran dan majalah dengan furniture yang elegan. Pada dinding - dinding ruang tunggu tamu terpajang foto - foto para pimpinan utama ( Direktur Utama ) PPKS ini dari masa  ke masa.

Pada koridor pintu utara dan selatan akan kita dapati bangunan yang terpisah dengan bangunan utama. Mungkin ini bangunan departemen - departemen lain yang merupakan satu kesatuan dari lini kerja di PPKS Medan.
 
Pada tangga bangunan yang menuju lantai dua juga terdapat ventilasi dan dinding yang tembus cahaya sehingga bangunan ini senantiasa tidak gelap dan pengap karena sirkulasi udara dan cahaya yang cukup maksimal.
 
Bangunan ini didominasi dengan cat warna putih, kecuali pada furnitur perabot yang dominan dengan bahan kayu, demikian juga tangga yang menghubungkan ke lantai dua yang terbuat dari kayu yang kuat dan sangat kokoh.















 Di bangunan lantai dua terdapat balkon yang menghadap utara dan bangunan ini tetap dengan ciri kas bangunan Eropah. Bangunan induk terhubung dengan bangunan lainnya dengan koridor yang memanjang di sisi kiri dan kanan bangunan utama. 

Selain itu kawasan bangunan ini dilengkapi dengan halaman dan lapangan rumput yang menghijau serta pohon - pohon di tiap sudut bangunan yang memberikan kesan asri dan teduh untuk kawasan PPKS, lapangan parkir yang luas dan juga taman - taman bunga yang tertata cantik dan asri.

Sebelum memasuki bangunan induk, di sisi kanan-kiri pintunya tertulis Hoogte Boven Zee (Medan - Peil) 32,45M (Hoogte Kop Rail D.S.M.Station Kp. Baru). Terdapat juga plang dan prasasti bertuliskan 'Gedung Cagar Budaya Kota Medan Badan Warisan Sumatera dan Lambang Pemerintah Kota'. Simbol-simbol warisan sejarah itu disempurnakan dengan adanya logo kerajaan Belanda bertuliskan 'LIPS'. ( sumber :  Syafitri Tambunan, Analisa Daily ).

Nama arsitek bangunan ini adalah G.H Mulder yang sangat faham dengan iklim di daerah trofis sehingga bangunan dibuat dengan desain yang tinggi namun sangat artistik dan dilengkapi dengan ventilasi yang banyak dan daun - daun jendela di setiap sisi agar cahaya dapat masuk dengan leluasa sehingga jauh dari kesan gelap, suram apalagi pengap.

Beruntung sekali aku dapat menginjakkan kaki di bangunan yang menjadi salah satu Cagar Budaya yang penuh dengan sejarah tentang perkembangan perkebunan di Sumatera Utara. Dan sekali lagi ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada abangnda kami Suhardiman selaku senior kami yang memberi kami kesempatan berkunjung ke kantornya sekaligus menikmati salah satu gedung cagar budaya ini.

Sepertinya aku masih merindukan untuk mengunjungi kembali di suatu masa nanti dan eksplorasi bangunan - bangunan bersejarah lainnya di Medan khususnya.


Sumber - sumber :

1. PPKS Medan

2. Analisa Daily

Kamis, 28 Oktober 2021

MENYUSURI BANGUNAN SISA KOLONIAL BELANDA PART IV - GEDUNG WARRENHUIS

Medan sebagai kota terbesar nomor tiga di Indonesia banyak menyisakan sisa sisa bangunan kolonial Belanda, terutama di kawasan Kesawan yang pada dahulu menjadi pusat bisnis dan pemerintahan di zaman kolonial  Belanda. Seperti yang sudah aku tulis sebelumnya yakni Kantor Pos Besar, Gedung PP Londsum dan Gedung Asuransi Jasindo.
 
Berjalan sekit ke belakang Gedung PP Lonsum akan banyak kita jumpai bangunan - bangunan tua yang tidak berfungsi atau ditinggalkan pemiliknya.

