Kamis, 29 September 2022

GEDUNG ASURANSI JIWASRAYA MEDAN

Minggu 28 Agustus 2022 aku menghadiri resepsi pernikahan salah satu teman di kantor di Gedung Selecta di Jalan Listrik Medan. Aku lebih awal pulang, tidak mengikuti rangkaian acara sampai selesai. Kupacu sepeda motorku lewat jalan Palang Merah, di sini banyak masih berdiri megah bangunan - bangunan kolonial yang masih berfungsi dan difungsikan dengan baik. Salah satunya adalah Gedung Asuransi Jiwasraya. 

Jalanan sepi, tidak banyak kendaraan yang lalu lalang. Aku sangat menyukai bangunan - bangunan kolonial yang ada di kotaku. Dan malam ini aku merasa beruntung, dapat mengabadikan Gedung Asuransi Jiwasraya dalam kondisi lalu lintas yang lenggang. Walaupun hasil jepretan dalam nuansa malam yang temaram .



Banyaknya bangunan - bangunan yang megah di Kota Medan pada saat itu tidak terlepas dengan kondisi Sumatera Utara yang banyak menghasilkan hasil - hasil perkebunan yang dibutuhkan dan diekspor ke benua Eropah seperti Tembakau, Karet dan Kopi.

Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab berpindahnya pusat pemerintahan Keresidenan Sumatera Timur yang sebelumnya berada di Bengkalis kemudian dipindahkan ke Medan pada 01 Maret 1887. Dan sejak itu banyak di bangun gedung - gedung yang merupakan infrastruktur yang menunjang untuk proses ekonomi dan untuk memudahkan urusan pengiriman hasil - hasil bumi dari Keresidenan Sumatera Timur.

Pada tahun 1874 telah banyak dibuka perkebunan - perkebunan yang dipelopori oleh J. Nienhuys, Van Der Falk dan Elliot di kawasan Keresidenan Sumatera Timur. Ada sekitar 22 perkebunan pada saat itu dan untuk membantu proses hasil - hasil kebun tadi terbangunlah infra struktur yang sampai sekarang masih berdiri megah di Kota Medan walaupun tinggal sebagian kecil saja.

Salah satu Gedung peninggalan kolonial adalah Gedung Asuransi Jiwasraya. Gedung yang terletak di Jalan Palang Merah tersebut berdampingan dengan Gedung BKS PPS atau yang dikenal Gedung Avros.

Asuransi Jiwasraya sendiri berdiri pada 31 Desember 1859 dengan nama NILLMIJ ( Nederlands-Indische Levensverzekering en Lijfrente Maatschappij ). Perusahaan ini merupakan perusahaan asuransi yang pertama didirikan di Indonesia. Pada tahun 1957 dalam rangka Indonesianisasi perekonomian perusahaan - perusahaan asuransi jiwa milik Belanda dikenakan Nasionalisasi. 

Pada tanggal 17 Desember 1960 NILLMIJ van 1859 yang sudah dinasionalisasi berdasarkan Peraturan Pemerintah No : 23 tahun 1958 diubah menjadi PT. Asuransi Pertanggungan Djiwa Sedjahtera berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehakiman.

Pada tanggal 01 Januari 1961 didirikan perusahaan asuransi jiwa dengan nama PN Asuransi Djiwa Eka Sedjahtera berdasarkan Peraturan Pemerintah No : 214 Tahun 1961 . Ke dalam perusahaan yang baru ini dileburlah kesemiblan perusahaan asuransi milik Belanda tersebut dengan inti utama NILLMIJ van 1859

Pada tanggal 01 Januari 1966 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1965 didirikan perusahaan negera yang baru bernama PN Asuransi Djiwasraya. Ke dalam perusahaan negera ini dilebur PN Asuransi Djiwa Eka Sedjahtera.

Gedung Asuransi Djiwasraya Medan di bangun pada tahun 1918 dan sempat direnovasi pada tahun 1984. Sesuai dengan kondisi wilayah Indonesia sebagai negara tropis maka bangunan gedung ini banyak menghadirkan jendela - jendela sebagai ventilasi agar sirkulasi udara berjalan lancar dan tidak menimbulkan efek panas di dalam gedung.

Renovasi tersebut tetap memperetahankan keaslian gedung yang pertama kali dibangun. Dan sampai saat ini gedung Asuransi Djiwasraya tetap bertahan dengan konstruksi yang asli. 

