Jumat, 03 Januari 2020

TOBA SARI, MENGENANG MASA TERLEWAT DALAM RUANG BERBEDA

Akh...............masa cepat berlalu. Dan cerita - cerita lalu kini menjadi kenangan, dan tidak tersisa lagi. Demikian juga dengan kenangan dan tempat kelahiranku, tidak menyisakan lagi jejak - jejak langkah masa kecilku. Tanah kelahiran yang bukan milik pribadi orang tuaku pada akhirnya akan berubah sesuai dengan fungsi dan kepentingan serta keuntungan bagi badan usaha.

Bahkan baturkupun sudah tak tahu dimana letaknya. Pada saat mengunjungi tanah kelahiran tak ada lagi sisa - sisa peninggalan rumah kami. Tak ada lagi halaman tempat kami bermain dengan suka cita bersama teman - teman masa kecilku. Semuanya musnah dan telah beralih fungsi.
Hamparan kebun teh yang menghijau telah terganti dengan tanaman kelapa sawit.

Akh.....ternyata kerinduan akan kenangan semakin dalam manakala kenangan itu telah tiada lagi. Semakin dalam dan mendalam bahkan.

Menyusuri jalanan mengingatkan akan Marjandi tanah kelahiran

Melawat dan melewati Toba Sari seperti mengingatkan kembali akan tanah kelahiranku Marjandi. Toba Sari dan Marjandi berada dalam menagement yang sama di salah satu Badan Usaha Milik Negara, namun kini telah berbeda dalam hal komoditi tanamannya.
Perkebunan Marjandi telah dikonversi menjadi tanaman sawit dan kompleks perumahan dan tempat bermain kami telah ditumbuhi dengan tanaman sawit, tak ada lagi kenangan yang tersisa.
Dan aku selalu merindukan itu tanah kelahiranku...............................
Aku mencoba merangkai ingatan itu walau di ruang yang berbeda dan waktu yang berbeda.

# TOBA SARI pada suatu waktu

Jalanan setapak ini mengingatkan aku saat pulang pergi menuju sekolah saat SMP walau di lokasi berbeda

mengingat masa yang terlewat

perjalanan

saat itu kami sering bermain laga biji teh

hamparan hijaunya perkebunan teh

kami dulu mencari kayu bakar untuk memasak kala pohon teh dipangkas atau dikepris istilahnya

Tanah basah dan kenangan yang musnah

 

Menyusuri hamparan teh di Toba Sari mengingatkan akan masa laluku. Mengingatkan kembali akan aktifitas masa lalu. Mengingatkan kenangan akan jalan - jalan yang kususuri. Persis sama walau di lokasi yang berbeda. Mengingatkan aku akan masa kecilku dan tempat aku angon dahulu.

#Marjandi masih selalu kurindu#


jalanan yang nyaris sama walau di lokasi yang berbeda



banyak cerita dari hijaunya pucuk teh

Selamat tinggal kenangan walau masih selalu kurindukan.

Kamis, 26 Desember 2019

MY LOVELY 'INTAN PAYONG" BANYU BIRU

Tak terasa perjalanan waktu telah mengantarkanmu menjelang usia 11 tahun anakku. Masa - masa kecil terasa cepat berlalu dan kini  engkaupun tumbuh dan besar bersama kami. Selamanya kami selalu merindukan masa - masa kecilmu anakku. Membelaimu dan mendekapmu adalah anugrah terindah dalam hidup kami.
Menanti saat - saat di awal kehadiranmu merupakan bahagia terdalam dari kami dan bersamamu kami berharap selalu selamanya.























Kini engkau tumbuh besar dan beranjak remaja, perjalanan waktu tak terasa berlalu. Engkau yang biasa kami peluk kini sudah malu - malu bila dipeluk. Harapan kami dan doa kami semoga engkau senantiasa sehat, menjadi anak yang soleh dan perisai bagi keluargamu saat ini dan kelak nanti. Bermanfaat untuk sesama, senantiasa memberi kedamaian dan kesejukan seperti nama yang kami berikan kepadamu BANYU BIRU.



Saat kehadiranmu 28 Desember 2008, Minggu sekitar pukul 10. WIB

Jagalah kami kelak kami tua nanti, tetaplah berpegang kepada Alquran dan hadist Rasulullah dan teruslah berjuang dengan panji - panji Islam untuk memberikan manfaat dan kebajikan bagi sesama.
Sebarkanlah kedamaian dan tetap menghargai perbedaan dan janganlah sekalipun menyakiti hati orang lain.

Nak, jika kami telah tiada senantiasa panjatkanlah doa buat AYAH - BUNDA mu. Jagalah sholatmu dan amalan - amalan lainnya. Jagalah saudara - saudaramu, dan bantulah sesuai kemampuanmu.
Jika engkau punya lebih berbagilah dan bersedekahlah. Karena sedekah tak akan membuatmu miskin tapi akan senantiasa membuatmu kaya terutama jiwamu.