Kali ini aku ingin menulis tentang bangunan yang terdapat di Jalan Ahmad Yani VII tepatnya di sekitar belakang bangunan PP London Sumatera terdapat juga bangunan - bangunan tua yang masih dihuni berupa ruko - ruko lama yang kalau kita amati penuh dengan orientasi China seperti halnya bangunan - bangunan tua di Kota Malaka - Malaysia. 

Namun kali ini aku bukan mengulas tentang bangunan ruko - ruko Pecinan tersebut tapi terdapat bangunan tua yang sudah tidak dihuni bahkan nyaris terbengkalai.



Gedung ini pada masanya dikenal dengan nama Warrenhuis. Letak bangunan yang sangat strategis tepat di persimpangan dengan arah pintu menghadap jalan yang sekarang dinamakan Jalan Ahmad Yani VII dan Jalan Hindu. Bangunan ini hanya berjarak beberapa meter saja dari Bangunan PP London Sumatera. 

Pada pintu utama bangunan terdapat tugu yang berdiri kokoh menghadap ke jalan raya. Dari segi arsitektur bangunan sesuai dengan kondisi daerah tropis. Arsitek membangun gedung ini dengan memperbanyak ventilasi dan jendela - jendela agar sirkulasi baik dan memberikan kenyamanan di tengah wilayah tropis yang panas dan lembab.

Menurut sejarahnya Gedung Warrenhuis dibangun pada tahun 1916 tidak berjarak jauh dengan bangunan kantor pos dan gedung PP Londsum serta Gedung Jasindo. Hanya saja bangunan ini berfungsi sebagai tempat perdagangan atau perniagaan kebutuhan sehari - sehari atau seperti yang disebut saat ini dengan Supermarket.

Menurut sejarah yang aku baca setelah selesai dibangun, gedung ini diresmikan penggunaannya pada tahun 1919 setelah tiga tahun dari proses pembagunannya oleh  Walikota Medan saat itu yaitu Daniel Baron Mackay. Kalau kita hitung sejak pembangunan pertama berarti gedung ini telah berusia 105 tahun.

Aku sendiri belum pernah masuk ke dalam bangunan ini, hanya sering melihat dari luar saja. Menurut literatur yang aku baca, Warrenhuis merupakan cikal bakal perdagangan modern pertama di kota Medan yang menjual aneka kebutuhan sandang, pangan dan juga barang - barang elektronik. 

Gedung ini hingga saat ini belum difungsikan lagi, namun oleh Walikota Medan yang baru Bapak Bobby Nasution pernah coba difungsikan sesuai dengan tekad beliau untuk menjadikan Kawasan Kesawan "Kitchen of Asia" yang sempat menumbuhkan semangat dan optimis bagi kita warga Medan namun Pandemi Covid 19 yang terpaksa harus menutup kegiatan tersebut dan entah kapan lagi dihidupkan kembali kegiatan perekomian di Kawasan Kesawan tersebut.

Menurut beberapa informasi yang aku baca di kanal - kanal online gedung ini merupakan milik dari Daliph Singh Bath yang merupakan taipan di masanya untuk usaha bioskop. 
Dan menurut kabar dari media yang aku baca pihak ahli waris juga berkenan jika bangunan ini dijadikan cagar budaya. Semoga saja kerjasama yang baik antara Pemerintah Kota Medan dengan pemilik Gedung Warrenhuis ini bisa terwujud sehingga menjadikan Medan sebagai kota yang bermartabat dan bersejarah.

Kamis, 16 September 2021

AKU DAN SEPIKU

Aku melintasi batas sepi ini, tanpa seorang kawan. Sendiri menembus waktu dan tempatku berlalu. Melewati batas - batas yang membisu tanpa suara lenguh atau bahkan keluh. Lewat nyanyian binatang malam yang bernyanyi lirih ditemani cahaya - cahaya yang diam membisu.
 
