Rabu, 31 Maret 2021

TJONG AFIE MANSION DALAM FOTO

Biarlah foto foto yang akan berbicara dan bercerita tentang tempat ini

1. Meja di sisi tempat tidur Tjong Afie

 
 

3. Koper dan baju yang pertama kali dibawa oleh Tjong Afie dari China saat merantau ke Medan

 

4. Pintu pembatas antara ruang tamu dan ruang terbuka di tengah - tengah bangunan


 

5. Masih di lokasi yang sama


6. Iklim tropis di Medan maka desain bangunan dibuat banyak jendela sebagai salah satu trik untuk memberikan rasa nyaman dengan banyaknya sirkulasi udara

7. Jendela - jendela di lantai dua Mansion Tjong Afie



8. Mansion Tjong Afie terlihat dari halaman depan

9. Meja kerja dan alat hitung hitung tradisonal sebagai sarana pembantu dalam bekerja. Meja kerja ini terletak di kamar tidur utama

 
10. Masih di sekitar meja kerja
 
11.  Mesin jahit dari Nyonya Tjong Afie
12. Foto Saudagar Tjong Afie dan Nyonya
13. Jam dinding
14. Meja rias yang terdapat di kamar tidur utama
15. Timbangan digital
16. Koper dan baju yang dibawa dari China saat merantau ke Medan
17. Koper dan box
18. Suasana di ruang makan
19. Beberapa figura keluarga yang terpajang di dinding mansion
20. Masih di ruang makan
21. Peralatan makan asli dari China
22. Tangga menuju lantai dua
23. Figura - figura yang menandakan pada keadaan suatu masa
24. Bangunan utama dilihat dari bangunan sayap samping
25. Salah satu kamar dari kerabat Tjong Afie
26. Sudut kamar tidur salah satu kerabat Tjong Afie
27. Ruang terbuka yang berfungsi taman antara bangunan induk dan bangunan sayap kiri
28. Masih di taman samping
29. Dinding - dinding yang dihiasi foto - foto keluarga
30. Di lantai dua, pagar tersebut adalah pembatas antara ruang private keluarga Tjong Afie dan ruangan yang boleh dikunjungi oleh orang awam
31. Salah satu sudut ruangan tempat salah seorang kerabat dan keturunan dari Tjong Afie menyimpan piala - pila dari kejuaraan yang diikutinya
32. Sendok perak


34. Lantai dua, jendela yang menghadap ke luar Jalan Ahmad Yani, Kesawan, Medan
35, Menikmati kawasan Kesawan dari lantai dua Mansion

36. Ruangan terbuka yang luas di lantai dua sebagi tempat berdansa
37. Kawasan Kesawan dari lantai dua Mansion Tjong Afie
37. Halaman depan Mansion
38. Taman di halaman depan
39. Ornamen jendela di lantai dua mansion
40. Lantai dua Mansion yang luas dengan lantai kayu yang hangat
41. Figura di lantai dua
42. Kursi dan meja yang besar di lantai dua sepertinya berfungsi sebagai tempat berkumpul keluarga



43. Sofa yang terdapat di lantai dua terletak di sayap samping. Ruangan terbuka dengan cahaya matahari menambah keindahan bangunan ini. Tempat santai sambil menikmati teh di kala sore hari
44. Salah satu sofa lain di lantai dua
45. Tangga turun dari lantai dua terdapat di sisi kanan dan kiri sayap bangunan menuju bangunan utama