JADILAH ANAK BERBUDI PENUH KEBAJIKAN DAN SENANTIASA MENJUNJUNG TINGGI HARKAT KEBENARAN DAN TERUSLAH PEGANG DAN AMALKAN KEJUJURAN.






Selamat ulang tahun anakku, 28 Desember 2008 - 28 Desember 2019

Kamis, 21 November 2019

BATU 20 DESA SIGODANG KECAMATAN PANEI DALAM PERSINGGAHAN

Desa Batu 20, terletak di Kecamatan Panei Kabupaten Simalungun. Mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Aneka tanaman dibudidayakan masyarakatnya mulai tanaman perkebunan, padi dan palawija juga buah - buahan.
Kakiku sering kulangkahkan ke sini karena kami memiliki kerabat dekat disini, berdiam dan berusaha. Desa yang sejuk dan asri, masih jauh dari polusi. Masih sunyi khas suasana desa namun penuh dengan keramahan dan kegotong royongan.

Persawahan dengan padi yang mulai mengisi

Hamparan swah yang luas, apalagi saat padi menguning menjadikan panorama yang indah kala kita menikmati sore hari di sini. Masyarakat atau penduduk di sini terdiri dari beberapa suku namun yang dominan adalah Suku Batak Simalungun, ada juga Batak Toba dan masyarakat keturunan Jawa.

Desa Batu 20 itu namanya, karena lokasi desa ini jaraknya dari kota P. Siantar sekitar 20 kilometer, pada saat itu masyarakat biasa menyebutkan jarak 1 kilometer sama dengan 1 batu. Kondisi perumahan penduduk di desa ini belum padat dan masih kental dengan suasa alam pedesaan. Jika angin berhembus kita akan mendapatkan semilir angin yang sejuk apalagi desa ini berada di ketinggian sekitar 700 meter dari permukaan laut. Curah hujan cukup tinggi di sekitar desa ini dan berhawa dingin walaupun kondisinya tidak sedingin pada tahun 1980 - 1990an saat kondisi sekitarnya masih merupakan perkebunan teh. Di sekitar desa ini sekarang telah dialih fungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Aku sangat menikmati jika berkunjung di sini. Saat - saat ikut panen buah jeruk atau saat ikut mengambil ikan di kolam merupakan saat - saat yang indah sejenak melepaskan kepenatan dari kehidupan perkotaan. Bila musim durian tiba apabila kami berkunjung ke kediaman kerabat kami maka dipastikan kami akan menikmati durian sepuasnya tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Belum lagi hasil bumi yang akan kami bawa sebagai oleh - oleh pemberian kerabat kami. Sungguh menyenangkan.

Bentangan sawah yang luas kala padi menghijau, ladang - ladang kopi dan kakao yang terhampar dan juga kebun - kebun pisang. Belum lagi pete dan jengkol yang banyak ditanam dan tumbuh subur oleh masyarakat disini.

Masyarakat batu 20 beragama Islam, Kristen Protestan dan Katholik. Tidak ada masyarakat yang beragama Hindu dan Buddha yang berdomisi di sini. 

Masyarakat dapat menjual hasil bumi ke kota Pematang Siantar atau ke Pematang Raya. Sarana transportasi sudah cukup bagus dan moda transportasi ke tujuan  tempat pemasaran cukup banyak.
 Di desa Batu 20 terdapat 2 buah Sekolah Dasar dan sebelumnya sempat ada Sekolah Menengah Pertanian disini namun kembali dipindahkan ke Pematang Raya.


di latar belakangi tanaman jagung menjelang panen

Cuaca dis Batu 20 sering hujan

Selain menjual hasil bumi ke P. Siantar dan P. Raya biasanya para agen pengumpul sudah datang langsung ke desa Batu 20 bahkan langsung ke ladang - ladang petani sehingga petani tidak sulit untuk memasarkan hasil panen.

Teman - teman masa Sekolah Menengah Pertama ku banyak berasal dari Batu 20 namun kini saat aku berkunjung kesana aku hanya menemukan satu orang saja. Selebihnya mungkin sudah menetap dan memiliki kehidupan di kota lain seperti halnya diriku.

Batu 20 selalu ada keindahan yang berbeda setiap aku mengunjungimu.

menikmati kesunyian

mendung yang sering menghampiri

Akh...kadang - kadang aku merindukan teman - temanku masa Sekolah Menengah Pertama dulu, namun aku tak menemukannya lagi. Mungkin waktu tidak tersikron dengan baik saat kunjungan dan kepulangan mereka di kampung halamannya.

Semoga suasana alam pedesaan ini tidak akan berubah sampai nanti.