 Akh....waktuku kini sendiri dalam redup sayu dan tak ada bias - bias yang tersipu. Kesepianku pun beranjak dari sisi - sisi dan ruang yang berbius kelabu tentang masa - masa lalu yang masih belum berlalu. Masih menancap utuh dalam ingatanku walau aku keluh untuk membicarakan dengan sang waktu. Perjalanan masih jauh lagi, tapi sepiku masih menggantung lagi. Tak perduli walau elegi pagi telah bernyanyi dalam nada - nada yang sunyi dan sepi. 
 
 
 
 Perlahan aku untuk mencoba dalam arena keramaian, namun aku ternyata lebih menyukai sepiku. Dalam sepiku aku merasa diriku lebih mengerti. Berbicara dari hati ke hati dengan diri sendiri dan aku menikmati sepi dengan diriku. Pusaran sepi dan tanpa perlu ruang dan dimensi yang lain. Aku benar - benar ingin bersama sepiku.

Tatkala sepi diri memanggil, aku melayang bersama ruang - ruang yang telah terlewati dan bahkan di ruang - ruang khayalku. Kadang di luar batas nalarku, kenapa sepi ini begitu mengobsesi diri ini. Dalam sepiku aku serasa memutar kisah - kisah laluku, anganku dan juga khayalku.

Aku menikmati sepi ini. Dalam untaian senandung lirih, lewat bait - bait yang teratur rapi. Aku masih berdiam dan menikmati sepi ini.

Aku dan sepiku.

Selasa, 31 Agustus 2021

KEKUATAN DOA DAN SEDEKAH

Ternyata sudah lebih sebulan gak menulis di blog. Kangen juga tapi belum dapat ide buat menulis akhirnya ya nanti - nanti. Aku hanya ingin berbagi tentang kekuatan doa dan sedekah. Mungkin sahabat - sahabat sudah lebih berpengalaman soal ini namun aku ingin sekali lagi hanya berbagi bukan untuk menggurui atau apapun itu. 
 
 Doa adalah permohonan kepada Sang Khalik. Lewat doa - doa merupakan waktu kita untuk berdialog dengan Sang Pemilik Semesta Segalanya tanpa batas. Memohon apa yang kita inginkan, memohon apa yang kita pinta. Kepadanya kita memohon dan berharap semoga terkabul. Yakinlah Sang Khalik pasti akan mengabulkan doamu berdasarkan kepentingan dan kebutuhanmu bukan karena keinginanmu. Karena keinginanmu bukan selamanya baik dan kebutuhanmu pasti sangat bermanfaat untukmu. 
 
 Ketika doa - doamu belum terkabul bukan berarti Sang Khalik belum mendengar atau tidak mendengar pintamu, tapi DIA menguji keimanan dan kesabaranmu. Begitupun dengan sedekah. Sedekah tidak akan membuatmu menjadi kekurangan atau menjadi miskin. Namun sedekah akan menjadikan dirimu kecukupan dan berkah bagi rezekimu. Yakinlah dengan kekuatan doa dan sedekah.
 

 

Senin, 12 Juli 2021

MENYUSURI BANGUNAN SISA KOLONIAL BELANDA PART III ( GEDUNG ASURANSI JASINDO )

 Juli telah hadir, bulan yang biasa ditandai dengan kemarau namun beberapa hari kota Medan dilanda hujan. Entah itu pagi, siang dan bahkan malam hari. Namun hingga kini Insya Allah tidak ada berita banjir di kawasan kotaku tercinta Medan. Namun bad news keadaan pandemi Covid 19 belum berakhir malah semakin parah dan pada bulan Juli 2021 di Medan pun di berlakukan PPKM Darurat. 

Baiklah, mari kita sama - sama berdoa semoga badai pandemi covid 19 segera berlalu dari muka bumi dan kita bisa bebas melakukan aktifitas tanpa masker, menjaga jarak dan protoker kesehatan lainnya jika pandemi ini telah total habis dari muka bumi ini.