46. Salah satu lukisan minyak di dalam Mansion Tjong Afie
47. Pilar yang terdapat di bangunan utama dan bangunan sayap
48. Ornamen keramik lantai di ruang terbuka yang menghubungkan bangunan sayap dan bangunan utama
49. Banyak pintu - pintu penghubung antara ruangan satu dengan ruangan lainnya
50. Ngaso
51. Peralatan masak tradisional, gilingan tepung dan tahu serta bumbu
52. Perabot dapur : rantang, thermos dan timbangan serta teko
53. Tungku tempat masak, salah satu yang masih bertahan di Mansion Tjong Afie. Memasak dengan menggunakan kayu bakar
54. Koridor bangunan sayap kiri Mansion Tjong Afie
55. Masih di taman samping, cahaya matahari yang langsung menembus karena bangunan keadaan terbuka. Bangunan utama dan bangunan sayap samping terdapat koridor dan tidak tertutup atap
56. Silsilah keluarga besar Tjong Afie
57. Di ruang tamu bangunan induk dengan latar foto Tjong Afie
58. Masih di lokasi yang sama dengan gaya yang berbeda
59. Mengisi daftar tamu
60. Daftar kunjungan

61. Di ruang tamu, bangunan utama

62. Perabot dengan nilai seni ukir yang tinggi
63. Tangga menuju lantai dua dari bangunan sayap kanan


54. Bangunan mansion dari depan

65. Prasasti yang menandakan bahwa Mansion Tjong Afie telah ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Medan
66. Di ruang tamu bangunan utama
67. Foto Tjong Afie yang terapat di ruang utama, ruang tamu
68. Salah satu foto dari Sultan Deli yang menandakan eratnya hubungan Tjong Afie dengan Kesultanan Deli pada masa itu
69. Kura - kura di meja kayu. Salah satu ornamen penting dalam budaya masyarakat Thionghoa
68. Patung emas di salah satu meja, ornamen penghias ruangan agar lebih indah dan hidup
70. Piano di sudut ruangan utama Mansion
71. Sekat ruangan dengan ornamen kayu dan ukiran tangan
72. Guci hias yang diletakkan di atas meja berukir

Rabu, 24 Maret 2021

HARANGGAOL HORISON SISI LAIN MENATAP KEINDAHAN DANAU TOBA

 Danau Toba senantiasa indah dipandang dari sudut manapun. Kali ini aku mencoba menikmati keindahan Danau Toba dari sisi lain. Ya!!!!! Aku ingin menikmati Danau Toba dari Haranggaol Horisan saat ini.

Sabtu, 26 Desember 2020 tepatnya kami sekeluarga berangkat menuju ke Haranggaol Horison. Suatu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Simalungun dengan jalan atau rute ke arah menuju Kaban Jahe Kabupaten Tanah Karo.

Hari itu, malam sebelumnya dan hari sebelumnya pada tanggal 25 Desember 2020 suasana kabupaten Simalungun hujan dan pagi pada tanggal 26 Desember masih diselimuti hujan rintik - rintik dan cuaca mendung tebal. Malamnya kami kami menginap di rumah saudara kami di Batu XX Desa Sigodang, Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun. Setelah selesai sarapan kami pun bergegas dan berkemas untuk menuju Haranggaol Horisan. Ini adalah perjalananku yang pertama ke Haranggaol.

Pada tahun 1980an dan 1990an Haranggaol Horison sangat populer menjadi kunjangan wisatawan, baik lokal dan mancanegara. Di sini sering diadakan pesta rakyat Rondang Bintang dan perlombaan permainan rakyat yang melombakan berbagai cabang dan permainan tradisional sekabupaten Simalungun.

Aku ingat masa - masa Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, kawan - kawanku yang aktif dan berprestasi dalam bidang olahraga sering mengikuti Pesta Rakyat & Pertandingan Olahraga serta Permainan Tradisional pada meoment Rondang Bintang Event di Haranggaol Horison.