Pintu utama Gedung Asuransi Djiwasraya menghadap ke Utara dan Barat dan jendela - jendela yang cukup banyak menjadi keindahan bangunan ini. Gedung yang bercat putih ini masih berdiri megah dan telah ditetapkan sebagai salah satu Bangunan Cagar Budaya Kota Medan.

Semoga bangunan - bangunan kolonial yang masih tersisa akan terus terjaga sampai nanti sebagai cerita dan saksi sejarah dari Negeri Indonesia.


Semoga.









( Pada malam hari trotoar di Gedung Asuransi Djiwasraya  Medan digunakan oleh pedagang kaki lima sebagai tempat atau lapak berjualan. Saat aku melintas pedagang sedang menyusun kursi - kursi yang berwarna merah di sekitar Bangunan Asuransi Djiwasraya tersebut. Tapi aku tidak tau mereka berjualan apa karena aku mengambil fotonya dari seberang jalan ).


Sumber tulisan : Dari berbagai sumber

Jumat, 26 Agustus 2022

BELAJAR DARI KEINDAHAN TUMBUHAN LIAR

Alam semesta terdapat beribu flora dan fauna tersebar di muka bumi ini. Dari ukuran yang sangat kecil bahkan yang super besar. Masing - masing diciptakan Tuhan tentu ada maksud dan manfaatnya. Walau manusia banyak yang belum mengetahui manfaat dari flora dan fauna yang masih banyak menyimpan misteri. Namun seiring berkembangnya teknologi misteri - misteri tersebut perlahan mulai tersingkap dan memberikan manfaat untuk kebaikan manusia di muka bumi ini 

Bila kita lihat sekitar kita, minimal halaman rumah kita maka banyak terlihat rumput - rumput liar dan tumbuhan liar yang belum kita ketahui namanya ataupun manfaatnya. Tumbuh menyemak dan mengganggu sehingga kita merasa terganggu dengan kehadiran mereka untuk melihat keindahan kembang - kembang atau tanaman hias yang sedang kita tanam dan pelihara.

Pada umumnya pertumbuhan tumbuhan liar ini lebih cepat daripada tanaman peliharaan sehingga mengganggu ruang gerak tanaman peliharaan dan ini yang menjadi masalah. Sehingga kita berusaha untuk memberantas tumbuh kembang tumbuhan liar tersebut.

Padahal tak sedikit tumbuhan liar tersebut akan mengeluarkan keindahn bunganya bila waktunya telah tiba. Namun karena pada dasarnya mereka tumbuhan liar dan mengganggu maka sebelum tumbuh besar langsung diberantas dan dimatikan.

Begitulah juga dalam kehidupan....................

Dalam lingkaran kehidupan, tak semua kita temui orang - orang yang baik. Karena kalau semua makhluk hidup baik dan berbudi luhur maka hidup seperti ini bukan di dunia namanya. Selalu kita temui dalam lingkaran kehidupan dimanapun dan kapan pun akan kita temui si pembuat onar. Maka kita menyebutnya manusia liar, susah diatur dan entah apa lagi sumpah serapah untuknya.

Namun pada hakikatnya Tuhan tidak menciptakan manusia itu untuk menjadi perusak di muka bumi. Tuhan selalu menciptakan hati pada setiap manusia. Dan jika hati nurani yang berbicara maka kebaikan yang akan timbul.

Seperti halnya tumbuhan liar, pada akhir fase kehidupannya dia akan berbunga dan umumnya bunga yang dikeluarkan pasti indah namun karena  lebih banyak keburukan maka keindahan tersebut sering terabaikan dan sering tak dipandang.

Begitu juga manusia kebanyakan memandang seseorang yang disebut sebagai pengganggu. Dari awal manusia selalu berfikir negatif tentang manusia tersebut karena seseorang tersebut sudah lebih banyak sisi negatifnya dari pada positifnya. Maka kadang kebaikan yang timbul dari dirinya dianggap atau dipandang sebelah mata bahkan tak dipandang sama sekali. Seribu kebaikan pun yang dibuat akan tercoreng dengan satu kejahatan yang telah diperbuat.