Melanjutkan tulisan sebelumnya tetntang bangunan sisa kolonial Belanda di kota Medan maka kali ini aku ingin menulis tentang gedung Asuransi Jasindo yang terletak di Jalan Pulau Pinang berseberangan dengan Gedung PP London Sumatera.


Gedung ini dibangun sekitar tahun 1920an, lebih dahulu dibangun Kantor Pos dan Gedung PP  London Sumatera baru selanjutnya gedung Asuransi Jasindo ini. Pada masanya gedung ini digunakan oleh Stoomvert Maachpact Nederland dan Rotterdamshe Llyoid kemudian dijual kepada pihak jasa asuransi Indonesia dan sampai sekarang gedung ini dipergunakan oleh salah satu badan usaha milik negara yang bergerak di bidang asuransi  yaitu PT. Asuransi Jasa Indonesia atau lebih populer dengan Asuransi Jasindo. 

Letak gedung ini tepat di persimpangan antara Jalan Pulau Pinang dan Jalan Ahmad Yani jadi secara geografis letaknya sangat strategis dan dapat dijangkau dari dua arah. Posisi pintu juga bisa dilalui dari Jalan Pulau Pinang dan juga Jalan Ahmad Yani. Hanya sejangkau saja dari gedung PP. London Sumatera, tinggal menyeberang jalan saja.



Gedung ini tepat menghadap Lapangan Merdeka. Atap dan gevel gedung ini berbentuk segitiga yang mengikuti bentuk atap bangunan. Jendela yang banyak dan ventilasi menyesuaikan dengan daerah Medan yang termasuk kawasan tropis dengan iklim yang panas sehingga dengan banyaknya jendela dan ventilasi menyebabkan sirkulasi udara lebih banyak dan tidak menyebabkan panas di dalam ruangan.

Jendela pada gedung PT. Asuransi Jasa Indonesia ini mengikuti pola bangunan kolonial di Eropah disusun secara berderet - deret dengan bentuk persegi dengan ventilasi udara yang cukup banyak. Tujuannya adalah agar angin banyak keluar masuk sehingga sirkulasi udara berganti dan tidak menyebabkan panas di dalam ruangan. Karena pada masa itu Air Condition belum banyak dipergunakan dalam aktifitas kehidupan sehari - hari atau bahkan belum ada di Kota Medan.

Saat ini PT. Asuransi Jasa Indonesia ( Jasindo ) melayani asuransi dalam bentuk asuransi kebakaran, pengangkutan, asuransi kendaraan mobil dan motor, hingga asuransi keuangan dan juga memiliki asuransi syariah.

Mungkin bagi yang ingin mengikuti atau berkeinginan untuk mengambil polis asuransi boleh juga PT. Asuransi Jasa Indonesia ( Asuransi Jasindo ) ini sebagai pertimbangan.

Bangunan gedung ini sepertinya terdiri dari dua lantai saja dan jika kita melihat gedung ini dari Jalan Ahmad Yani kita akan melihat pilar yang sangat kokoh di depan pintu bangunan, khas bangunan  di Eropah pada abad 19.

Sampai disini dulu ulasan tentang bangunan kolonial di Medan,  pada edisi selanjutnya kita akan menuliskan bangunan bangunan lainnya. Selamat mengeksplor bangunan bangunan kolonial di sekitaran Kota Medan. Salam sehat dan tetap jaga protokoler kesehatan selalu kapan dan dimanapun.

 

Salam sehat Indonesia.


Senin, 07 Juni 2021

MENYUSURI BANGUNAN SISA KOLONIAL DI KOTA MEDAN ( PART II - GEDUNG LONSUM )

 Hadoh.....ternyata bulan Mei terlewat tanpa ada menulis di blog.  Suasana puasa Ramadhan yang harusnya diproduktifkan malah terlewat begitu saja, ditambah lagi dengan Idul Fitri akhirnya pun terlewat juga untuk menulis di blog ini. Dan kini telah masuk ke edisi Juni 2021, sudah masuk pertengahan tahun. Wah....aku harus menulis lagi sebagai salah satu terapi agar tidak lekas pikun nantinya.