 Perjalanan pun dimulai, cuaca sepertinya mulai bersahabat. Hujan tak lagi turun, matahari mulai menunjukkan rona cahayanya namun mendung masih menggelayuti. Melewati Desa Simpang Sigodang, Merek Raya dan Pematang Raya jalanan masih bersahabat, bolehlah dikatakan baik. Selepas Pematang Raya mulailah jalan - jalan yang berlubang. Armada pun bergerak lambat menghindari lubang - lubang di sepanjang jalan. Yang lebih parah memasuki kawasan Tiga Runggu dan seterusnya sampai di Simpang Haranggaol Horisan

Menuju ke kawasan ini tidak terlalu sulit, sudah ada  penunjuk jalan dan arah. Memasuki Simpang Haranggaol Horisan kalau dari arah P. Siantar kita belok kiri namun kalau dari arah Kaban Jahe kita belok kanan. Nah jalan dari Simpang Haranggaol sampai ke tepi Danau Toba termasuk mulus dan bagus. Namun jalanan sempit karena ini merupakan jalan kabupaten. Jalan yang berkelok - kelok ditemani perbukitan dan jurang  - jurang. Jika kita perhatikan Haranggaol Horison ini seperti wilayah dalam kuali. Menuju ke dataran rendah dari arah perbukitan ditengahi oleh hutan - hutan pinus dan kawasan perladangan.


Dari kejauhan nampaklah oleh kita kawasan pemukiman masyarakat seperti di dasar kuali, karena sekelilingnya dikelilingi oleh hutan pinus dan perladangan. Kalau kita perhatikan tanaman yang dominan di Haranggaol ini adalah bawang merah.

Sepanjang jalan rute yang kami lalui termasuk sepi dan jarang sekali berpapasan dengan kendaraan lainnya baik berupa armada mobil atau sepeda motor. Sama sekali kami tidak berpapasan dengan bus umum. Sesekali berpapasan dengan armada yang membawa hasil ikan dari kerambah - kerambah yang banyak dijumpai di sisi Danau Toba.

Jalanan benar - benar sepi, namun sebenarnya disini letak kenikmatan perjalanan itu jauh dari kemacetan lalu lintas.

Di sisi jalan mendekati kawasan pemukiman penduduk terdapat hotel dan kolam renang tepatnya di sekitar Penatapan Haranggaol. Jadi bagi siapa yang ingin menginap di Haranggaol tidak perlu risau karena telah tersedia akomodasi dan sarana penginapan. Tidak hanya satu tempat saja, namun ada beberapa hotel dan wisma di kawasan Haranggaol Horison. Walaupun belum termasuk kategori Bintang Dua atau Bintang Tiga.
Benar - benar indah, dan jalanan yang berkelok - kelok semakin menambah keindahan dan sensasi perjalananan.
Dan yang lebih indah lagi, di sekitar Penatapan Haranggaol Horisan terdapat air terjun yang indah. Aku tidak tau nama air terjun ini. Walaupun air terjunnya tidak sebesar Air Terjun Sipiso - Piso namun makin memperindah setiap sudut perjalanan. 
 
Perjalanan pun dilanjutkan kembali, menuju kawasan tepi Danau Toba. Sempat kami berhenti di Penatapan Haranggaol. Di kawasan ini mendung masih menggelayuti dan menenmani setiap perjalanan kami.
Awan kelabu masih berarak di sekitar Danau Toba. 
 
Akhirnya kami pun sampai di sekitar Danau Toba. Melewati dermaga kapal dimana kami lihat berbagai kapal yang siap mengangkut dan mendistribusikan hasil kerambah para nelayan di Haranggaol. Kamipun menikmati keindahan Danau Toba di sekitar bibir pantai dan pasir putih danau. Terdapat beberapa kios di sekitarnya dan kami menyewa tikar tempat kami beristirahat dan menghabiskan bekal yang kami bawa tadi untuk mengisi perut kami menyantap makan siang.
Dan inilah beberapa foto yang sempat aku abadikan di sekitar Haranggaol Horison. Semoga suatu masa nanti bisa kembali berkunjung jika akaomodasi jalan raya telah lebih baik lagi. Semoga.