Namun jika Sang Pengganggu tersebut diberikan peluang untuk tumbuh dan berkembang pada akhirnya dia akan mengeluarkan bunga yang indah. Kita sering abai terhadap kebaikan - kebaikan yang diberikan oleh seseorang yang telah dicap jahat atau pengganggu. Padahal mereka juga masih memiliki hati nurani untuk memberikan bunga keindahan namun kesempatan sering datang terlambat atau tidak adanya kesempatan untuk mengeluarkan keindahan bunga kebaikan tersebut.

Begitulah................................


BELAJAR DARI KEINDAHAN TUMBUHAN LIAR


Senin, 25 Juli 2022

GEOSITE SIPINSUR KEINDAHAN KALDERA TOBA

 Danau Toba memang tak akan pernah habis untuk dikelilingi dan dinikmati. Dari sudut manapun kepingan surga ini akan sangat indah terlihat. Menyajikan panorama air yang membiru dengan ditingkapi oleh bukit - bukit yang menghijau dengan rangkaian hutan pinus yang menyejukkan mata.

Salah satu menikmati keindahan Danau Toba bisa dilihat melalui Geosite Sipinsur. Lokasi yang berada di Kabupaten Humbang Hasundutan ini menyajikan pemandangan sisi lain Danau Toba yang indah dengan latar belakang Pulau Sibandang, salah satu pulau yang terdapat di kawasan Danau Toba. Selama ini kita hanya mengenal dan populer dengan Pulau Samosir, ternyata ada pulau - pulau lain di kawasan Danau Toba ini.


Sebenarnya keinginan untuk mengunjungi Geosite Sipinsur ini sudah cukup lama, tahun 2019 pun sudah merencanakan untuk mengunjunginya namun belum terwujud dan baru terwujud di awal bulan Nopember 2021 sekaliann karena ada undangan dari kerabat dalam rangka menikahkan anaknya di kota Pematang Siantar.

Kami berangkat dari Medan hari Jumat malam Sabtu selepas sholat Maghrib. Jarak tempuh Medan - Pematang Siantar yang terbantu dengan adanya akses tol makin mempersingkat perjalanan. Kami tidak langsung menuju ke Sipinsur, namun singgah dan menginap di kota kecil Serbelawan di Kabupaten Simalungun di rumah abangku. Sekalian menjenguk dan menengok rumah baru yang baru dibelinya karena sebentar lagi beliau akan memasuki usia pensiun.

Pagi pun tiba, selepas sholat subuh kami bercengkerama sambil menikmati sarapan pagi dengan segelas teh dan seporsi mie balap yang dibeli dari Pekan Serbelawan.

Kami tidak langsung berangkat, namun silahturahmi ke rumah kerabat lainnya di seputaran kota kecamatan Serbelawan. Pukul 11.00 WIB baru kami bergerak meninggalkan kota Serbelawan untuk menuju ke tujuan asal yakni ke Sipinsur.

Langit cerah dan bersahabat, sekitar perjalanan lebih 30 menit kami singgah ke kota Pematang Siantar. Membeli perbekalan urusan lambung kami nantinya. Membeli lauk pauk untuk bekal di perjalanan kami.

Perjalanan pun kami lanjutkan lagi. Sampai di Parapat sepertinya cuaca mulai menunjukkan kurang bersahabat. Mendung tebal dan rinai hujan mulai turun satu persatu. Sudah mulai waktunya makan siang, perut pun sudah mulai keroncongan. Kami pun berhenti untuk makan siang sekalian untuk melaksanakan sholat Dzuhur. Dan akhirnya kami menemukan mesjid di Aek Natolu, Kecamatan Lumban Julu Kabupaten Toba. Mesjid yang termasuk kecil dibandingkan dengan mesjid yang ada di Kota Medan. Segera diparkirkan kendaraan dan kami segera berwudhu untuk melaksanakan sholat Dzuhur terlebih dahulu sebelum mengisi kampung tengah yang sudah terngiang - ngiang untuk segera diisi ulang.Kami segera sholat Dzuhur dan setelahnya kami makan siang di teras mesjid Aek Natolu. Pengurus mesjid sangat baik. Memperkenankan kami istirahat dan menyediakan air minum untuk kami walaupun kami sebenarnya juga  telah membawa bekal air minum yang cukup banyak. Alhamdulillah................rezeki musafir di perjalanan. Terima kasih Pak Imam Masjid Aek Natolu.