Seperti pada medio April 2021, aku menulis tentang bangunan  kolonial di Medan yang masih tersisa yakni Kantor Pos Medan, kali ini aku juga akan menulis tentang Bangunan Sisa Kolonial di Medan yang masih tersisa pada bagian kedua. Masih dalam kawasan yang sama yakni di Kesawan karena memang Bangunan Kolonial Belanda pada zaman dahulu terpusat di kawasan Kesawan yang pada masanya menjadi pusat bisnis dan pemerintahan.


 


Nah...kali ini yang akan aku tulis tentang gedung PT. PP London Sumatera atau populer dengan Gedung Lonsum. Gedung yang berada di Jalan Ahmad Yani tepat di persimpangan Jalan Pulau Pinang dan Jalan Perdana merupakan lokasi yang strategis. Gedung yang berwarna dominan putih yang kental dengan arsitektur Eropah berdiri megah dengan lima lantai. Sampai saat ini masih berfungsi sebagai kantor pusat Perusahaan Perkebunan London Sumatera.

Gedung ini merupakan salah satu cagar budaya di kota Medan dan gedung yang pertama kali menggunakan lift di dalam bangunannya. Gedung ini selesai di bangun pada tahun 1906, lebih dahulu berdiri dibanding dengan Gedung Kantor Pos Pusat Medan yang lokasinya saling berhampiran. Dibangun oleh David Harrison pemilik perkebunan karet Harrison & Crossfield Company ( H&C ) yang berpusat di Kota London, Inggris.

Pada masa itu gedung ini berfungsi sebagai kantor pusat perdagangan  dan perkebunan. Model arsitektur gedung ini mengadaptasi bangunan - bangunan di London pada abad 18 - 19 terutama pada desain pintu - pintu dan jendela - jendela.

Secara struktur bangunan, gedung Lonsum ini menunjukkan betapa kokohnya bangunan ini dan ini terbukti hingga sampai saat ini gedung ini masih berdiri kokoh dengan posisi yang strategis. Menurut sejarahnya setelah selesai gedung ini dijual kepada Pemerintah Belanda dan sempat berubah nama menjadi Juliana Building sesuai dengan nama Ratu Juliana yang merupakan penguasa tertinggi di Kerajaan Belanda. Dan semenjak Indonesia merdeka gedung ini diambil alih oleh Pemerintah Indonesia dan menjadi milik negera Indonesia.

Namun dalam kisah selanjutnya pengelolaan dan fungsi gedung ini menjadi kantor pusat dari Perusahaan Perkebunan London Sumatera yang wilayah kebunnya membentang dari Sumatera Utara sampai ke Palembang bahkan kini kebunnya telah berkembang sampai di luar Pulau Sumatera.






Pada masa aku kuliah dahulu sekitar tahun 1990an di dalam Gedung Lonsum ini terdapat perpustakaan British Council Library dan aku pernah menjadi member dan peminjam buku - buku dari perpustakaan Konsul Inggris yang berada di Kota Medan, namun sepertinya sekarang sudah tidak ada lagi perpustakaan British Council Library di sini dan menurut kabar yang aku dapatkan perpustakaan ini pindah di gedung depan Istana Maimoon.

Kembali ke Gedung Lonsum ini sampai kini gedung ini masih berfungsi sebagai kantor PT. PP London Sumatera dan keaslian gedung ini masih tetap terjaga hingga saat ini.

Selamat menikmati bangunan - bangunan bersejerah di kota Medan.