Rabu, 24 Februari 2021

"MATAHARI" ERROS DJAROT INTERPRETASI DI TENGAH PANDEMI

 Mendengarkan lagu - lagu di Album "BADAI PASTI BERLALU"  yang keseluruhannya bagus dan indah aku terkesima dengan single 'MATAHARI" karya ERROS DJAROT.

Berikut liriknya 


Musim berlalu resah menanti

Matahari pagi bersinar gelisah 

Kini semua bukan milikku

Musim itu telah berlalu

Matahari segera berganti

 

Dimana kau timbun daun yang layu

Makin gelisah aku menanti matahari

Dalam rindang kabut pagi

Sampai kapankah aku harus menanti

 

Awan yang hitam tenggelam dalam dekapan

Daun yang layu berguguran di pangkuan

Kapan badai pasti berlalu

Resah aku menunggu

Kapan badai pasti berlalu

Badai pasti berlalu

Sumber foto : Google
 

 Aku merasakan lagu ini yang merupakan karya Mas Erros Djarot sangat mewakili kondisi saat ini dimana dunia semua lagi dihantam badai pandemi COVID 19. Dan berikut interpretasiku terhadap bait - bait syair di lagu MATAHARI ( Mohon maaf jika interpretasinya jauh dari dari kata "benar" )

Matahari adalah sebuah harapan yang dinanti - nanti, dalam ketidak pastian  dan penuh kecemasan. "Musim berlalu resah menanti" menggambarkan bagaimana musim telah berlalu namun kita masih diliputi keresahan dan penantian yang belum berujung kapan badai ini segera berakhir. Sudah lebih setahun pandemi ini namun belum menunjukkan tanda tanda grafik penurunan.

Matahari pagi bersinar gelisah, bagaimana harapan itu belum muncul hingga saat ini. Pasien yang terus bertambah dan korban yang terus berjatuhan setiap hari. Setiap hari kita melihat berita pertambahan pasien yang terpapar dan berubahnya kebiasaan hidup demi mencegahnya terpapar virus tersebut namaun rasa cemas tak juga hilang.

Ketika takdir Allah  hadir, kita tidak ada apa - apanya dan tak bisa apa apa "kini semua bukan milikku, musim itu telah berlalu". Hanya pasrah pada Sang Khalik semoga " musim itu telah berlalu, matahari segera berganti". Harapan, harapan serta doa terus kita panjatkan semoga badai pasti berlalu

Berharap ada secercah harapan dengan ditemukan vaksin "Dimana kau timbun daun yang layu, makin gelisah aku menanti matahari, dalam rindang embun pagi, sampai kapankah aku harus menanti". Kita berharap adanya   vaksin untuk menangkal penyebaran virus covid, namun masih banyak menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat akan keefektifan vaksin tersebut.


Awan yang hitam tenggelam dalam dekapan

Daun yang layu berguguran di pangkuan

Bagiku lirik ini mewakili  kondisi kita saat ini, dalam kepanikan dan ketakutan dan ketidak pastian. Setiap hari mendengar jumlah pasien yang positif bertambah, bahkan meninggal dunia. Entah itu sahabat, rekan kerja, handai tolan dan kerabat dan entah siapa lagi di belahan bumi lain. Kapan badai pasti berlalu, resah aku menunggu, kapan badai pasti berlalu. Badai pasti berlalu.  Inilah pertanyaan dan harapan yang selalu menggayut dalam pikiran dan hati kita semoga badai ini segera berlalu dan kita dapat menikmati kembali dunia dengan perasaan tenang dan normal sebelum pandemi covid ini melanda. Entahlah..................Mari kita berserah diri kepada Sang Maha Kuasa pemilik alam semesta dan segala isinya dan tak henti - hentinya memohon dan memanjatkan doa agar badai ini segera berlalu.

Marilah kita berpikir positif dan bertindak positif agar dapat menekan laju penyebaran dan pengembangan virus covid 19. Semangat dan teruslah berdoa