Di halaman mesjid Aek Natolu

Makan siang pun kami dengan lahap, karena perut juga sudah memanggil - manggil untuk segera diisi sewaktu masih di Parapat tadi. Cuaca sepertinya masih belum bersahabat, awan tebal masih menggelayut di kawasan Aek Natolu. Ada kekuatiran jika nanti hujan sampai ke tujuan. Kami sebenarnya masih meraba - raba di mana keberadaan Geosite Sipinsur ini. He he he.

Rumput liar yang sedang berbunga di halaman Mesjid Aek Natolu

Awan tebal menggelayut di kawasan Aek Natolu

Mendung masih menggelayut tebal, namun seiring waktu langit mulai sedikit cerah dan matahari sudah mulai menampakkan cahayanya. Perjalanan pun kami lanjutkan kembali. Membelah jalan raya menuju kawasan Porsea, kami sempat belok kanan menuju ke jalan di Bandara Sibisa sekalian hunting lokasi mana tau ada kawasan wisata yang baru dan melihat kondisi Bandar Udara Sibisa yang dalam proses renovasi. Jalanan yang mulus dan di kanan kiri terhampar perladangan dan beberapa kuburan suka Batak yang sangat megah. Di ujung jalan kami menemukan kondisi jalan yang yang buruk. Sebenarnya tujuan adalah ingin melihat kawasan wisata Kaldera Toba namun armada kami tadi tidak berbelok kiri. Karena jalanan sepi dan kuatir BBM kami akan habis akhirnya kami balik badan menuju arah Balige untuk mengisi BBM.

Tak jauh dari Simpang Bandara Sibisa kami telah menemukan SPBU dan segera kami isi full tank agar lebih aman di perjalanan nantinya. Perjalanan kami lanjutkan lagi untuk menuju ke tujuan awal yakni Geosite Sipinsur.

Kami lewati Lumban Bulbul dan Kota Balige. Sampai di kota Balige kami bertanya kepada penduduk setempat arah menuju ke Sipinsur. Penduduk yang ramah walau dengan suara khas suku Batak yang keras. Akhirnya kami terus saja menuju sesuai dengan arah yang disampaikan oleh penduduk Balige tadi. Menurut informasinya sekitar 25 KM dari Balige ke Sipinsur. Di perjalanan kami juga menanya kembali kepada masyarakat setempat untuk memastikan lokasinya.

Dan sampai di Simpang Bandara Silangit armada kami sempat menuju terus ke Kota Siborong Borong, namun kami bertanya lagi dan kami mutar balik ke Simpang Bandara Silangit lagi. Hanya beberapa meter saja kami kelewatan tadi. Perjalanan pun kami lanjutnya. Penunjuk jalan pun banyak ditemui di kawasan ini. Dari penunjuk jalan disampaikan dari Simpang Bandara Silangit jarak ke Sipinsur 14 KM lagi. Jalanan yang sepi dan mulus. Sampai di persimpangan ada penunjuk jalan lagi dimana ke arah kanan menuju ke Muara dan ke kiri ke Geosite Sipinsur, sekitar 7 KM lagi. Walaupun jalan masih mulus namun sepertinya ditingkatkan lagi kualitasnya karena beberapa pejabat negara dan Presiden Joko Widodo telah berkunjung ke kawasan ini dan pejabat negara lainnya akan mengunjungi kawasan ini nantinya.

Akhirnya sampailah kami ke kawasan Geosite Sipinsur. Sebelum masuk ke kawasan masih di luar saja kami sudah di sambut panorama yang indah. Apalagi kalau cuaca sangat cerah, makin indahlah untuk berfoto ria di sini. Kami sudah sore saat tiba di Geosite Sipinsur, sudah menjelang pukul 16.00 WIB.


Segera kami parkirkan kendaraan, dan kami masuk ke lokasi Geosite Sipinsur. Karcis masuk yang sangat murah, hanya Rp. 1.000,- ( seribu rupiah ) per orang. Kami ke sana pada hari Sabtu sore, suasana pandemi Covid 19 masih cukup tinggi saat itu. Betapa gembiranya hati kami. Melihat hamparan hutan pinus yang luas dan cauaca yang sangat dingin dan asri. Tak ramai pengunjung yang datang, mungkin karena masih pandemi dan bukan hari libur Nasional.