 


Kamis, 15 April 2021

MENYUSURI BANGUNAN SISA KOLONIAL DI KOTA MEDAN ( PART I )

Medan sebenarnya masih menyisakan bangunan - bangunan bersejarah peninggalan para kolonial Belanda. Ya, Sumatera  terkhusus Sumatera Utara atau dulu dikenal Sumatera Timur merupakan pusat produksi perkebunan yang menghasilkan aneka produksi perkebunan yang sangat dibutuhkan di Eropah dan belahan dunia pada masa itu. Sehingga sangat wajar jika khususnya di Medan dibangun infrastruktur yang untuk mendukung pengiriman dan perdagangan untuk masa itu.

Dari kawasan Deli Serdang terbentang perkebunan tembakau dan tebu. Juga karet dan kelapa sawit. Dari kawasan Simalungun terbentang perkebunan teh dan kopi. Belum lagi hasil rempah rempah seperti cengkeh, lada, kelapa dan lain - lainnya yang sangat dibutuhkan. Jadi wajar jika Sumatera Utara menjadi kawasan primadona sebagai penghasil produksi perkebunan dan menjadi pusat perdagangan pada masa itu .

Okelah mari kita mulai menyusuri bangunan - bangunan bersejarah yang masih tersisa di kota Medan. Walau ada beberapa yang tidak akan saya tulis karena belum sempat saya dokumentasikan walaupun sering dilalui. Kadang - kadang memang begitulah. Kita sering abai dengan kota kita sendiri. Saat kita jauh baru merindu dan memanggil manggil untuk mendokumentasikan atau setidaknya untuk sekedar berselfi di kawasan bangunan bersejarah peninggalan kolonial tersebut.



Foto : Kantor Pos Medan pada tahun 2016

Kawasan bangunan bersejarah di Medan tersebar dari Jalan Bridjend Katamso, Kawasan Kesawan, Jalan H.M Yamin dan juga di Jalan Sisingamangaraja di Medan. Beberapa bangunan masih berfungsi dengan baik dan digunakan namun ada juga yang terbengkalai. Namun sekarang dengan adanya Walikota yang baru sepertinya kawasan Kesawan yang merupakan kawasan bangunan tua mulai dikelola dengan tema " Kesawan Kitchen of Asia" dengan memfungsikan bangunan - bangunan tua dan tetap mempertahankan konsep bangunan sesuai dengan desain awal terdahulu. Semoga harapan dan kerja Walikota terpilih segera terwujud dan mari kita sama - sama mendukung agar Medan menjadi kota yang bermartabat dan berbudaya 

Oke, mari kita mulai menyusuri beberapa bangunan bersejarah yang masih utuh di kota Medan

1. KANTOR POS MEDAN

Kantor pos ini berada persis di sebelah Lapangan Merdeka Kota Medan dan di depan Hotel Inna Dharma Deli ( nanti juga akan saya tulis tentang hotel ini ) atau yang menjadi titik Nol Kota Medan. Gedung yang megah ini masih berfungsi sebagai Kantor Pos hingga saat ini.

Gedung ini dibangun pada tahun 1909 - 1911 oleh arsitek bernama SNUYF. Bangunan ini tetap mempertahankan fungsinya hingga sampai saat ini. Desain yang disesuaikan dengan iklim tropis di Medan dengan bangunan pilar pilar yang tinggi yang ventilasi cukup banyak agar memberikan hawa dingin di tengah kota Medan yang cukup panas. Pada saat itu belum didapat teknologi kipas angin dan pendingin ruang ( Air Condition ) sehingga langit langit cukup tinggi dan atap terbuat dari genteng agar tidak menyerap panas dan dapat mnemberikan kenyamanan kepada orang - orang yang bekerja di kantor pos ini.






 

Di depan pintu utama Kantor Pos ini masih terdapat air mancur walaupun kadang - kadang air mancurnya tidak difungsikan. Menurut sejarahnya air mancur ini pembangunannya didedikasikan kepada salah seorang pioner yang membangun Kota Medan yaitu Jacob Nienhuys. Kantor Pos ini letaknya tepat di jantung Kota Medan atau sekarang kita kenal dengan istilah titik nol Kota Medan. Bangunan yang didominasi dengan warna putih dan kombinasi warna orange yang merupakan simbol warna Kantor Pos Indonesia. 