Kami pun menjelajah kawasan ini. Menikmati panorama Danau Toba dari berbagai sudut. Semilir angin di hutan cemara menyajikan senandung merdu riuh rendah seperti melodi yang indah. Kami kelilingi kawasan ini.

Dari berbagai sudut. Kawasan yang asri dan bersih dan tersedia juga fasilitas publik seperti kamar mandi yang bersih, sarana permainan anak dam juga bangku - bangku yang tersedia di antara rimbunya hutan cemara. Cafe dan restoran juga tersedia dengan harga yang terjangkau dan tidak mahal yang dilengkapi dengan hiburan live music. Sambil memandang keindahan Danau Toba dari atas roof top dan ditemani kopi atau teh yang hangat alangkah sedapnya.

Tersedia juga tempat camping dan rumah - rumah singgah, namun pada saat itu karena pandemi covid 19 masih sangat tinggi pengunjung belum diperkenankan untuk berkemah dan menginap.

Bahagia rasanya, lelah yang terbayarkan dengan panorama yang indah. Sayang hari sudah cukup sore padahal Bakkara tinggal beberapa menit saja untuk dicapai. Semoga Tuhan masih memberikan umur dan waktu agar kami bisa menjelajah Bakkara dengan segudang panoramanya.

Pukul 18.00 WIB pun kami meninggalkan Geosite Sipinsur dengan hati yang gembira dan lelah yang terbayarkan dengan panorama yang indah.

Pulau Sibandang dari menara pandang di Geosite Sipinsur

Danau Toba yang membentang di beberapa Kabupaten di Propinsi Sumatera Utara

 



Hamparan hutan cemara

Pulau Sibandang dilihat dari Geosite Sipinsur




Cafe dan restoran. Saat itu kami di roof top cafe. Menikmati live music yang disediakan pengelola

 
















Sipinsur, sejuta kenangan yang ingin dikunjungi kembali.



 



Selasa, 28 Juni 2022

NOSTALGIA SMA

 Ha ha ha........................

Membongkar - bongkar foto album lama ternampak foto foto masa sekolah tingkat SMA dulu. Walau aku tidak sekolah di SMA namun aku mengambil sekolah kejuruan tepatnya di Sekolah Menengah Teknologi Pertanian Negeri Pematang Raya. ( Aku telah menulis tentang sekolah ini sebelumnya ).............Silahkan dibaca...............

Mengenang saat - saat remaja dulu.....Dan tak terasa ternyata usia telah menjelang renta. Sudah hampir lima puluh tahun ternyata. Apalagi kalau sudah bercerita dengan kawan - kawan semasa SMA dulu, rasanya masih merasa masih remaja semua. Masih suka gak sadar diri ternyata sebagian sudah menjadi atau bergelar kakek nenek, Omah Opah, Opung atau apapun itu nama panggilannya.


Tahun 1988 - 1991 adalah periode masa SMA ku. Di kota kecil tanpa ada hiburan seperti remaja - remaja di kota besar. Tapi kami menikmati keceriaan masa remaja. Bersendau gurau tak mengenal waktu. Walau tak pernah menonton cinema ada kalanya pergi juga menonton film matine yang sudah berjarak sekian bulan setelah diputar di kota - kota besar. Mau nontonnya pun jauh apalagi sarana transportasi dan infra struktur yang tidak baik ditambah lagi dengan kondisi keuangan mayoritas kami yang pas - pasan jadi cerita tentang keriaan nonton bioskop adalah suatu kenistaan.

Namun kami bahagia menikmati masa remaja dengan cara kami.

Jalan - jalan dengan gembira bersama teman - teman adalah suatu hiburan yang murah meriah. Walaupun jalan - jalannya bukan di tempat yang mewah. Kadang nginap di rumah kawan adalah salah satu point kebahagiaan. Setelah itu bermain bersama di sekitar kawasan rumah teman yang diinapi tersebut.

Walaupun rumahku dulu kecil ( rumah dinas karyawan kebun ) namun aku sering mengajak kawan - kawanku untuk datang ke rumahku bahkan mereka juga menginap di rumahku dengan fasilitas yang seadanya namun kami merasa sudah cukup bahagia. Di sekeliling rumahku terhampar perkebunan teh karena orang tuaku merupakan karyawan ( buruh ) perkebunan teh.

Bila waktunya ingin jalan - jalan kami sudah buat kesepakatan walau tanpa ada alat komunikasi yang canggih seperti sekarang, namun kami saling menghargai satu sama lain. Terutama waktu. Entah kenapa janji kami selalu tepat dan biasanya titik kumpulnya di Pajak Horas ( Pajak Horas adalah salah satu pusat perbelanjaan di kota Pematang Siantar, masyarakat di sekitar Sumatera Utara biasa menyebut Pasar dengan sebutan Pajak ).

Foto - foto ini merupakan perjalanan kami di Berastagi. Kalau sekarang kawasan ini di sebut dengan Pariban Cottege. Tempat pemandian air panas ( belerang ) yang berasal dari Pegunungan Sibayak.


Waktu itu kami hanya menyebutkan ke kawasan Lau Debuk Debuk. Pada masa itu tidak seramai sekarang dan masih benar - benar alamiah. Selain kawasan Lau Debuk - Debuk kami juga melalak ke kawasan TAHURA    ( Taman Hutan Raya ) di Berastagi juga. Kawasan cagar alam dengan konservasi hutan tropis. 

Aku juga gak tau kondisi TAHURA saat ini, karena kalau jalan - jalan ke Berastagi aku hanya melintas dan melihat dari kejauhan kawasan hutan ini.




Masa - masa remaja kami dulu gedung bioskop banyak terdapat di hampir seluruh kota kabupaten atau bahkan di kecamatan, namun tidak untuk Kecamatan Pematang Raya karena kota ini dulu dijadikan sebagai kota pelajar di Kabupaten Simalungun - Propinsi Sumatera Utara. Jadi kalau yang ingin nonton kami harus pergi ke ibu kota kabupaten yaitu Pematang Siantar yang berjarak 30 kilometer. 

Transportasi tidak semudah sekarang, jam 7 ( tujuh ) malam adalah trip terakhir bus dari kota Pematang Siantar menuju ke Pematang Raya jadi setelah jam 7 malam tak akan ada lagi bus yang bergerak menuju ke Pematang Raya.

Namun aku tidak tinggal di Pematang Raya. Aku tinggal di desa Marjandi yang berjarak sekitar 14 kilometer jika akan menuju ke Pematang Siantar. Tapi sama saja, bus yang menuju ke Marjandi juga trip terakhir pukul 6 ( enam ) sore. Itupun tidak masuk ke kebun Marjandi namun hanya berhenti di Simpang Marjandi. Dari Simpang Marjandi harus jalan kaki sejauh 1,5 kilometer untuk mendapatkan kawasan perumahan karyawan dimana merupakan kawasan tempat tinggalku. Bus tersebut pemberhentian terakhir di Simpang Raya.

Oh ya... di Kota P. Siantar bioskop yang ada saat itu adalah RIA, RIANG, PALAPA dan DELI yang berada di pusat kota. Sedang yang berada di sekitar terminal Parluasan ada juga gedung bioskop tapi aku lupa namanya karena aku tidak pernah menyambanginya karena takut..................di situ banyak preman. Ha ha ha ha.

Sekitar tahun 1990an di Pematang Siantar sudah dibuka bioskop dengan format Studio 21 yang lebih keren dibanding dengan bioskop - bioskop yang kusebutkan sebelumnya. Tapi harga karcis masuknya lebih mahal. Kalau masa itu nonton matine di Bioskop RIA atau RIANG seharga Rp. 500,- ( lima raus rupiah ) nahh.....kalau mau nonton ke Studio 21 karcis masuknya di situ seharga Rp. 2.500,- ( Dua ribu lima ratus rupiah). Aku pernah nonton di Studio 21 sewaktu pemutaran fil BODYGUARD yang dimainkan oleh Whitney Housten.

Selain nonton biasanya remaja - remaja masa itu sukanya kongkow atau nongkrongnya di Taman Bunga di depan Kantor Walikota Pematang Siantar di Jalan Merdeka - P. Siantar. Setelah itu ya... paling nongkrong di Pajak Horas.

Aku masih ingat pada waktu itu kami pernah beramai - ramai jalan - jalan ke pemandian Karang sari/ Karang Anyer berjalan kaki dari Perumnas Batu VI Jalan Asahan sampai ke Karang Sari pulang pergi. Cukup jauh tapi kami tidak merasa lelah dan menikmati perjalanan kaki kami dengan bahagia dan sendau gurau.

Indahnya Masa Remaja......................