Bila kita melihat bangunan ini di depan pintu utama gedung terdapat tulisan ANNO 1911 merupakan gambaran bahwa bangunan ini dibangun selesai pada tahun 1911. Jadi kalau kita hitung umur bangunan ini sekarang sudah 110 tahun. Cukup tua juga ya.

Bangunan ini menjadi saksi sejarah dan perjalanan hidup masyarakat Kota Medan. Fungsi Kantor Pos yang tidak hanya mengantar dan mengirimkan surat saja. Seiring kemajuan zaman sekarang Kantor Pos ini tidak hanya melayani dokumen surat menyurat saja. Namun juga melayani pengiriman paket dari dalam dan luar negeri. Aku juga sering menggunakan jasa PT. POS INDONESIA untuk beberapa kali mengirimkan paket kepada kenalanku di negeri seberang.

Pada masa tahun 1980an - awal 2000-an di depan kantor pos ini banyak  menjual benda - benda pos yang dilakukan oleh orang - orang awan yang mencari rezeki dari berjualan benda - benda pos seperti Kertas Segel dimana pada masa itu semua perjanjian dan surat jual beli harus ditulis atau diketik di atas kertas segel. Seiring berkembangan zaman kertas segel kini sudah tidak dicetak lagi dan ini tentunya berimbas kepada pedagang - pedagang kaki lima di sekitar Kantor Pos karena mereka sudah tidak bisa menjajakan benda - benda pos lagi. Kasihan juga nasibnya.

Aku masih ingat betul, setiap untuk pendaftaran dalam Penerimaan Pegawai Negeri Sipil, lamaran pekerjaan harus ditulis di atas kertas segel atau kertas bermaterai cukup sesuai dengan ketentuan yang berlaku saat itu. Namun sekarang tidak menggunakan kertas segel lagi dan dulu di sekitar Kantor Pos ini juga tersedia jasa untuk penulisan lamaran kerja. Mereka - mereka yang mempunyai tulisan yang bagus menawarkan jasa kepada kandidat - kandidat yang akan melamar pekerjaan.

Zaman telah berubah, lamaran kerja dan segala aktifitas manusia sekarang dilakukan melalui online dan internet dan budaya juga kini berubah. Tak ada lagi moment menunggu Pak Pos datang membawakan surat dari kekasih, handai tolan, kerabat. Tergantikan dengan email dan Pesan Whatsap, Telegram ( bukan telegram pada masa tahun 1990an dimana untuk berkirim pesan harus berhitung agar beban biaya tidak terlalu tinggi, ratel yang kita kenal pada masa itu ).

Kini Kantor Pos lebih banyak melayani pengiriman paket barang. Tak ada lagi antrian panjang saat orang mengantri untuk pencairan wessel pos ( semua sekarang sudah bisa tranfer online dan M-Banking ). Tak ada lagi menyaksikan masyarakat usia emas yang berbondong - bondong dan bercengkerema menunggu dan mengambil uang pensiun setiap tanggal 5 ( lima ) setiap bulannya.

Tak ada lagi aktifitas yang super sibuk pegawai pos untuk menyortir dan mengirimkan kartu - kartu ucapan Lebaran, Natal dan Tahun Baru. Aku masih mengingat dengan jelas saat - saat seperti sekarang ini pada bulan Ramadhan, pergi berbondong - bondong memilih kartu lebaran untuk dikirimkan kepada sahabat, kerabat dan handai tolan dan selanjutnya segera mengirimkan ke kantor pos agar sampai sebelum Lebaran tiba. Akh.....masa kini telah berubah dan budaya pun mengikutinya..

Ya, semua fase hidup akan terus berubah namun harapanku semoga gedung ini tidak akan berubah bentuk walau budaya dan tradisi telah berubah seiring perkembangan zaman yang berlalu.